cari cari ...

Tuesday, November 30, 2010

Hati-hati Infiltrasi Islam Liberal

Musyawarah Wilayah Muhammadiyah 25-28 November 2010 didahului oleh Musyawarah Pimpinan Muhammadiyah Tingkat Wilayah awal Agustus lalu yang terdiri atas anggota Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel, wakil organisasi otonom, dan wakil dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Tulisan ini yang berupa titipan bagi formatur 13, telah saya sampaikan intinya tatkala PWM Sulsel berkunjung ke Harian FAJAR, Selasa 16 November lalu.

Walaupun Kaum Islam Liberal di tubuh Muhammadiyah menjerit, karena misi mereka gagal, yaitu mereka berharap Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang dijadikan momentum penting untuk semakin leluasa menjadikan Muhammadiyah sebagai kuda tunggangan penyebaran ide-ide liberal ke umat Islam Indonesia, namun harapan kaum liberal masih belum padam.

Merasa diri mereka tersudut, mereka masih berjuang untuk mendapatkan pengakuan, yaitu liberalisme adalah bagian yang sah dari Muhammadiyah. Bahkan, dibuat berbagai tulisan yang menggambarkan, bahwa pendiri Muhammadiyah adalah juga seorang penganut paham liberalisme.

Seperti diketahui Sukidi Mulyadi, aktivis Islam Liberal di Muhammadiyah yang menulis (maaf, saya tidak ingat lagi di mana dia menulis, hanya bagian tulisannya yang sempat saya catat), bahwa terpentalnya sayap pemikir Islam Liberal seperti Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dari formatur 13 di Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang sebagai kemenangan anti-liberalisme dalam muktamar.

Di akhir tulisannya Sukidi berharap, sebagai nakhoda baru di Muhammadiyah, Din Syamsuddin tidak akan melakukan represi terhadap paham liberalisasi Islam, yang dia katakan makin bersinar terang di bawah kepemimpinan Syafii Ma’arif, begitu tulis Sukidi yang aktivis penyebar paham Pluralisme Agama di Muhammadiyah.

Dalam buku berjudul "Pemikiran Muhammadiyah: Respons terhadap Liberalisasi Islam", (Surakarta: UMS, 2005), Din Syamsuddin yang "oppo" terpilih kembali periode 2010-2015 (meraih 1.915 suara) dalam Muktamar Ke-46 Muhammadiyah di Gedung Fachruddin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang dirangkaikan dengan peringatan satu abad organisasi Islam ini,

menyatakan bahwa Muhammadiyah tidak sejalan dengan paham ekstrem rasional yang dikembangkan Islam Liberal, meski beberapa oknum terutama di kalangan muda atau yang merasa muda ikut-ikut berkubang di jurang liberalisme Islam. Dalam buku ini Din mengkritik penjiplakan membabi buta terhadap paham rasionalisme dan liberalisme, termasuk di kalangan Muhammadiyah.

Tidak benar bahwa pendiri Muhammadiyah adalah seorang penganut paham liberalisme. Sukidi Mulyadi dkk bermain semantik untuk mengelabui pembacanya.

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Zulhijjah 1330 H/18 November 1912 oleh Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan. Beliau adalah pegawai kesultanan Keraton Yogyakarta sebagai seorang khatib dan sebagai pedagang.

Melihat keadaan umat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang murni berdasarkan Alquran dan hadis. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan di rumahnya di tengah kesibukannya sebagai khatib dan berdagang.

KHA Dahlan yang mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni berdasarkan Alquran dan hadis yang pada waktu itu sedang berkecamuk "bencana social" yang berupa keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, itulah yang dimanipulasi oleh Sukidi Mulyadi dkk dengan permainan semantik "pendiri Muhammadiyah adalah penganut paham liberalism".

Para perserta mukamar hendaknya memilih 13 orang yang "sadar lingkungan hidup", dalam penekanan lingkungan social ke dalam dan keluar secara kontekstual. Kalau pada era KHA Dahlan "bencana sosial" itu berupa keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik,

maka "bencana social" kontemporer adalah ke dalam bencana Islam Liberal dan keluar globalisasi ideologi sekuler liberal kapitalis dari barat yaitu Amerika Serikat dan ideologi komunis kapitalis dari timur yaitu Republik Rakyat China. Para peserta Muswil hendaknya hati-hati terhadap infiltrasi dari Sukidi Mulyadi dkk. fajar.co.id

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More