cari cari ...

Loading...

Wednesday, January 28, 2015

Meski Berjumlah 1,6 Miliar, Muslim Jadi Lemah Tanpa Khilafah

Meski Berjumlah 1,6 Miliar, Muslim Jadi Lemah Tanpa Khilafah. HTI Press, Palangkaraya. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Palangkaraya menyatakan leluasanya orang kafir menghina Nabi Muhammad SAW —sehingga Charlie Hebdo menerbitkan ulang kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad sebanyak 3 juta eksemplar baru baru ini— menunjukkan kelemahan kaum Muslim tanpa khilafah.

“Umat Islam yang kini berjumlah lebih dari 1,6 miliar terbukti tidak mampu menghentikan penghinaan kepada Nabi yang mulia, sehingga tindakan keji itu terjadi berulang-ulang,” ungkap Humas HTI Kalimantan Tengah Muhammad Khomeini dalam aksi Bela Nabi SAW, Sabtu (24/1) di Bundaran Kecil Kota Palangkaraya.
Oleh karena itu, Khomeini menyeru kaum Muslimin agar bersungguh sungguh berjuang menegakkan khilafah. Karena hanya khilafahlah yang akan secara nyata menghentikan semua penghinaan itu, serta melindungi kehormatan Islam dan umatnya, sebagaimana pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Perancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire, yang menghina Nabi Muhammad SAW.

“Ketegasan sang Khalifah, yang akan mengobarkan jihad melawan Inggris itulah yang akhirnya menghentikan rencana jahat itu sehingga kehormatan Nabi Muhammad tetap terjaga,” tegasnya di hadapan puluhan peserta aksi.

Peserta aksi, dari awal hingga akhir, nampak semangat dengan meneriakkan takbir dan kibaran bendera Liwa dan Roya. Mereka pun membentangkan spanduk dan mengacung acungkan poster, salah satunya bertuliskan: Khilafah akan Hentikan Penghinaan Terhadap Nabi SAW.[]M Mimie/Joy
http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/28/meski-berjumlah-16-miliar-muslim-jadi-lemah-tanpa-khilafah/

Tuesday, January 27, 2015

Perintis Islam di Inggris Dukung Khilafah dan Jihad

Perintis Islam di Inggris Dukung Khilafah dan Jihad. Siapa sangka ketika Kerajaan Kristen Inggris menganggap Islam adalah agama setan, anak seorang pendeta Gereja Metodis, William Henry Quilliam, malah masuk Islam. Lebih dari itu, ia juga menyeru secara terbuka agar orang orang Kristen meninggalkan keyakinan trinitasnya untuk masuk Islam, karena menurutnya, Islam bukanlah agama setan.

Berkat kekonsistenannya dalam berdakwah, Khalifah Sultan Abdul Hamid II pada 1894 mengangkatnya menjadi Syeikhul Islam untuk Kepulauan Inggris. Di tengah tingginya permusuhan Inggris terhadap Islam terutama menjelang Perang Dunia I, Quilliam tetap berdakwah dan menyeru kaum Muslimin untuk bersatu mendukung Khilafah Utsmani serta berjihad melawan penjajah.

Tentu saja seruan tersebut dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Ratu Inggris. Sehingga menjadi amunisi para loyalis kerajaan untuk semakin menambah sikap intoleran dan anarkis kepada diri dan para pengikutnya.

Masuk Islam
Quilliam lahir di Liverpool, Inggris pada 10 April 1856 dari keluarga kaya dan terpandang. Selain seorang pendeta Metodis, ayahnya, Robert Quilliam, adalah seorang pembuat jam. Sedangkan ibunya, Harriet Quilliam adalah seorang aktivis Gereja Metodis.

Sejak kecil, William Henry Quilliam sudah mendapatkan pendidikan yang memadai. Oleh kedua orangtuanya disekolahkan pada jurusan hukum di Liverpool Institute dan King William’s College. Pada 1878, ia memulai karirnya sebagai seorang pengacara sukses. Selain sebagai pengacara handal, ia juga dikenal sebagai sastrawan, jurnalis, editor, filantropis, pembicara dan pebisnis.

Banyak hal yang membuatnya tertarik pada Islam, salah satunya ketika dalam perjalanan dari Gibraltar menuju Maroko, Quilliam menyaksikan beberapa orang Muslim yang wudhu dan shalat di atas kapal. Quilliam sangat tersentuh dengan kekhusyuan shalat dan ketenangan wajah mereka, tak peduli kuatnya angin yang berhembus maupun goyangnya kapal diterpa gelombang. Sejak saat itulah, ia tertarik untuk mempelajari Islam lebih lanjut.

Akhirnya pada tahun 1887, bersaksi bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan mengganti namanya menjadi Abdullah Quilliam. “Salah satu alasan dia tertarik kepada Islam adalah bahwa alkohol dilarang bagi umat Islam. Selain itu, ia juga memiliki keprihatinan teologis tentang Trinitas Kristen,” tutur Ron Geaves, profesor agama dari Universitas Hope Liverpool.

Aktif Berdakwah
Setelah itu, ia aktif berdakwah kepada pribumi Inggris khususnya di Liverpool. Dua tahun setelah keislamannya, ia mendirikan Liverpool Muslim Institute (LMI), sebuah pusat kajian keislaman di Brougham Terrace No 8, West Derby Street, Liverpool. Islamic centre yang sekaligus berfungsi sebagai masjid. Sehingga tempat ini tercatat sebagai Islamic centre dan masjid pertama di Inggris. Di masjid inilah umat Muslim biasa melaksanakan shalat berjama’ah dan shalat Jum’at, yang khutbahnya disampaikan dalam bahasa Arab dan Inggris.

Abdullah juga mendirikan sekolah asrama untuk anak laki-laki dan sekolah siang untuk anak perempuan, serta panti asuhan bernama Medina Home untuk anak-anak terlantar. LMI semakin berkembang dengan menyelenggarakan pendidikan di berbagai bidang yang diikuti oleh masyarakat umum, baik Muslim dan non Muslim. Bahkan LMI kemudian membangun perguruan tinggi yang mempunyai museum dan laboratorium sendiri.

Guna menarik minat warga non-Muslim untuk mempelajari Islam, Abdullah kerap menyelenggarakan acara debat mingguan dan komunitas sastra. “Ia berhasil mengajak 200 warga lokal dan 600 orang di seluruh Inggris untuk pindah agama dan ia menghabiskan banyak waktu melakukan syiar tentang Islam dan bahwa Islam bukan agama setan,” kata Jahangir Mohammed dari Abdullah Quilliam Society —lembaga yang melestarikan peninggalan bersejarah Quilliam.

Mereka yang masuk Islam di antaranya adalah ibunda tercinta yang kemudian mengganti namanya menjadi Khadija setelah masuk Islam pada 1893. Selain itu, tercatat pula beberapa tokoh penting yang masuk Islam setelah didakwahi Quilliam, diantaranya Gubernur Staleybridge Resched Stanley dan Lord Stanley of Alderley Cheshire. Sehingga Cheshire tercatat sebagai Muslim pertama dari keluarga bangsawan (House of Lord) Inggris.

Tahun 1893, LMI menerbitkan majalah mingguan The Crescent dan tak lama kemudian majalah bulanan The Islamic World. Majalah-majalah ini dicetak sendiri oleh LMI dan didistribusikan ke lebih dari 20 negara. Abdullah juga menulis beberapa buku, salah satunya Faith of Islam yang telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa. Berkat aktifitas dakwah dan publikasi-publikasi tersebut, Quilliam semakin dikenal di berbagai negara sebagai tokoh Islam dari Inggris.

Berdasarkan prestasi dakwahnya tersebut, pada 1894, Khalifah Abdul Hamid II secara resmi mengangkatnya sebagai Syeikhul Islam untuk Kepulauan Inggris. Meskipun minoritas, Quilliam tak pernah segan menampakkan identitas keislamannya dan sering tampil mengenakan gamis dan sorban di acara resmi sekalipun. Statusnya sebagai warga Inggris tidak menghalanginya untuk menyuarakan penentangannya terhadap imperialisme dan kolonialisme.

Bahkan pada 1896, ia menyerukan fatwa haramnya seorang Muslim berpartisipasi sekecil apapun bersama Inggris untuk memerangi kaum Muslimin di Sudan.

“Saya memperingatkan setiap Mukmin sejati (True-Believer), jika memberikan bantuan sekecil apapun dalam ekspedisi yang diproyeksikan melawan kaum Muslimin di Sudan, meskipun hanya membawa bingkisan, atau memberikan segigit roti untuk makan atau minum air kepada setiap orang yang ikut ekspedisi melawan umat Islam hingga mampu membantu anjing kafir (giaour) melawan Muslim, namanya tidak layak untuk tetap ada pada daftar orang beriman (the roll of the faithful),” tegasnya seperti dipublikasikan The Crescent Vol VII, No 167, 11 Syawal 1313/25 Maret 1896.

Padahal, masa itu adalah puncak dari imperialisme dan kolonialisme Kerajaan Kristen Inggris sehingga hampir 100 juta orang Islam berada di bawah kekuasaan Ratu Victoria. Fatwa ini tentunya mengundang kemarahan para loyalis kerajaan.

Di saat Khilafah Utsmani mengalami serangan bertubi-tubi dari Inggris dan negara-negara Eropa lainnya yang berusaha menghancurkan Khilafah dengan menebar bibit-bibit nasionalisme di setiap negeri jajahannya. Quilliam menyerukan agar umat tetap bersatu dalam naungan Khilafah Utsmani serta mengingatkan umat akan bahaya dari konspirasi Kristen yang berusaha memecah belah kesatuan umat Islam.
“Muslim semua! Arsy berada di bawah standar Khalifah (bukan Ratu, red). Mari kita bersatu di sana, satu dan semua, dan sekaligus!” tegasnya seperti dilansir The Crescent, Vol VII No 171, 7 Dzulqa’dah 1313/22 April 1896.

Karena sikap tegas ini, Quilliam dan LMI seringkali menjadi target anarkisme. Para jamaah masjid sering dilempari dengan batu, lumpur, bola salju dan sayuran busuk. Petasan dilempar ke dalam masjid dan pecahan gelas disebar di karpet untuk melukai jamaah yang shalat. Bahkan Quilliam pernah diancam untuk dibakar hidup-hidup.

Hingga puncaknya pada 1908, LMI dan media massa yang terbitkannya pun ditutup paksa. Quilliam dan para pengikutnya diusir ke Istambul, ibukota Khilafah Utsmani.

Namun, pada 1914, beberapa saat sebelum berkecamuknya Perang Dunia I, ia kembali ke Inggris tepatnya ke Woking dengan nama samaran Profesor Hendri Marcel Leon. Pada 28 April 1932 wafat di London dan dimakamkan di Pemakaman Brookwood, dekat Woking dengan nama Haroun Musthapa di batu nisannya.
Baru saja beberapa bulan di Woking, tepatnya pada Desember 1914, ia dapat mendirikan British Muslim Society (BMS) di Masjid Shah Jehan. Melalui BMS pula, ia kembali berdakwah secara terorganisir. Subhanallah! [] joko prasetyo http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/09/perintis-islam-di-inggris-dukung-khilafah-dan-jihad/

Cara Khilafah Menjaga Kekayaan Negara Dari Tangan Asing

Cara Khilafah Menjaga Kekayaan Negara Dari Tangan Asing. Oleh: Hafidz Abdurrahman

Khilafah Negara Ideologis
Negara Khilafah adalah negara ideologis. Negara yang dibangun berdasarkan ideologi. Keberadaannya untuk menerapkan, menjaga, dan menyebarkan ideologinya ke seluruh dunia. Itulah negara Khilafah. Ideologinya adalah Islam.

Sebagai ideologi, Islam bukan hanya berisi akidah, tetapi juga sistem kehidupan. Islam tidak saja menggariskan konsep (pemikiran), seperti akidah dan solusi atas berbagai problematika kehidupan, tetapi juga menggariskan metode yang khas dan unik. Metode untuk menerapkan, menjaga dan mengemban ideologi tersebut ke seluruh dunia.

Dengan ideologi Islam yang sempurna, didukung dengan sumber daya manusia yang mumpuni, baik di bidang politik, intelektual, ijtihad dan leadership, maka Khilafah akan menjadi negara adidaya baru, menggantikan Amerika, Uni Eropa, Inggris, dan Rusia. Dengan modal yang sama, didukung dengan wilayah yang terbentang luas, meliputi 2/3 dunia, dan jumlah demografi yang sangat besar, yaitu 1,5 milyar jiwa, maka Khilafah bisa mandiri, tidak bergantung kepada negara-negara tersebut.

Dengan potensi tersebut, tentu negara-negara kafir penjajah tidak akan membiarkan Khilafah mewujudkan misinya. Mereka pasti akan berusaha mati-matian mempertahankan cengkraman, paling tidak kepentingan mereka, di negeri kaum Muslim. Karena mereka sangat bergantung kepada dunia Islam, baik dari segi supplay energi, bahan mentah, sampai pasar. Namun, dengan ideologinya, dan kualitas sumber daya manusianya, Khilafah sanggup melepaskan diri dari setiap strategi yang mereka rancang.

Kekayaan Umat Islam
Negara Khilafah, sebagai satu-satunya negara kaum Muslim di seluruh dunia, akan menjaga agama, darah, harta, jiwa, akal, kehormatan, keturunan, negara, termasuk setiap jengkal wilayahnya. Karena itu, tak ada satupun pelanggaran yang dilakukan terhadap agama, darah, harta, jiwa, akal, kehormatan, keturunan, negara, termasuk wilayah, kecuali pasti akan ditindak oleh Khilafah.

Khusus terkait dengan kekayaan kaum Muslim, bisa dipilah menjadi tiga kategori. Pertama, kekayaan milik pribadi. Kedua, kekayaan milik umum. Ketiga, kekayaan milik negara. Seluruh kekayaan ini akan dijaga oleh negara, dan apapun bentuk pelanggaran terhadap kekayaan ini tidak akan dibiarkan.

Cara Khilafah menjaga kekayaan ini adalah dengan menerapkan sistem Islam, bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga yang lain. Di bidang ekonomi, Islam menetapkan, bahwa hukum asal kekayaan adalah milik Allah, yang dikuasakan kepada manusia. Manusia mendapatkan kuasa, dengan cara menerapkan hukum-Nya. Dari sana, lahir hukum tentang kepemilikan. Karena itu, kepemilikan didefinisikan sebagai “izin pembuat syariat (Allah)”.

Dengan izin pembuat syariat, seseorang bisa memiliki kekayaan, baik secara pribadi, bersama-sama, maupun melalui perantara negara, jika terkait dengan kekayaan milik negara. Dengan cara seperti itu, maka seluruh kekayaan kaum Muslim tidak akan bisa dimiliki oleh siapapun, kecuali dengan izin pembuat syariat.

Dengan cara yang sama, kekayaan milik pribadi tidak akan bisa dinasionalisasi, kecuali dengan izin pembuat syariat. Begitu juga, kekayaan milik umum tidak akan bisa diprivatisasi, karena tidak adanya izin dari pembuat syariat. Begitu pula, kekayaan milik negara bisa diberikan kepada individu juga karena adanya izin dari pembuat syariat, yang diberikan kepada Khalifah, melalui mekanisme iqtha’, dan lain-lain.

Cara Menjaga dan Mengembalikan
Selain mekanisme syariah di atas, Khilafah juga akan melakukan edukasi kepada rakyatnya tentang nilai kekayaan mereka, serta menerapkan sanksi yang tegas bagi siapa saja yang melanggar ketentuan syariah dalam hal kepemilikan, pengelolaan dan pendistribusian kekayaannya. Edukasi bisa dilakukan, termasuk dengan mengangkat wali (pengurus) khusus bagi siapa saja yang mempunyai harta, namun tidak bisa mengelola dan mendistribusikannya dengan benar. Setiap orang satu wali. Mereka akan dibayar oleh negara.
Kebijakan satu orang satu wali ini berlaku untuk: (1) Orang-orang yang termasuk dalam kategori safih (bodoh/lemah akal). Di dalamnya termasuk orang idiot, tidak waras, termasuk anak yang belum sempurna akalnya. (2) Orang-orang yang dianggap muflis (bangkrut), di mana utangnya lebih besar ketimbang asetnya. Dengan kebijakan satu orang satu wali, maka seluruh tindakan mereka bisa diurus dengan baik. Harta mereka terjaga, tidak dihambur-hamburkan, termasuk berpindah tangan kepada orang yang tidak berhak.

Ini terkait dengan kekayaan milik individu. Karena kekayaan ini pengelolaan dan distribusinya kembali kepada individu. Sedangkan kekayaan milik umum dan negara, pengelolaan dan distribusinya kembali kepada negara. Negaralah satu-satunya yang berhak untuk mengelola dan mendistribusikannya sesuai dengan kebijakan yang dianggap tepat. Namun, dalam hal ini, negara tidak boleh melanggar ketentuan syariah. Seperti melakukan privatisasi kekayaan milik umum kepada individu, baik domestik maupun asing.
Untuk menjaga kekayaan ini tugas dan fungsi penguasa, yang mempunyai otoritas sebagai pembuat kebijakan, sangat vital. Karena itu, mereka disyaratkan harus Muslim, adil (tidak fasik), laki-laki, baligh, berakal, merdeka dan mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penguasa. Karena ini akan menjadi jaminan dasar bagi penguasa dalam mengambil kebijakan.

Tidak hanya itu, Khilafah juga mempunyai sistem yang sempurna untuk menjaga kekayaannya. Tidak hanya bertumpu pada jaminan penguasanya, tetapi juga kepada yang lain. Ketika kebijakan penguasa dalam mengelola dan mendistribusikan kekayaan milik umum dan negara tersebut menyimpang, maka umat, baik langsung maupun melalui Majelis Umat, bisa mengoreksi tindakan penguasa. Bisa juga melalui partai politik Islam yang ada.

Jika kebijakan di atas tidak diindahkan oleh penguasa, maka kasus ini bisa diajukan kepada Mahkamah Madzalim. Mahkamah Madzalim bisa membatalkan kebijakan penguasa yang menyimpang tersebut, dan mengembalikannya. Jika kekayaan ini dimiliki oleh individu, korporasi atau negara lain, maka penguasaan atas kekayaan tersebut harus dibatalkan oleh Mahkamah Madzalim, lalu dikembalikan kepada pemiliknya. Jika milik individu, dikembalikan kepada individu. Jika milik umum, dikembalikan kepada milik umum. Jika milik negara, dikembalikan kepada negara.

Termasuk Khilafah akan menutup rapat-rapat pintu investasi asing dan utang luar negeri yang bisa berdampak pada penguasaan kekayaan milik umum dan negara oleh pihak asing. Investasi asing ini selama ini bisa dilakukan langsung, G to G (government to government), P to P (people to people), maupun melalui Bursa Efek. Semuanya harus ditutup. Untuk itu, diberlakukan kebijakan hubungan dengan pihak asing harus melalui satu pintu, yaitu Departemen Luar Negeri.

Demikian juga dengan utang luar negeri. Utang ini selama ini dibalut dengan berbagai istilah, seperti hibah, donor dan pinjaman. Intinya sama, yaitu utang. Kebijakan utang luar negeri ini seolah sudah menjadi kewajiban, karena rezim APBN yang digunakan meniscayakan itu. Karenanya, harus dirombak, mulai dari sistem penyusunan APBN-nya. Dengan begitu, semua celah utang ini bisa ditutup rapat-rapat, kecuali dalam satu kondisi, darurat.

Dengan ditutupnya seluruh pintu yang bisa berdampak pada mengalirnya kekayaan Khilafah keluar tadi, maka kekayaan umat ini akan terjaga. Dan dengan kebijakan sebelumnya, apa yang ada di tangan asing pun bisa dikembalikan. http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/10/cara-khilafah-menjaga-kekayaan-negara-dari-tangan-asing/

MHTI Aceh : Rezim Neolib Menghinakan Kaum Ibu, Khilafah Solusinya

MHTI Aceh : Rezim Neolib Menghinakan Kaum Ibu, Khilafah Solusinya HTI Press. Banda Aceh, 23 Desember 2014 – Ketua Lajnah Fa’aliyah Muslimah Hizbut Tahrir Aceh, Ustadzah Ritha Satelinawati menghadiri talkshow Haba Ureueng Inoeng yang disiarkan oleh Aceh TV. Acara yang dipandu Leni tersebut pun menghadirkan Ela, seorang Ibu enam anak sekaligus dosen Universitas Serambi Mekkah. Bertema “Posisi Ibu dalam Kemuliaan”, moderator mengupas realita  kaum Ibu kekinian dan mendiskusikannya dengan pandangan Islam.

Ritha menyatakan, “Ketika sistem Islam tidak diterapkan dalam kehidupan, gempuran dari kondisi yang ada membuat kaum Ibu tidak sesuai dengan maunya Allah. Ia keluar dari fitrahnya sebagai Ibu pencetak generasi gemilang dan pengurus rumah tangga. Posisi mulia ini dihancurkan oleh sistem negara yang neolib saat perempuan diberdayakan untuk mencari rupiah. Pangkal persoalan ini adalah demokrasi dengan sekulerismenya, dan solusinya ada didalam Khilafah yang telah terbukti memuliakan kaum Ibu dan mencetak generasi gemilang.” Pungkas Ritha.

Dalam kesempatan itu, Ritha juga menghimbau kaum muslimah untuk kembali kepada fitrahnya sebagai Ibu dan pengurus rumah tangga, terus mengkaji Islam dan memperjuangkannya, “Kalau belum paham dengan Islam, maka belajarlah. Sampai mati!” Tegasnya. Ia melanjutkan bahwa Hizbut Tahrir siap menjadi wadah tempat mengkaji Islam dan menjadi kendaraan perjuangan menuju Islam kaffah dalam Khilafah. Ritha pun mengakhiri pemaparannya dengan mengajak seluruh muslimah menyambut seruan perjuangan ini agar kemuliaan yang menjadi fitrah kaum Ibu dan generasi gemilang dapat terwujud.

Acara yang berlangsung sekitar enam puluh menit itu berakhir dengan kontemplasi bahwa kaum Ibu tidak boleh melupakan fitrahnya, namun juga menorehkan kontribusi nyata dalam aktivitas mengkaji Islam dan memperjuangkannya.[]UF http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/20/mhti-aceh-rezim-neolib-menghinakan-kaum-ibu-khilafah-solusinya/

Khilafah Mengatur Tata Ruang Wilayah

Khilafah Mengatur Tata Ruang Wilayah. HTI Press. Yogyakarta, 21 Desember 2014. Di penghujung tahun 2014, sepertinya nasib umat belum juga akan membaik. Kenaikan harga BBM, bencana tanah longsor di Banjarnegara, serta angin puting beliung di Bandung, seolah susul-menyusul. Prihatin atas kondisi umat, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II HTI Kabupaten Bantul menggelar  acara “Silaturahmi MHTI”.

Bertempat di Masjid Al Hamda,Pepe Bantul. Acara yang rutin digelar setiap bulan sekali ini dikemas dalam bentuk tanya jawab seputar problematika umat, menghadirkan narasumber Ustadzah Titin Erliyanti S.Pd.
Peserta sangat antusias mengikuti acara tersebut. Salah satu peserta bertanya tentang bencana  tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara, apakah bencana tersebut merupakan peringatan dari Allah ? Ustdzh Titin Erliyanti menjelaskan bahwa bencana alam merupakan qodho’ (ketetapan dari  Allah), manusia tidak bisa menghindarinya lagi. Walaupun merupakan qodho’ dari Allah, manusia juga punya andil sebagai penyebab longsornya tanah.

Keserakahan manusia dalam mengelola alam menjadi penyebab bencana alam, tata ruang wilayah yang tidak baik turut andil pula di dalamnya. Dalam tata ruang ini harusnya pemerintah  tidak memberikan izin suatu lahan dijadikan sebagai tempat pemukiman,jika wilayah tersebut berbahaya. Ini berbeda dengan sistem Khilafah Islamiyyah yang para penguasanya akan sangat memperhatikan bagaimana tata  ruang wilayah. Sehingga jika terdapat wilayah yang tidak layak dijadikan lahan pemukiman maka masyarakat dilarang mendirikan pemukiman. Dari segi pengelolaan sumberdaya alam, khilafah akan mengelola dengan baik untuk kemaslahatan umat. Maka hanya dengan penerapan syariat Islamlah yang bisa memberikan jaminan  keamanan dan kesejahteraan.

http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/21/khilafah-mengatur-tata-ruang-wilayah/

Keempat Imam Mazhab Sepakat Kewajiban Tegaknya Khilafah

Keempat Imam Mazhab Sepakat Kewajiban Tegaknya Khilafah. HTI Press, Makassar- Menjawab penolakan Khilafah dalam buku Kontroversi Khilafah, Anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia, Shidiq al-Jawi menilai buku ini dibuat oleh mereka yang menolak Khilafah. Padahal keempat Ulama mazhab sepakat kewajiban tegaknya Khilafah.

“Padahal sudah jelas, keempat Imam mazhab sepakat kewajiban tegaknya Khilafah,” ujarnya dalam bedah buku Kontroversi Khilafah, Selasa (20/1) di Graha Pena lt 4 Makassar.

Dosen STEI Hamfara Yogyakarta ini pun menambahkan sistem sekuler mengabaikan penerapan hukum Allah dan yang dijalankan adalah hukum sekuler buatan manusia. “Dalam sistem sekuler yang diterapkan hukum sekuler bukan hukum Islam,” tuturnya.

Sedangkan, Syahrir Nuhung, Ulama Sulsel menyebutkan barang siapa yang melepaskan ketaatan maka dia akan mendapati Allah tanpa hujjah, dan barang siapa yang meninggal tanpa ada bai’at di pundaknya maka matinya mati jahiliah, menyimpulkan bahwa kehadiran seorang Khalifah adalah wajib karena ketika rasul tiada, maka Khalifah lah tempat berbai’at.

“Jika kita melihat sejarah, mereka (para khalifah,red) terpilih bukan karena mereka orang Quraisy tapi karena mereka memang memiliki kapabilitas untuk menjadi seorang Khalifah.” kutipnya.

Syahrir juga mengatakan, ketaatan kepada ulil amri tidak mutlak, kecuali ketaatan tersebut disandarkan kepada Allah dan Rasul. Tidak ada sesuatu yang final di dunia ini kecuali yang datangnya dari Allah SWT.
“Jika saat ini tidak ada khalifah maka kita wajib untuk mengadakan Khalifah, dan jika kita telah berupaya untuk mewujudkan itu maka sudah hilang kewajiban dari diri kita kecuali kita tidak berupaya dan bahkan menolak.”pungkasnya.[] rifai/iton/fm/ MI HTI Sulsel

Khilafah Mengurusi Urusan Umat

Khilafah Mengurusi Urusan Umat HTI Press. Palembang, Sabtu 11 Januari 2015. Bertempat di Masjid Al-Hikmah Paembang, sekitar 70 peserta mengikuti Daurah Dirosah Islamiyyah yang diadakan oleh Muslimah HTI Palembang Utara. Tema yang diusung dalam dauroh ini adalah “Khilafah: Pengatur dan Pelindung Umat” dengan narasumber Ustadzah. Eti Sudarti Adilah, S.P. (Ketua DPD II Muslimah HTI Palembang).

Dalam pemaparannya Esti mengatakan bahwa Khilafah memiliki fungsi dua hal: 1. Sebagai Ra’in yaitu sebagai pengatur, yang mengatur dan memenuhi segala kebutuhan umat mulai dari hal besar hingga hal yang terkecil (detail). Contoh kecilnya adalah mengurusi KTP dimana langsung diurus oleh negara tidak diserahkan ke pihak asing (swasta) yang terjadi pada saat ini, ujarnya. Kedua, sebagai Junnah (pelindung) sebagaimana Sabda Rasulullah “Pemimpin (Khilafah) adalah pelindung umatnya” bagaikan seorang pengembala yang akan dimintai pertanggung jawaban atas gembalaannya.

Bahkan dalam hal aqidah menjadi kewajiban negara untuk memastikan umatnya bahwa aqidah mereka tetap terjaga, tegasnya. Dauroh ini tidak hanya diisi dengan pemaparan materi tetapi juga diisi oleh aksi teatrikal dari tim teatrika Muslimah HTI Palembang Utara yang menggambarkan kondisi perempuan saat ini yang menderita akibat kapitalisme. Terlebih lagi mereka dipaksa untuk menghilangkan fitrah-Ibu dan Manajer rumah tangga-nya, bahkan sebagian dari para peserta menitikan air mata saat teatrikal berlangsung.

http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/22/khilafah-mengurusi-urusan-umat/

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More