cari cari ...

Loading...

Monday, January 7, 2013

2013: Khilafah Segera Tegak

2013: Khilafah Segera Tegak Tahun 2012 telah berlalu. Berbagai masalah yang multikompleks masih mendera umat. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dengan pemikiran yang cemerlang, berhasil memberikan jawaban mengapa tragedi demi tragedi masih terjadi pada umat Islam. Dalam kitab Nida‘ Har Syaikh Taqiyuddin menjelaskan, “Sesungguhnya umat Islam telah mengalami tragedi karena dua musibah. Pertama: penguasa mereka menjadi antek-antek kafir penjajah. Kedua: di tengah mereka diterapkan hukum yang tidak diturunkan oleh Allah, yaitu diterapkan sistem kufur.” Tidak hanya merumuskan penyebabnya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga memberikan solusi dari semua persoalan umat Islam sekarang ini dengan menerapkan syariah Islam secara total melalui thariqah negara (Ad-Dawlah al-Khilafah).

Sebab, hanya dengan menegakkan Khilafahlah, dua musibah tersebut bisa dihilangkan. Sistem Khilafah tentu akan memberangus seluruh sistem kufur yang ada sekaligus akan melahirkan penguasa (Khalifah) yang hanya tunduk kepada Allah SWT serta bekerja untuk kepentingan Islam dan umat Islam. Alhamdulillah, kesadaran umat untuk kembali pada Khilafah yang terus-menerus diserukan oleh Hizbut Tahrir—partai ideologis yang didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani—semakin meningkat dan meluas di seluruh dunia. Di Indonesia, yang secara historis sebenarnya tidak asing dengan Khilafah, seruan Khilafah semakin menggema. Kesadaran umat ini tentu menjadi modal yang utama dan sangat vital dalam proses perubahan.

Kesadaran inilah yang akan mendorong umat untuk melakukan mobilitas politik massif demi menuntut sistem Khilafah. Kesadaran umat ini akan menjadi sempurna ketika terdapat dukungan dari ahlul quwwah, pihak-pihak yang memiliki kekuatan nyata seperti militer. Dengan dukungan dari ahlul quwwah yang diperkuat dengan kesadaran masyarakat, tegaknya Khilafah tidak akan bisa dibendung lagi. Sebab, kesadaran umat dan dukungan ahlul quwwah menjadi kunci perubahan. Kita tentu wajib optimis bahwa Khilafah akan kembali tegak di Dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Alasannya: Pertama, perjuangan menegakkan Khilafah adalah perjuangan yang didasarkan pada keimanan (akidah Islam) dan kewajiban menjalankan seluruh syariah Islam untuk mengharapkan ridha Allah SWT. Inilah modal yang paling penting dalam perjuangan ini. Dasar akidah dan syariah ini memberikan kekuatan yang luar biasa dalam perjuangan, sekaligus membantah pandangan Khilafah adalah utopis. Mustahil Allah SWT mewajibkan penegakan Khilafah Islam, kalau kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan oleh kita. Kedua, kita optimis bahwa Khilafah akan tegak, umat Islam akan kembali menang, karena sudah merupakan janji Allah SWT dan Rasul-Nya (Lihat: QS an-Nur [24] ayat 55.

Rasulullah saw. dalam banyak hadis juga menjanjikan hal yang sama: kemenangan kepada umat Islam dan akan kembalinya Khilafah Islam. Di antaranya hadis riwayat Imam Ahmad yang menjelaskan fase perjalanan umat Islam mulai dari masa nubuwah, khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah, mulkan ‘adhdhan, mulkan jabriyan, dan kemudian kembalinya masa Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Semua ini tentu lebih dari cukup memberikan optimisme bagi kita dalam perjuangan. Siapa yang meragukan janji Allah SWT dan Rasul-Nya? Ketiga, kita optimis karena adanya kelompok yang ikhlas berjuang karena Allah semata, yang beriman pada janji Allah dan membenarkan berita gembira Rasulullah saw. serta berjuang siang-malam tanpa gentar karena Allah terhadap celaan orang yang suka mencela kebenaran. Dalam hal ini, Hizbut Tahrir merupakan kelompok yang dengan serius dan bersungguh-sungguh memperjuangkan kembalinya Khilafah Islam. Berbagai tantangan dan ancaman pun dihadapi oleh Hizbut Tahrir sebagai kelompok ideologis; mulai dari celaan, tuduhan, fitnah, boikot ekonomi, siksaan fisik di penjara-penjara penguasa yang zalim sampai pembunuhan. Semua itu tidak membuat para syabab Hizbut Tahrir gentar, takut, atau menghentikan perjuangannya. Para penguasa zalim yang menjadi antek penjajah dan menyiksa rakyatnya sendiri mengira dengan kekuasaannya mereka bisa menghentikan Hizbut Tahrir. Atas kehendak Allah SWT, para penguasa zalim yang menyiksa dan membunuh syabab Hizbut Tahrir selama ini justru bertumbangan satu demi satu seperti Zainal Abidin bin Ali (Tunisia), Khadafi (Libya), Husni Mubarak (Mesir).

Menyusul berikutnya adalah penjagal dari Uzbekistan Karimov, penguasa kejam rezim Assad di Suriah, para penguasa Arab lainya hingga penguasa Pakistan seperti Zardari dan Gillani yang menjadi boneka Amerika. Keempat, optimisme ini juga didukung dengan semakin menguatnya kesadaran umat untuk berjuang bersama-sama menegakkan Khilafah. Semua ini merupakan hasil dari dakwah yang tak kenal lelah, bukan hasil dari berdiam diri. Apa yang terjadi di Suriah mencerminkan kondisi ini.

Para Mujahidin bergandengan tangan, bersatu membulatkan tekad untuk menumbangkan rezim Bashar Assad dan mengembalikan Khilafah Islamiyah di Suriah. Mereka juga bertekad menolak tawaran sistem demokrasi dan campur tangan Amerika melalui koalisi oposisi Suriah yang berada dalam kendali Amerika. Semua ini tidak bisa dilepaskan dari peran syabab Hizbut Tahrir di sana, bersama kelompok umat Islam lainnya. Kesadaran yang sama akan meluas di berbagai kawasan Timur Tengah.

Upaya Amerika yang berupaya membajak pergolakan rakyat dalam Arab Spring tidak berjalan mulus. Tawaran demokrasi yang berbalut Islam mengarah pada kegagalan. Meskipun negara imperialis itu memanfaatkan agen-agen Amerika yang menampakkan ‘topeng’ Islam dan memiliki latar belakang gerakan Islam. Rakyat Tunisia dan Mesir, misalnya, mulai kehilangan kesabaran. Pasca reformasi, kemiskinan dan pengangguran di tengah rakyat masih tinggi. Insya Allah, Dunia Islam akan segera memasuki era Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah dalam waktu dekat ini.

Umat pada saatnya akan dengan tegas menolak demokrasi, pluralisme, liberalisme dan ide-ide sesat lainnya yang merupakan ideologi penjajah, apapaun kemasannya. Akan tiba saatnya umat tidak memiliki pilihan lain saat itu kecuali mendukung tegaknya syariah dan Khilafah dengan memberikan kepercayaan mereka sepenuhnya kepada kelompok dakwah yang dengan serius selama ini memperjuangkannya. Saat itulah tegaknya Khilafah sudah di depan mata. Lalu ‘istilam al-hukmi’ (transformasi kekuasaan) menuju Khilafah akan terjadi ketika ahlul quwwah memberikan dukungan penuh yang didasarkan pada keimanan.

Insya Allah akan terjadi dalam waktu dekat ini. Tentu, semua itu tidak terjadi dengan sendirinya kalau tidak ada yang memperjuangkannya. Karena itu, tidak boleh ada yang diam atau sekadar menjadi penonton. Yang diminta dari kita adalah kesungguhan dalam perjuangan tanpa mengenal lelah yang diperkuat oleh kesabaran dan keikhlasan. Kedekatan para pejuangan kepada Allah SWT juga menjadi kunci pertolongan Allah SWT. [Farid Wadjdi]

Sunday, December 2, 2012

Piagam Aksi Pendirian Khilafah di Suriah

Dalam piagam ini, ada dua point: 1. Mendirikan khilafah dan menolak model pemerintahan sipil ala demokrasi dan 2. Mengadopsi konstitusi HT sebagai konstitusi negara.
 
Many brigades in Syria have signed a statement pledging to establish Khilafah in Syria and to adopt Hizb ut-Tahrir's constitution. Here are the points they have signed:

1. Establish khilafah and reject the civil democratic state proposal
2- Adopt Hizb ut-Tahrir's constitution as the constitution of the Islamic state.

Source: http://www.alokab.com/forum/index.php?showtopic=4326


ميثاق العمل لإقامة الخلافة الإسلامية في سوريا

بسم الله الرحمن الرحيم

(وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون)

نحن الموقعون أدناه..

إيماناً منّا بوجوب العمل لتطبيق الشريعة الإسلامية، واستئناف الحياة الإسلامية، وتحقيق بشارة رسول الله محمد صلى الله عليه وسلم: " .. ثم تكون خلافة على منهاج النبوة" .. وطلباً منا لنيل رضوان الله تعالى..

نعلن ما يلي:

أولاً: نعاهد الله تبارك وتعالى على العمل لإسقاط مشروع الدولة المدنية الديمقراطية في سوريا، وإقامة دولة الخلافة الإسلامية القائمة على الأسس التالية:
1- السيادة للشرع. فمواد الدستور والقوانين النافذة هي أحكام شرعية مستنبطة من أدلتها التفصيليّة.
2- السلطان للأمة. فالمسلمون يختارون الخليفة، ويبايعونه على الحكم بكتاب الله وسنة رسورله.
3-نصب خليفة واحد فرضٌ على المسلمين.. فيحرم شرعاً وجود أكثر من خليفة في آن واحد.
4- للخليفة حق تبني ما يراه من الأحكام الشرعية الاجتهادية، يسنها موادّ في الدستور وقوانين.

ونعاهد الله عز وجل على نصرة بعضنا بعضا على الحق بما نستطيع.

ثانياً: نتبنى مشروع الدستور المقترح من قبل حزب التحرير والملحق بهذا الميثاق دستوراً لهذه الدولة، مع قابلية تعديله وفق اجتهادات شرعيّة سليمة، مقترحة من قِبَل أهل العلم.


والله على مانقول شهيد.

بتاريخ  15/11/2012

Tuesday, November 20, 2012

Mujahidin Suriah inginkan Khilafah



 


Dalam sebuah video yang diposting di internet hari Senin, juru bicara para mujahidin mengatakan: “Kami, pasukan tempur kota dan propinsi Aleppo, dengan suara bulat menolak proyek konspirasi yang disebut sebagai Koalisi Nasional dan mengumumkan kesepakatan kami untuk mendirikan sebuah Negara Islam” di Suriah, kata juru bicaranya dengan mengumumkan di video itu.


“Kami menolak setiap koalisi eksternal atau dewan-dewan apapun yang dipaksakan kepada kami di negeri kami dari pihak manapun juga,” katanya.

Dalam video tersebut pembicara duduk di tengah meja rapat yang panjang bersama setidaknya 30 orang lain dan bendera Islam hitam di dinding belakangnya.

Terdapat 14 kelompok pejuang ikhlas sebagai penandatangan pernyataan itu, termasuk Ahrar al-Sham dan Liwa al-Tauhid.Setelah pernyataan itu, seorang mujahidin  mengangkat salinan Alquran, dengan mengatakan ke depan kamera bahwa Qur’an harus menjadi “Konstitusi Anda”. “Allahu Akbar,” takbir kelompok secara itu serempak.

ya Allah kami memohon pertolonganMu untuk tegaknya agamaMu.

Sunday, November 4, 2012

Permainan Amerika Dalam Revolusi Suriah

Analisis: Permainan Amerika Dalam Revolusi Suriah


Inilah revolusi yang sangat mengkhawatirkan Amerika Serikat dan Sekutu Baratnya: Revolusi Syam. Kekhawatiran terutama muncul karena  hingga saat ini Amerika belum menemukan pengganti yang pas dari Bashar Assad dan rezimnya. Berbeda dengan Arab Spring di kawasan lain, Amerika relatif lebih mudah mencari pengganti kompradornya sehingga kepentingan penjajahannya di kawasan itu menjadi relatif lebih terjaga dan aman.
Padahal melalui penguasa baru yang menjadi komprador Amerika ini berbagai kebijakan Amerika untuk membajak perubahan hingga sejalan dengan kepentingan Amerika bisa direalisasikan.  Visi perubahan Amerika untuk Arab Spring—berupa sekularisme berbalut Islam—dengan mengiring perubahan ke arah demokratisasi (negara demokrasi sekuler) bisa diwujudkan.
Konsep-konsep seperti dawlah madaniyah (negara madani) dan al-Islam al-Mu’tadil (Islam moderat) menjaga jargon-jargon baru untuk menutupi ide pokok yang sebenarnya, yaitu Kapitalisme dengan asas sekularismenya. Visi ini juga cukup sukses, paling tidak hingga saat ini, dalam menyesatkan sebagian umat Islam yang tidak sadar yang menganggap ide-ide demokrasi dan sekular itu sejalan dengan Islam. Apalagi dalam rangka memperkuat visi sekularisme berbalut Islam ini Amerika menggunakan kelompok-kelompok Islam atau tokoh-tokoh Islam.
Di Tunisia, Amerika dan negara sekutu Baratnya  bisa tetap mengontrol perubahan melalui militer Tunisia yang masih menunjukkan loyalitasnya kepada Barat. Menguasai militer tentu sangat penting  sebagai  robot penjaga dan mesin pemukul dan siapapun yang berseberangan dengan Amerika atau mengancam kepentingan mereka.
Amerika pun bisa bernapas lebih lega karena visi demokratisasi yang dia tawarkan berjalan mulus. Kekuatan-kekuatan politik di negeri itu memilih membangun Tunisia yang demokratis dan sekular namun berbalut baju Islam. Amerika dan sekutunya juga berhasil memanfaatkan keberadaan kelompok Islam seperti an-Nahdhah sebagai pemain utamanya. Kelompok ini pun sibuk berkampanye dan membela diri untuk menunjukkan bahwa mereka bukan kelompok Islam fundamentalis, puritan. Secara terbuka mereka juga bukan menolak dikatakan memperjuangkan syariah Islam, apalagi Khilafah. Semua ini mereka lakukakan untuk mendapatkan kepercayaan dari Amerika dan sekutu Baratnya sebagai pemain politik baru.
An-Nahdhah, yang muncul sebagai partai terbesar dalam Pemilu demokratis pertama di Tunisia, telah menyatakan pihaknya akan terus menjaga pasal pertama Konstitusi 1956 dalam hukum konstitusi baru yang sedang dirancang. Ayat ini mengabadikan pemisahan agama dan negara, saat dinyatakan bahwa: Tunisia adalah negara yang merdeka dan berdaulat, agama adalah Islam, bahasanya adalah bahasa Arab dan merupakan sebuah republik.
“Kami tidak akan menggunakan hukum untuk memaksakan agama,” kata pemimpin an-Nahdhah,  Rachid Ghannouchi, kepada wartawan setelah komite konstituen partai memilih mempertahankan ayat konstitusi.
Dia menambahkan, ”Ayat tersebut merupakan obyek konsensus di antara semua elemen masyarakat yang melestarikan identitas Tunisia sebagai negara Arab-Muslim serta menjamin prinsip-prinsip negara demokratis dan sekuler.”
Hal yang lebih kurang sama juga terjadi di  Mesir. Hingga saat ini Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) yang dipenuhi oleh para jenderal warisan Mubarak masih berkuasa penuh mengontrol Mesir. Untuk mengokohkan kedudukannya Dewan Militer ini membubarkan Parlemen Mesir dan mengarahkan Dewan Konstituante yang akan membuat UU baru Mesir untuk tetap menjadikan Mesir sebagai negara sekular bukan Negara Islam. Dewan Militer ini juga masih memberikan loyalitasnya kepada Amerika dan sekutunya.
Visi perubahan Amerika—sekularisme  berbalut Islam—dengan pas bisa diwujudkan oleh partai  yang berasal dari gerakan Islam Ikhwanul Muslimun. Presiden Mursi dengan sigap menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang pluralis. Untuk memperkuat citra itu, partai ini pun menolak mentah-mentah hendak menjadikan Mesir menjadi Negara Islam yang akan menerapkan syariah Islam secara sempurna. Mesir tetap menjalin hubungan diplomatik dengan entitas penjajah Zionis Israel dan mempertahankan perjanjian damai  Camp David.
Kerjasama dengan IMF dan Bank Dunia yang merupakan organ penjajahan ekonomi Kapitalisme pun tetap berjalan. Untuk menyelesaikan persoalan ekonomi Mesir, Mursi  memilih untuk meminjam dana dari IMF. Padahal semua tahu, meminta bantuan dari IMF bukan saja akan menghancurkan ekonomi negara, tetapi juga merupakan jebakan politik yang mematikan. Apalagi pinjaman itu mengandung riba yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam. IMF secara resmi memberikan pinjaman 4,9 miliar dolar. Perdana Menteri Mesir Hesham Qandil  menyatakan pinjaman ini harus dibayar dalam waktu 5 tahun dengan suku bunga 1,1 persen.
Di Libya, Amerika mendapatkan jaminan—meskipun tidak sempurna—terhadap kepentingannya melalui Dewan Transisi Nasional Libya (NTC). Dewan ini secara umum bisa dikontrol oleh ‘orang-orangnya’ Amerika, meskipun terdapat juga kelompok Islam di dalamnya.
Amerika dan sekutu Baratnya pun menjadi lebih lega karena dalam Pemilu pertama Libya pasca tumbangnya Khadafi partai nasionalis menang. Aliansi Kekuatan Nasional (NFA) yang dipimpin mantan Perdana Menteri sementara Mahmoud Jibril mendapatkan 39 dari 80 kursi Majelis Nasional Libya yang disediakan untuk partai politik.
Namun, berbeda dengan Mesir, Libya tidak memiliki tentara yang sepenuhnya mapan. Pasca jatuhnya Gaddafi dan rezimnya, Libya tidak memiliki otoritas politik terpusat. Kekuatan tetap di tangan milisi bersenjata, dan tidak satu pun dari mereka yang cukup kuat untuk mulai bertindak sebagai kekuatan militer nasional. Libya masih dikendalikan oleh jaringan milisi bersenjata. Banyak di antara mereka mewakili suku-suku yang kuat. Untuk lebih mengamankan kedudukannya saat ini, agenda Amerika berusaha membentuk militer nasional Libya yang terpusat namun dikendalikan oleh pemimpin yang sekular.
Terbunuhnya Dubes AS Christopher Stevens dan tiga staf Konsulat Jenderal AS di Benghazi dalam aksi pembelaan terhadap Rasulullah saw., digunakan oleh Amerika melalui kaki-tangannya untuk menghabisi milisi-milisi bersenjata yang berideologi Islam. Koran New York Times edisi Senin (15/10) melaporkan pemerintahan Barrack Obama pada bulan lalu telah mendapatkan persetujuan Kongres AS memberikan dana sebesar US $8 juta dari anggaran operasi Pentagon dan bantuan kontra terorisme yang semula diberikan kepada Pakistan kepada Libya. Dana tersebut digunakan untuk membantu Pemerintah Libya membentuk pasukan komando Libya berkekuatan 500 personil pada tahun depan. Pasukan operasi khusus AS akan melatih pasukan komando Libya tersebut guna memerangi “teroris Islam” di Libya.
Kekhawatiran yang lain dari Barat sekarang ini terhadap situasi Suriah adalah menguatnya kelompok revolusioner yang menginginkan penerapan syariah Islam dan Khilafah di negeri Syam itu. Para revolusioner ini pun secara terbuka menentang visi Arab Spring ala Amerika—sekularisme berbalut  Islam. Medan jihad di bumi Syam juga telah mengundang kaum Muslim di seluruh dunia untuk berjihad fi sabilillah untuk menenteng rezim thaghut Ba’ats, Bashar Assad.
Seperti biasa, Barat melalui medianya melakukan penyesatan politik, dengan mengaitkan kelompok yang berjihad ini dengan terorisme dengan tudingan memiliki agenda radikal. Dalam laporannya, Komisi PBB yang melakukan penyelidikan di negara tersebut mengatakan kehadiran para militan asing, Islam radikal atau para jihadi, membuat Barat khawatir. Kepala Komisi Sergio Pinheiro kepada wartawan hari Selasa (17/10) memperkirakan ada ratusan kombatan asing yang ikut bertempur di Suriah. Pinheiro menambahkan bahwa komisi itu khawatir para kombatan asing ini tidak berjuang untuk “membangun negara demokratis di Suriah”, tetapi “untuk agenda mereka sendiri.”

Exit Strategi  Model Yaman
Bagi Amerika dan sekutu Baratnya, cara yang paling aman untuk menyelesaikan krisis Suriah adalah dengan menggunakan model Yaman. Pasalnya, intervensi militer langsung seperti yang dilakukan terhadap Libya membutuhkan dana yang besar dan sulit diduga hasilnya.
Berdasarkan model Yaman, Barat mempersiapkan orang lingkaran dalam Presiden Yaman sendiri, yaitu Wapres Abd a-rRab Mansur Hadi menjadi pejabat presiden baru. Transisi ini dibantu oleh negara-negara sekitarnya seperti Saudi Arabia. Setelah itu diadakan Pemilu yang dikesankan demokratis pada Februari 2012 yang dimenangkan secara telak oleh Hadi.
Rencana non-militer model Yaman ini  membutuhkan satu unsur kunci: diplomasi harus dipimpin oleh aktor-aktor regional, bukan PBB atau Barat. Transisi bergaya Yaman kemudian akan bisa mempertahankan struktur negara Suriah yang pro-Barat  termasuk elit korup yang lama tidak merasa terancam. Dengan model Yaman ini mereka berharap, Assad bisa mengundurkan diri, stabilitas muncul, dan Pemilu demokratis yang sejalan dengan Barat bisa dilakukan.
Untuk merealisasikan model Yaman ini, Amerika Serikat menggunakan jaringan regional pendukungnya, seperti Arab Saudi, Mesir dan Turki. Melalui Menteri luar negeri Turki Ahmed Davutoglu, Amerika  datang dengan membawa usulan lama yang diperbarui agar Wakil Presiden Suriah Farouk as-Sharaa menggantikan presiden antek Amerika Bashar sebagai kepala pemerintahan transisi untuk menghentikan perang sipil yang terjadi di Suriah.
Oglu mengatakan, ash-Shara  adalah seorang yang punya pikiran dan hati nurani. Ia tidak turut serta dalam pembantaian di Suriah dan tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui sistem di Suriah dari dia. Oglu beranggapan bahwa oposisi cenderung menerima ash-Shara untuk memimpin administrasi Suriah pada masa depan. Belum selesai Oglu dengan penyesatan-penyesatan ini, sudah muncul pernyataan dukungan pihak oposisi yang menyatakan diri mereka sebagai Dewan Nasional yang menjadi alat Amerika.
Usulan ini adalah usulan Amerika yang dilontarkan oleh Amerika melalui mulut Oglu maupun selain dia. Padahal sangat jelas Farouk ash-Shara ini adalah seorang pengikut Ba’ats, sekular dan selama ini dipelihara dan dibesarkan oleh Hafezh Asad si bapak dan diwarisi oleh Bashar Asad si anak. Ash-Shara ini telah bekerja sebagai menteri luar negeri pada zaman Hafezh Asad selama 15  tahun. Kemudian ia menjabat Wakil Presiden Bashar Asad pada masa pemerintahannya.
Hal itu jelas-jelas memberikan deskripsi yang gamblang tentang keridhaan penjahat Bashar dan bapaknya kepada ash-Shara. Baik Hafezh maupun Bashar sama sekali tidak membiarkan orang yang menyalahi keduanya meski sekecil apapun. Walhasil, kalau model Yaman ini terealisasi, Suriah akan tetap dalam kendali dan kontrol negara-negara imperialis. Ini jelas merupakan pengkhianatan terhadap darah para syuhada yang telah tertumpah! [Farid Wadjdi]

Seruan Hizbut Tahrir Wilayah Suriah
Untuk mewaspadai  ancaman model Yaman ini terhadap tujuan mulia Revolusi Suriah, Utsman Bakhasy Direktur Maktab I’lami Pusat Hizbut Tahrir (23 Dzulqa’dah 1433 H/09 Oktober 2012 M) memberikan nasihat dan peringatan. Berikut kutipannya:

Hati-hati dan waspadalah! Dia antek Amerika di kawasan ini. Oglu tampil berbicara mengatas-namakan Anda. Dia berkata, “Oposisi Suriah cenderung menerima ash-Shara untuk memimpin tahapan transisi.”
Jika yang dia maksudkan adalah Anda, maka dia itu adalah orang yang melakukan konspirasi yang ingin menjerumuskan Anda ke dalam rencana jahat yang melanggengkan Anda dalam pertempuran dan situasi yang membuat para wanita Anda menjadi janda, tanpa ada perubahan sedikitpun.…Jika yang dia maksudkan adalah Dewan Nasional maka Dewan ini bukan bagian dari Anda. Pihak yang mendirikan Dewan itu adalah Amerika. Keinginan mereka tidak lain adalah melaksanakan rencana-rencana Amerika dalam mengaborsi revolusi Anda dan merealisasi negara sipil yang tunduk kepada Amerika, meminggirkan agama Anda yang lurus dari urusan apapun di antara urusan dunia dan akhirat Anda!
Siapa saja yang beranggapan bahwa Amerika menginginkan kebaikan di dalam revolusi Anda maka hendaknya dia segera sadar diri sebelum terlambat. Perdana Menteri Erdogan telah membuat kita kenyang dengan ucapannya. Dia menawarkan kepada Anda untuk menerima rezim penjahat ini seperti sedia kala, dengan seluruh kejahatan dan kebrutalannya, dengan disertai penggantian deskriptif yang menjaga rezim penjahat dengan disertai pemaafan terhadap presiden rezim jagal Damaskus, berdasarkan apa yang sudah berlagsung di Yaman!
Wahai orang-orang yang melakukan revolusi di negeri Syam. Anda harus menyatukan segenap upaya Anda dan waspada terhadap konspirasi musuh-musuh dari sekeliling Anda. Anda harus bertawakal kepada Allah dengan menjadikan revolusi Anda menjadi revolusi yang ikhlas untuk Allah SWT, tidak disekutui oleh siapapun. Di dalamnya tidak ada bagian sedikit pun untuk Barat. Potonglah tangan-tangan Barat dari sekeliling Anda. Campakkan Barat dan alat-alat lokalnya yang memiliki nama yang sama dengan kita, dan berasal dari generasi kita. Akan tetapi, mereka mempromosikan racun Barat penjajah, terutama Amerika yang melindungi rezim bapak dan anak di Suriah. Menjungkalkan rezim itu bukan berarti menggulingkan kepala rezim saja, tetapi adalah dengan mencabut rezim itu dari akarnya hingga ujung daunnya.
Berjuanglah sungguh-sungguh dan dengan penuh kesungguhan bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan agama Allah di tengah-tengah Anda dengan mewujudkan Daulah Islam, Daulah Khilafah ar-Rasyidah…Tidak ada yang menyelamatkan kami dan Anda kecuali Allah. Tidak ada kemuliaan untuk kami dan Anda kecuali dengan agama-Nya. Tidak ada keamanan kecuali dengan Daulah Islam yang akan melindungi kehormatan, darah dan harta kita serta membuat Rabb kita ridha kepada kita.

Mereka memikirkan tipudaya dan Allah menggagalkan tipu aya itu. Allah sebaik-baik Pembalas tipudaya (QS al-Anfal [8]: 30) 


source: http://hizbut-tahrir.or.id/2012/10/31/analisis-permainan-amerika-dalam-revolusi-suriah/ Permainan Amerika Dalam Revolusi Suriah

Revolusi akan Kembalikan Suriah jadi Khilafah

Pertemuan HT dengan Revolusioner Suriah: Revolusi akan Kembalikan Suriah jadi Khilafah.  
 Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir Suriah Hisyam Al Baba menyatakan revolusi Suriah akan mengembalikan Suriah menjadi Khilafah Islam, saat kunjungannya ke kantung-kantung kaum Revolusioner, baru-baru ini, di berbagai tempat di Suriah.

“Revolusi ini akan mengembalikan negeri Al Syam sebagai sebuah negara, dan sebagai bagian dari Daulah Khilafah mendatang, Insya Allah, yang akan menjadi negara terkemuka di dunia dalam satu dekade,” tegasnya ketika pidato di hadapan para Revolusioner yang memadati Masjid Ansharu Rasul di I’zaaz.
Di samping meminta agar tetap teguh dan tabah dalam berjuang menumbangkan rezim diktator Al Assad, Hisyam pun meminta kaum Revolusioner mengambil pelajaran berharga dari kegagalan revolusi di Tunisia, Mesir dan Libya.

“Kami mendorong Anda dan mengundang Anda untuk mengambil pelajaran dari revolusi-revolusi sebelumnya, sehingga Anda tidak jatuh ke dalam perangkap sebuah negara sekuler sipil seperti yang telah mereka lakukan!” pekiknya.


Maka, Hisyam pun mewanti-wanti agar kaum Revolusioner waspada terhadap tipu daya Barat dan para kaki tangannya di dalam negeri serta harus tetap menyatukan visi misi perjuangan hingga tumbangnya Al Assad sehingga kondusifnya diangkat seorang lelaki mulia menjadi khalifah.

“Kita akan bertemu di Masjid Umayyah dekat Damaskus, Insya Allah, untuk memberikan baiat (janji setia terhadap seseorang yang diangkat menjadi khalifah, red) kepada seorang imam yang akan memerintah kita dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya SAW, dan memang hal itu bukanlah sebuah hal yang sulit bagi Allah!” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Hisyam pun tak lupa menunjukan dan menjelaskan peta jalan (roadmap) yang dikeluarkan HT Suriah yang bertanggal 28 Ramadhan 1433 H untuk membawa perubahan di Suriah yang mengarah kepada Daulah Khilafah, yang berjudul: Manifesto Hizbut Tahrir tentang Revolusi Al Syam: Menjelang Kelahiran Khilafah Rasyidah yang Kedua.
Mendapat Sambutan
Selain ke I’zaaz, Hisyam pun berkeliling ke kantong-kantong kaum Revolusioner termasuk ke Soran di pedesaan Aleppo. Di berbagai tempat, ceramahnya mendapat sambutan yang sangat baik dan positif, dan terdapat interaksi yang baik dari para hadirin.

Ceramah itu diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan dari kaum muda yang rindu akan kekuasaan Islam. Ceramah kemudian dilanjutkan dengan dibagi-bagikannya draft Konstitusi Daulah Khilafah kepada para hadirin, Manifesto HT dan pernyataan tentang konspirasi Lakhdar Brahimi.

Terlihat sukacita yang sangat besar dari wajah Hisyam maupun kaum Revolusioner selama kunjungan dan pertemuan-pertemuan tersebut. Banyak orang yang melihat hal itu sebagai tanda-tanda yang baik atas kemenangan yang muncul di negeri Al Syam.

“Anda, para pahlawan telah mengajarkan kepada seluruh umat semua abjad revolusi dan menantang taghut. Jika kita meninggalkan Anda dan kembali ke Damaskus itu akan merupakan harapan menunggu waktu menjadi nol, saat deklarasi Khilafah, saat Anda akan mendengar pekikan Allahu Akbar,” puji Hisyam di setiap akhir kunjungannya.

Dengan demikian, rakyat Al-Syam yang bebas kemudian akan melangkah dengan kaki mereka di era para penguasa yang menindas (hukm jabri), dan menyatakan dimulainya Era Khilafah Rasyidah yang mengikuti petunjuk Kenabian.

Bahaya Turki dan Dewan Nasional Suriah
Pada kesempatan lain Hizbut Tahrir Wilayah Suriah juga mengingatkan kepada para revolusioner tentang bahaya dari kebijakan Turki terhadap Suriah. Rezim Erdogan ini sedang menjalankan perannya menjadi antek Amerika dalam masalah Suriah. Menteri luar negeri Turki Ahmed Davutoglu datang dengan membawa usulan lama yang diperbarui agar wakil presiden Suriah Farouk al-Sharaa menggantikan presiden antek Amerika Bashar sebagai kepala pemerintahan transisi untuk menghentikan perang sipil yang terjadi di Suriah.
Solusi ini mengikuti model Yaman. Oglu mengatakan al-Sharaa ini “seorang yang punya pikiran dan hati nurani, ia tidak turut serta dalam pembantaian di Suriah, dan tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui sistem di Suria dari dia.“

Oglu beranggapan bahwa oposisi cenderung menerima al-Sharaa untuk memimpin administrasi Suria di masa depan. Belum selesai Oglu dengan penyesatan-penyesatan ini, sudah muncul pernyataan dukungan pihak oposisi yang menyatakan diri mereka sebagai Dewan Nasional yang menjadi alat Amerika.
Usulan ini adalah usulan Amerika, yang dilontarkan oleh Amerika melalui mulut Oglu maupun selain dia. Padahal sangat jelas Farouk al-Sharaa ini adalah seorang pengikut ba’ats, sekuler dan anak rezim ini yang dipelihara dan dibesarkan oleh Hafezh Asad si bapak dan diwarisi oleh Bashar Asad si anak. al-Sharaa ini bekerja sebagai menteri luar negeri pada zaman Hafezh Asad selama 15  tahun. Kemudian ia menjabat wakil presiden Bashar Asad pada masa pemerintahannya. Hal itu jelas-jelas memberikan deskripsi yang gamblang tentang keridhaan penjahat Bashar dan bapaknya kepada al-Sharaa.

Baik Hafezh maupun Bashar sama sekali tidak membiarkan orang yang menyalahi keduanya meski sekecil apapun. Demikian juga eksistensi al-Sharaa di dua jabatan itu pada masa pemerintahan Hafezh dan Bashar jelas-jelas mengindikasikan dengan jelas tentang begitu mengakarnya keantekan al-Sharaa kepada Amerika. Bisa jadi Amerikalah yang dahulu berpesan kepada Hafezh dan Bashar untuk tidak melepaskan al-Sharaa dan sekarang berpesan agar al-Sharaa menjadi alternatif pengganti Bashar.[]rz/joy

Box: Rezim Bengis Assad Bunuh Paman Kepala Kantor Media HT Suriah
Perjuangan menyampaikan kebenaran dan menegakkan agama Allah SWT , memang selalu membutuhkan pengorbanan. Sikap Hizbut Tahrir  yang tegas mengecam rezim bengis Assad, menimbulkan kebencian dari para thogut ini. Merekapun melakukan penculikan, penyiksaan, hingga pembunuhan terhadap keluarga dKepala Kantor Media HT Wilayah Suriah.

Insinyur Hisham al-Baba – Kepala Kantor Media untuk Hizbut Tahrir, Wilayah Suriah – kehilangan  paman dari pihak ibu nya. Asy Syahid, Insya Allah,  Rafiq Muhammad Al Hamawi , diculik dari depan rumahnya di lingkungan Jobar di Damaskus, oleh rezim Assad yang keji dan berlumur dosa.  Setelah disiksa selama berhari-hari, kepalanya dipenggal dan tubuhnya dilemparkan di trotoar bersama dengan lima orang lainnya, oleh penjahat, para pembunuh dari tentara Bashar itu.

Insya Allah, dari rasa sakit dan penderitaan rakyat setia dan saleh bumi Asy Syam, (Suriah) kemenangan dan kelapangan akan  lahir. Dari bumi yang dipenuhi oleh muslim-muslim terbaik dari segi keberanian dan pengorbanan, fajar Islam pasti akan terbit.

Berkaitan dengan ini Hizbut Tahrir Suriah menegaskan : “ Kami berjanji kepada Allah dan Rasul-Nya dan kaum Muslim bahwa kami tidak pernah akan melemah, meskipun perjuangan ini harus dibayar dengan syahidnya para pejuang satu persatu.  Hingga berdirinya kembali negara yang didirikan Rosulullah SAW  di Madinah al-Munawwarah – yang kemudian dihancurkan di Istanbul (tahun 1924) oleh pengkhianat Arab dan Turki. Dan dengan itu kita akan melanjutkan cara hidup Islam di bawah bendera Khilafah ‘ala minhajin , dan kami memohon  kepada Allah SWT untuk mewujudkan itu segera di bumi asy Syam (Suriah) segera. “ (AF)

view source: http://farid1924.wordpress.com/2012/11/04/pertemuan-ht-dengan-revolusioner-suriah-revolusi-akan-kembalikan-suriah-jadi-khilafah/  Revolusi akan Kembalikan Suriah jadi Khilafah.

Monday, October 15, 2012

Manifesto Hizbut Tahrir Untuk Revolusi Al-Syam: Ke Arah Lahirnya Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah Kali yang Kedua



Manifesto Hizbut Tahrir Untuk Revolusi Al-Syam: Ke Arah Lahirnya Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah Kali yang Kedua

 
[Kenyataan ini disampaikan oleh Hisham Al-Baba, Ketua Pejabat Media HizbutTahrir Wilayah Syria di sidang media yang diadakan di pejabat HizbutTahrir di Tripoli, Lebanon pada hari Khamis 28 Ramadhan 1433H (16/08/2012)]

[SN320] Revolusi yang dikenali sebagai ‘Arab Spring’ tercetus kerana keinginan untuk menukar pemerintah dan rejim. Dari mula lagi, tuntutan rakyat amat jelas dan tidak ada kesamaran di dalamnya. Kerana itulah kita mendengar mereka melaungkan “Rakyat ingin jatuhkan rejim”. Apa yang berlaku dalam revolusi di Tunisia, Mesir, Libya dan Yemen adalah sama ada pemerintah berjaya dijatuhkan atau terbunuh, tetapi sistem pemerintahannya tetap berterusan dengan corak yang sama seperti sejak zaman kolonial iaitu demokrasi, negara sivil dan sekular – sama seperti sistem yang terdapat di Barat. Apa yang berubah cuma wajah-wajah pemerintah dan beberapa aspek pencalonan, pelantikan atau pemilihan. Justeru, kegembiraan yang datang seiring dengan kejayaan revolusi yang diberkati itu terus punah, tatkala revolusi itu dirosakkan dan dirampas oleh Barat dengan pengenalan negara sivil demokrasi yang diberikan (atau lebih tepat, direstui) Barat kepada umat Islam. Kesemua revolusi itu punah sehinggalah terjadinya revolusi Al-Syam (Syria) yang terkeluar dari kehendak Barat dan memperkenalkan bentuk pemikiran yang berbeza kepada ‘Arab Spring’.

Revolusi Al-Syam tidak menerima masuknya racun ke dalam madu. Ia menolak sekularisme, demokrasi dan juga slogan negara sivil. Ia menolak untuk hanya berpuas hati dengan pertukaran wajah pemerintah semata-mata – ia bertanya dengan tersentak, “Bukankah Bashar seorang yang sekular?! Bukankah rejim dan perlembagaannya adalah berasaskan negara sivil? Tidakkah kita menyaksikan sistem kapitalis Barat gagal sebagai sebuah sistem yang global? Justeru, kenapakah kita perlu mengulangi ujikaji yang gagal ini untuk mengembalikan negara kita kepada kegagalan, sedangkan perlembagaan (Al-Quran) yang Tuhan semesta alam amanahkan kepada kita berada di tangan kita?”. Sesungguhnya revolusi Al-Syam telah mengesahkan identiti Islamnya apabila warganya mengisytiharkan “Ia adalah untuk Allah” dan menganggap segala penderitaan mereka sebagai pengorbanan demi mendapatkan ganjaran dari Allah semata-mata; apabila Muslimahnya menurut jejak langkah Khansa, satu per satu; apabila panji-panji al-Uqab (panji Rasulullah) dikibarkan; dan apabila seruan menginginkan Khilafah mula berkumandang di dalamnya. Oleh itu, revolusi ini bukan revolusi biasa!

Kuasa antarabangsa memerhatikan kelainan revolusi Syria yang diberkati ini. Amerika (penaja Bashar dan rejimnya) yang sedang marah, yang menyokong rejim Syria dengan segala kejahatannya, kononnya memberikan tempoh waktu (deadline) kepada Bashar, mengadakan persidangan, mengumumkan inisiatif dan menghantar misi pemerhati Arab dan antarabangsa untuk menyelesaikan masalah. Walhal pada masa yang sama mereka menghantar agen mereka sama ada secara zahir atau sembunyi, untuk mendukung rejim Syria, tanpa mempedulikan darah yang tak henti-henti ditumpahkan di Syria. Konspirasi komuniti antarabangsa terhadap warga Syria telah sampai ke tahap menawarkan Bashar peluang untuk berundur sebagai balasan untuk dia dan keluarganya keluar dengan selamat dari Syria, setelah segala kejahatan yang dilakukannya. Inilah tahap di mana mereka kini mengendalikan revolusi Syria.

Kami di HizbutTahrir percaya bahawa revolusi ini adalah terlalu bernilai untuk jatuh ke lembah sekularisme dan penyesatan negara sivil; ia terlalu bernilai untuk bertukar daripada keadaan yang ‘baik’ kepada yang lebih buruk – iaitu dengan mengambil demokrasi Barat dan meninggalkan Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Kami mahukan revolusi ini berakhir dengan tegaknya agama Allah, dengan berdirinya Khilafah ala minhaj nubuwwah. Jika ini berlaku, maka dua bisyarah (khabar gembira) akan terealisasi, seperti yang disebut oleh Rasulullah SAW tentang peristiwa akhir zaman,

“Kemudian akan muncul Khilafah di atas jalan kenabian” [HR Ahmad]

dan untuk warga Syam secara khusus di mana sabda baginda,

“Ingatlah bahawa pusat kepada Islam itu adalah di Syam”
[HR at-Thabrani dalam al-Kabeer daripada Salamah bin Nufail].

Dalam revolusi ini, sesungguhnya kami melihat tanda-tanda tersebut. 

Kami persembahkan dokumen ini yang terkandung di dalamnya manifesto HizbutTahrir untuk sistem politik  yang kami seru untuk dilaksanakan selepas kejatuhan rejim Syria; dan sebagai jalan untuk mencapai objektif ini. Kami amat prihatin bahawa revolusi ini terjaga dari dirampas oleh kuasa penjajah dan daripada diselinapi oleh para oportunis yang berlegar di sekeliling Barat yang membawa cara pemikiran Barat dalam menyelesaikan krisis ini.

Manifesto HizbutTahrir untuk sistem pemerintahan di Syria adalah seperti berikut:-

● Akidah Islam hendaklah menjadi dasar negara dan asas kepada Perlembagaan. Al-Quran dan As-Sunnah, dan apa yang dirujuk keduanya berupa Ijmak Sahabat dan Qiyas hendaklah menjadi sumber hukum kepada segala-galanya. Oleh yang demikian, hukum-hakam Islam akan menjadi sistem kehidupan untuk individu, masyarakat dan negara.

● Bentuk sistem pemerintahan Islam adalah Khilafah, yang berbeza sama sekali dengan segala bentuk sistem pemerintahan yang ada hari ini. Ia bukan sistem beraja, dinasti, republik, diktator atau federal.

● Negara Khilafah bukanlah negara teokrasi (pemerintah dilantik oleh Tuhan), sivil atau demokrasi. Ia adalah negara manusia (pemerintah dibaiah oleh manusia) di mana kedaulatan berada di tangan syarak (as-siyadah li asy-syara’) yang mana hukum-hakam Islam dilaksanakan di dalamnya, manakala kekuasaan berada di tangan umat (as-sulthan li al-ummah).

● Keamanan di dalamnya (Negara Khilafah) adalah keamanan Islam (berada di tangan orang-orang Islam), di mana campur tangan asing tidak dibenarkan, sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan jalan bagi orang-orang kafir menguasai orang-orang Mukmin” [TMQ an-Nisa’ (4):141].

Campur tangan asing di negeri-negeri umat Islam merupakan salah satu dosa besar yang menjauhkan rakyat dan negeri tersebut daripada berhukum dan bernaung dengan Islam.

● Sistem dalam Negara Khilafah adalah bersifat manusiawi – yang melihat seseorang itu sebagai manusia, tidak kira apa keturunannya, agama atau warna kulit. Ia menyelesaikan segala masalah – secara manusiawi – dengan penyelesaian terbaik dan teradil yang ada di muka bumi, kerana ia berasal dari Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Pakar.

● Ikatan yang mengikat di antara warganegara adalah ikatan kewarganegaraan. Jadi, sesiapa sahaja yang menjadi warganegaranya (sama ada Muslim mahupun bukan) mempunyai hak menikmati penjagaan sepenuhnya dari Negara. Negara tidak dibenar melakukan diskriminasi ke atas warganegara baik dalam hal urus tadbir, undang-undang mahupun pengurusan hal-ehwalnya.

● Fasal-fasal dalam perlembagaan Negara Khilafah datangnya dari hukum syarak yang wajib dilaksanakan oleh Negara dan kesemua warganegara mesti mematuhinya. Kaum Muslimin mematuhinya sebagai perintah dan larangan dari Allah, RasulNya dan UlilAmri. Manakala non-Muslim mematuhinya sebagai undang-undang negara yang mengawal hal-ehwal mereka dan menjaga kehidupan serta hak-hak mereka seperti mana juga Muslim. Hal ini adalah selaras dengan kaedah yang berbunyi, “Mereka yang mendapatkan keadilan yang sama seperti kaum Muslimin, juga akan dipertanggungjawabkan sepertimana kaum Muslimin” .
   
● Non-Muslim dibenarkan untuk mengamalkan kepercayaan mereka, sembahan, makanan dan pakaian di samping hal-hal yang berkaitan perkahwinan dan perceraian, menurut agama mereka, sesuai dengan peruntukan undang-undang umum. Mereka berhak menikmati segala hak sebagaimana Muslim. Contoh yang paling ketara dalam hal ini ialah berkenaan peruntukan al-milkiah al-ammah (hak-milik umum / public ownership) dan pembahagian produk serta kekayaan Negara secara adil kepada semua warganegara.

● Tidak ada perbezaan dalam Negara Khilafah darihal memerhatikan (menjaga) hal-ehwal Muslim dan non-Muslim. Negara akan memberi pelayanan sama rata kepada semua kaum dan tidak membezakan di antara orang-orang Kurdi, Arab, Turki dan sebagainya. Firman Allah,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di kalangan kamu ialah yang paling bertakwa” [TMQ al-Hujurat (49):13].

Negara akan menganggap semua seruan kepada perkauman, puak, bangsa atau etnik sebagai seruan perpecahan dan jahiliyyah yang akan memecah-belahkan umat dan Negara, di samping merupakan dosa besar. Tangan-tangan Barat yang telah (dan masih) berusaha dengan agenda jahatnya untuk memecah-belahkan, melemahkan dan menjadikan umat Islam setia kepada mereka bukannya kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman, hendaklah diputuskan. 

● Islam memastikan, melalui polisi ekonominya, pemenuhan keperluan asas - makanan, pakaian dan tempat tinggal bagi setiap individu warganegara. Islam juga memperbolehkan seseorang itu memenuhi keperluan sekundernya sebanyak mana yang ia mampu. Islam juga memastikan semua warganegara mendapat hak untuk keselamatan, pendidikan, perubatan dan lain-lain kemudahan awam. Hukum-hukum Islam juga menjelaskan tentang tatacara pemilikan, pengembangan dan pengelolaan harta. Islam menjelaskan tentang jenis-jenis pemilikan yang berupa pemilikan individu, negara dan pemilikan awam seperti minyak dan bahan galian yang mana semua orang berhak menikmati hasilnya. Islam menjelaskan hukum-hakam berkenaan tanah, agar tidak ada satu inci pun tanah pertanian yang dibiar tanpa diusahakan. Islam telah menjadikan emas dan perak sebagai asas kepada mata wang, justeru memastikan kestabilan kadar pertukaran yang menghasilkan kestabilan harga komoditi.  Islam telah menggariskan hukum-hakam berkenaan pertukaran mata wang, yang sekali gus mencegah Negara dari jatuh ke dalam krisis sebagaimana yang terjadi di dalam sistem Kapitalis. Islam telah menggariskan terma-terma perniagaan sesama individu yang tidak memerlukan campur tangan dari Negara dan Islam menggariskan terma-terma perdagangan antarabangsa yang dikendalikan di bawah pengawasan Negara. Islam membenarkan penubuhan syarikat berdasarkan hukum syarak dan mencegah dari berlakunya monopoli. Islam mengharamkan riba, penjualan hutang, menjual sesuatu yang tidak dimiliki dan penipuan. Secara keseluruhannya, semua polisi ini telah mengambil kira model masyarakat yang disasarkan yang menjadikan masyarakat hidup aman damai dan sejahtera di bawah konsep halal dan haram. Masyarakat bekerja dalam rangka mengagihkan kekayaan kepada setiap anggotanya dan menjadikan harta benda sebagai hamba (berkhidmat) kepada manusia, bukannya menjadikan manusia sebagai hamba kepada harta benda.

● Hubungan luar Negara Khilafah dengan negara-negara lain (negara kufur) dibangun berdasarkan hukum Islam yakni dengan mendakwahkan mereka kepada Islam dan melancarkan jihad fi sabilillah jika wujud halangan fizikal untuk sampainya agama Allah kepada mereka. Negara Khilafah terikat dengan hukum syarak dari segi mengadakan konvensyen, perjanjian damai, gencatan senjata dan hubungan diplomatik dengan negara kufur.

Berhubung dengan jalan (road map) yang mana kami harap dapat mewujudkan Negara Khilafah selepas kejatuhan rejim ini, kerangka umumnya adalah didasarkan kepada metodologi Rasulullah SAW di dalam membawa perubahan, yang boleh diringkaskan seperti berikut:-

● Kaum Muslimin di Syria secara amnya mengetahui bahawa mereka ingin menjatuhkan rejim dan sebagai gantinya, ingin kembali menegakkan hukum Allah melalui penegakan Daulah Khilafah dengan mengikuti jejak langkah Rasulullah, di mana baginda telah menggerakkan pandangan umum (ra’yul am / public opinion) terhadap Islam di Madinah, sejurus sebelum tegaknya Negara Islam pertama. Aspek ini sebenarnya telah wujud di dalam umat Islam sejak sekian lama, dan setelah ‘Arab Spring’ ia menjadi semakin jelas dari sebelumnya, dengan rahmat Allah SWT – khususnya kepada warga Syria yang telah mula melaungkan Negara Khilafah siang dan malam. Barat tidak lagi dapat menyembunyikan ketakutan dan kebimbangannya bahawa Islam akan menjadi pengganti kepada era penjenayah sekular Syria. Bagaimanapun, ia tetap menjadi tugas bagi mereka yang menjadi pemimpin dalam pandangan dan pemikiran (leaders of opinion and thought) yang berpegang dengan pemikiran Islam, untuk melipatgandakan usaha demi menperjelas dan mengkristalkan pemahaman tentang sistem Islam dalam diri mereka dan kepada umum, agar tidak ada seorang Muslim pun yang akan tertipu dengan gerakan yang membawa slogan Islam tetapi hakikatnya berpegang teguh dengan projek sekular di bawah nama negara sivil demokrasi.

● Orang-orang beriman yang memiliki pengaruh dan kekuatan (ahlul quwwah) daripada pegawai-pegawai tentera dan kelompok yang bersenjata, yang terdiri daripada mereka yang ikhlas, hendaklah bergerak untuk menegakkan Khilafah. Mereka mesti bekerjasama untuk mencegah Barat, agen dan kakitangannya daripada mendekati politikus sekular, menghampiri kekuasaan dan membuat keputusan.

Keadaan ini sebenarnya telah mula dapat dilihat, dengan rahmat Allah SWT, dari kalangan ahlul quwwah, yang telah mengisytiharkan bahawa mereka ingin memerintah dengan Islam. Kami bersyukur kepada Allah kerana menganugerahkan umat ini, orang-orang yang memiliki kepakaran dalam bidang pentadbiran, politik, pengurusan, perundangan dan ekonomi, yang kesemuanya menjadi persiapan dalam meraih tugas yang besar ini.

Kami di HizbutTahrir mengisytiharkan melalui sidang media ini bahawa kami bergerak bersama mereka yang ikhlas dalam revolusi ini dan mengerahkan segala potensi, kebolehan dan kemampuan yang kami ada, demi meraih apa yang dihajati (Negara Khilafah), yang mana usaha dan kejayaannya sudah semakin tampak dan apa yang penting, ia akan membawa perubahan yang sebenar dengan izin Allah. Revolusi ini telah dikelilingi dengan liwa’ (bendera) dan rayah (panji) Islam. Tekak para demonstran dibasahi dengan laungan takbir dan seruan “Kami mahukan Syria Negara Khilafah” dan “Umat inginkan Khilafah semula”. Anggota-anggota HizbutTahrir wujud di jantung revolusi dan Pejabat Media HizbutTahrir Wilayah Syria dibuka sebagai saluran komunikasi dan interaksi dengan revolusi. HizbutTahrir secara umum dan cawangannya di Syria secara khusus, telah mengikuti perkembangan revolusi sejak ia mula tercetus, hari demi hari, malah saat demi saat. HizbutTahrir sentiasa mengeluarkan kenyataan dan buletin seiring dengan berita terbaru revolusi dalam usaha memperteguh peserta revolusi, mengangkat keazaman mereka dan menyebarkan kesedaran di kalangan mereka tentang konspirasi yang diatur ke atas mereka, mengingatkan mereka agar sentiasa mengaitkan revolusi dengan objektif yang benar agar oportunis tidak dapat mengambil peluang.

Kami memohon kepada Allah SWT agar memberikan kejayaan kepada usaha ini dan menganugerahkan kemenangan dan kegembiraan secepat mungkin dengan tegaknya Negara Khilafah; dan hal ini sesungguhnya amat mudah bagi Allah. Allah SWT berfirman,

“Dan Kami hendak memberi kurnia (dengan memberikan pertolongan) kepada orang-orang yang tertindas di negeri itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” [TMQ al-Qasas (28):5]. 

MANIFESTO HIZBUT TAHRIR UNTUK REVOLUSI AL-SYAM: KE ARAH LAHIRNYA KHILAFAH ALA MINHAJ NUBUWWAH KALI YANG KEDUA mykhilafah.com/sautun-nahdhah/3648-sn320-manifesto-hizbut-tahrir-untuk-revolusi-al-syam-ke-arah-lahirnya-khilafah-ala-minhaj-nubuwwah-kali-yang-kedua

Pertemuan HT dengan Revolusioner Suriah : Revolusi akan Kembalikan Suriah jadi Khilafah

Pertemuan HT dengan Revolusioner Suriah : Revolusi akan Kembalikan Suriah jadi Khilafah

Mediaumat.com. Suriah. Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir Suriah Hisyam Al Baba menyatakan revolusi Suriah akan mengembalikan Suriah menjadi Khilafah Islam, saat kunjungannya ke kantung-kantung kaum Revolusioner, baru-baru ini, di berbagai tempat di Suriah.

“Revolusi ini akan mengembalikan negeri Al Syam sebagai sebuah negara, dan sebagai bagian dari Daulah Khilafah mendatang, Insya Allah, yang akan menjadi negara terkemuka di dunia dalam satu dekade,” tegasnya ketika pidato di hadapan para Revolusioner yang memadati Masjid Ansharu Rasul di I’zaaz.
Di samping meminta agar tetap teguh dan tabah dalam berjuang menumbangkan rezim diktator Al Assad, Hisyam pun meminta kaum Revolusioner mengambil pelajaran berharga dari kegagalan revolusi di Tunisia, Mesir dan Libya.

“Kami mendorong Anda dan mengundang Anda untuk mengambil pelajaran dari revolusi-revolusi sebelumnya, sehingga Anda tidak jatuh ke dalam perangkap sebuah negara sekuler sipil seperti yang telah mereka lakukan!” pekiknya.

Maka, Hisyam pun mewanti-wanti agar kaum Revolusioner waspada terhadap tipu daya Barat dan para kaki tangannya di dalam negeri serta harus tetap menyatukan visi misi perjuangan hingga tumbangnya Al Assad sehingga kondusifnya diangkat seorang lelaki mulia menjadi khalifah.

“Kita akan bertemu di Masjid Umayyah dekat Damaskus, Insya Allah, untuk memberikan baiat (janji setia terhadap seseorang yang diangkat menjadi khalifah, red) kepada seorang imam yang akan memerintah kita dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya SAW, dan memang hal itu bukanlah sebuah hal yang sulit bagi Allah!” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Hisyam pun tak lupa menunjukan dan menjelaskan peta jalan yang dikeluarkan HT Suriah yang bertanggal 28 Ramadhan 1433 H untuk membawa perubahan di Suriah yang mengarah kepada Daulah Khilafah, yang berjudul: Manifesto Hizbut Tahrir tentang Revolusi Al Syam: Menjelang Kelahiran Khilafah Rasyidah yang Kedua.

Mendapat Sambutan
Selain ke I’zaaz, Hisyam pun berkeliling ke kantong-kantong kaum Revolusioner termasuk ke Soran di pedesaan Aleppo. Di berbagai tempat, ceramahnya mendapat sambutan yang sangat baik dan positif, dan terdapat interaksi yang baik dari para hadirin.

Ceramah itu diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan dari kaum muda yang rindu akan kekuasaan Islam. Ceramah kemudian dilanjutkan dengan dibagi-bagikannya draft Konstitusi Daulah Khilafah kepada para hadirin, Manifesto HT dan pernyataan tentang konspirasi Lakhdar Brahimi.

Terlihat sukacita yang sangat besar dari wajah Hisyam maupun kaum Revolusioner selama kunjungan dan pertemuan-pertemuan tersebut. Banyak orang yang melihat hal itu sebagai tanda-tanda yang baik atas kemenangan yang muncul di negeri Al Syam.

“Anda, para pahlawan telah mengajarkan kepada seluruh umat semua abjad revolusi dan menantang taghut. Jika kita meninggalkan Anda dan kembali ke Damaskus itu akan merupakan harapan menunggu waktu menjadi nol, saat deklarasi Khilafah, saat Anda akan mendengar pekikan Allahu Akbar,” puji Hisyam di setiap akhir kunjungannya.

Dengan demikian, rakyat Al-Syam yang bebas kemudian akan melangkah dengan kaki mereka di era para penguasa yang menindas (hukm jabri), dan menyatakan dimulainya Era Khilafah Rasyidah yang mengikuti petunjuk Kenabian [http://hizbut-tahrir.or.id/2012/10/09] rz/joy Pertemuan HT dengan Revolusioner Suriah : Revolusi akan Kembalikan Suriah jadi Khilafah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More