cari cari ...

Showing posts with label news. Show all posts
Showing posts with label news. Show all posts

Thursday, July 12, 2012

After the Arab Spring, Apa Yang Berikutnya Untuk Dunia Muslim?


Setelah Musim Semi Arab, Apa Yang Berikutnya Untuk Dunia Muslim?

Oleh Adnan Khan

Sekarang sudah 18 bulan sejak Musim Semi Arab dimulai. Pemberontakan-pemberontakan itu berhasil mengakhiri pemerintahan brutal Hosni Mubarak di Mesir, Ben Ali di Tunisia hingga Libya Kolonel Gaddafi, sementara Basher al Assad masih hendak terus menggenggam kekuasaannya. Pemilihan umum telah terjadi di sejumlah negara dimana kita melihat partai-partai Islam memperoleh kemenangan secara signifikan, sedangkan kaum sekularis menderita kekalahan. Perdebatan dan diskusi tentang konstitusi baru dan peran Islam terus mendominasi Musim Semi Arab.

Apakah sekarang Musim Semi Arab mencapai kesudahannya ketika berhasil menggantikan diktator-diktator yang didukung Barat dengan pemerintahan Islam?

Di Tunisia, Maroko dan Mesir, para pemilih yang berjumlah jutaan telah dengan jelas menyatakan penentangan mereka terhadap nilai-nilai liberal sekuler dan ada keinginan kuat bagi pemerintahan Islam. Namun partai-partai yang sama berusaha keras untuk menunjukkan mandat Islam mereka kepada massa dalam kampanye pemilunya, dan sekarang berusaha lebih keras untuk menunjukkan sikap lunak mereka kepada Barat. Memang sikap mereka yang terburu-buru untuk menenangkan apa yang disebut sebagai opini internasional, mereka telah meninggalkan kepura-puraannya menjadi politisi Islam. Dalam melakukannya, mereka bersikap pragmatis, pintar dan cerdas secara politik. Namun, apa yang telah mereka tunjukkan adalah oportunisme, standar ganda dan bahwa mereka tidak lebih berprinsip daripada rekan-rekan sekuler mereka. Ketika berkaitan dengan penerapan politik Islam, mereka mengungkapkan hambatan-hambatan konstitusional dan perlunya menjaga kaum minoritas. Ketika berkaitan dengan penerapan ekonomi Islam, mereka mengungkapkan perlunya menghindari ketakutan investor internasional dan para wisatawan. Ketika berkaitan dengan penerapan kebijakan luar negeri Islam, mereka mengungkapkan perlunya menampilkan kesan moderat dan memenuhi tuntutan Barat. Memang, seperti itulah kehati-hatian mereka, kelemahan dan keinginan mereka untuk menyenangkan Barat, dan mereka kini hanya menjadi politisi Islam dalam hal nama saja. Realitas pada saat ini adalah bahwa kelompok-kelompok Islam yang mendekam di sel-sel penyiksaan milik penguasa seperti Mubarak yang menggembar-gemborkan ‘Islam adalah solusi’, pada saat ini benar-benar mencegah umat dari pemerintahan Islam.

Jadi apa yang salah dengan kelompok-kelompok Islam?

Kelompok-kelompok Islam, baik Ennahda di Tunisia maupun Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP) dari Ikhwanul Muslimin di Mesir telah membuat satu kesalahan strategis satu persatu. Partai-partai Islam telah memenangkan pemilu yang cacat sejak awal. Pemilu adalah untuk parlemen yang merupakan peninggalan dari semua hal yang salah di dunia Muslim. Partai-partai Islam itu alih-alih mengubah dan mengganti sistem tersebut, mereka malah masuk dalam sistem yang korup dan menggantikan Ben Ali dan Hosni Mubarak dengan diri mereka sendiri dalam mempertahankan sistem yang korup dan sekuler.

Sementara banyak dari kelompok-kelompok Islam yang sekarang berkuasa, yang mengorbankan banyak hal di masa lalu dan menerima banyak kebrutalan dari para penguasa diktator, membuat perhitungan politik mereka yang berakar pada mitos. Mereka percaya bahwa sistem Islam hanya dapat diimplementasikan secara bertahap. Sementara kelompok-kelompok yang telah mencapai kekuasaan tidak memiliki banyak hal dalam pengembangan kebijakan dan mereka berpendapat bahwa solusi Islam tidak siap untuk menghadapi masalah-masalah seperti kemiskinan, pengangguran dan masih dalam pengembangan. Mereka juga percaya kebohongan bahwa penerapan Islam akan bisa menakut-nakuti kaum minoritas, menakut-nakuti investor dan menakut-nakuti masyarakat internasional.

FJP tidak lagi memakai slogan mereka “Islam adalah solusi ‘ dan telah membuat pernyataan-pernyataan kebijakan yang kontradiktif karena mereka terus-menerus kembali mundur dalam upaya untuk menenangkan semua orang. Saad al-Husseini, anggota Partai Kebebasan dan Keadilan Mesir dan eksekutif biro partai itu mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa pariwisata sangat penting bagi Mesir dan menekankan bahwa minum dan menjual alkohol adalah dilarang dalam Islam. Namun, ia kemudian menambahkan, “Namun hukum-hukum Islam juga melarang memata-matai tempat-tempat pribadi dan hal ini berlaku juga untuk pantai… saya ingin ada 50 juta turis yang akan melakukan perjalanan ke Mesir meskipun mereka datang dengan telanjang.”

Keengganan mereka untuk menerapkan Islam dalam keseluruhan resiko memberikan kesan bahwa sistem Islam tidak bisa memecahkan masalah-masalah pada hari ini. Umat ​​yang berjumlah jutaan yang memilih partai-partai Islam itu menginginkan Islam. Memang hal itu seperti menggurui umat, dimana puluhan juta memilih mereka karena solusi Islam dan bahwa mereka tidak siap menghadapi konsekuensi dari solusi yang mereka pilih.

Inilah sebabnya mengapa pemilu ini cacat sejak awal. Demokrasi pada kenyataannya memungkinkan terpilihnya kelompok-kelompok dan individu-individu yang dapat membuat aturan-aturan yang dapat mereka jalankan bersama. Setelah bekerja selama beberapa dekade bagi pelaksanaan Islam, kelompok-kelompok Islam yang berkuasa sekarang di ambang pintu membuang-buang kesempatan yang ada.

Bagaimana situasi di Suriah?

Umat ​​Islam bangkit melawan pemerintahan brutal Bashar al-Assad meskipun mereka menggunakan taktik brutal penindasan untuk memadamkan pemberontakan. Rezim Assad melanjutkan tindakan kerasnya dengan harapan bisa mengakhiri pemberontakan, sementara perlawanan bersenjata kurang memiliki kekuatan, senjata dan logistik untuk bisa meluncurkan serangan berkelanjutan ke Damaskus. Masyarakat internasional melanjutkan terus retorikanya untuk melawan rezim Suriah, tetapi tidak bertindak apapun.

Saat pembunuhan meningkat, sebagian orang di Suriah mengharapkan bantuan internasional untuk melawan rezim dan hal menjadikan solusi krisis di tangan internasional. Masyarakat internasional mengajukan sejumlah solusi untuk mengakiri krisis. AS telah menggeser posisi dari yang awalnya mendukung Assad sebagai seorang ‘pembaharu potensial’ sekarang terang-terangan menjadi pengecam rezim itu- tetapi tidak melakukan apapun untuk mengacaukan kepentingan utama mereka.

Masyarakat internasional kini secara terbuka mendukung pihak oposisi yang terus gagal mempersatukan dan bergabung menjadi satu kekuatan yang dapat membentuk pemerintahan Suriah di masa depan. Dengan berkedok mendukung, AS memanfaatkan dukungan negara-negara dalam menciptakan kondisi yang akhirnya akan menjadikan landasan bagi Suriah tanpa al-Assad, tapi menjadi sebuah negara yang terus melayani kepentingan AS. AS baru-baru ini menggeser sikapnya berkaitan dengan intervensi militer dari yang awalnya menyerukan negosiasi dan menolak seruan dilakukannya intervensi sekarang secara terbuka menyerukan intervensi militer. Dalam pernyataan pentingnya pada bulan Mei 2012, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey mengatakan: “Pentagon siap melakukan opsi intervensi militer untuk mengakhiri kekerasan di Suriah.” Namun, AS telah gagal dalam membangun seorang pemimpin alternatif penggati al-Assad.

Dukungan internasional bagi Dewan Nasional Suriah (SNC) telah dirusak oleh pertengkaran internal dan perebutan kekuasaan. Dewan Nasional Suriah diciptakan sebagai sebuah koalisi tujuh kelompok oposisi dengan tujuan memberikan alternatif yang kredibel bagi pemerintahan al-Assad dan berfungsi sebagai satu titik kontak bagi masyarakat internasional. Berbicara kepada AFP setelah Dewan Nasional Suriah menerima pengunduran dirinya sebagai pemimpin, Burhan Ghalioun mengatakan adanya jurang dalam jajarannya, “Kami tidak sampai hati mengorbankan rakyat Suriah. Kami tidak menjawab kebutuhan-kebutuhan revolusi dengan cukup dan cepat,” kata Ghalioun kepada AFP.

AS awalnya terjebak dengan posisinya bahwa Assad adalah seorang reformis dan harus diberi waktu melakukan reformasi, ketika negara-negar Eropa menyerukan penggulingannya. Namun saat pembantaian yang dilakukan rezim itu terungkap ke seluruh dunia, posisi mereka menjadi tidak bisa dipertahankan dan Amerika Serikat berusaha untuk menampilkan Dewan Nasional Suriah (SNC) dan Komite Koordinasi Daerah (LCC) sebagai alternatif-alternatif. Namun, kelompok-kelompok itu memiliki sedikit dukungan dari massa dan pemberontakan terus terjadi. AS terus menunda pergantian kekuasaan hingga mereka bisa membangun sebuah alternatif bagi al-Assad. AS bisa menggunakan Rusia dan misi pengamat dari Liga Arab untuk menunda pergantian kekuasaan yang sesungguhnya. Dengan memanfaatkan dukungan Rusia bagi rezim Suriah, AS menampilkan negara-negara Eropa dan dirinya di satu sisi yang menyerukan al-Assad untuk hengkang sementara Rusia dan Cina di sisi lain berusaha mempertahankan Assad. AS melakukan ini sambil menjaga al-Assad berkuasa karena mereka masih mencoba untuk membangun Suriah tanpa Assad.

Resolusi PBB nomor 2042 - dimana Kofi Annan memimpin gencatan senjata adalah upaya terbaru untuk mengatasi krisis. Rencana ini tidak berguna sebagaimana gencatan senjata sebelumnya. Tugas pengamat adalah menginformasikan kepada masyarakat internasional atas tindakan yang tidak dapat mereka terima di wilayah yang diamati. Masalah di Suriah bukanlah bahwa dunia tidak menyadari kekerasan, tetapi mereka tidak mampu atau bersedia mengambil langkah-langkah untuk mengakhirinya. Rezim Bashar al Assad telah menunjukkan bahwa mereka bersedia melakukan apapun yang perlu dilakukan untuk mengalahkan oposisi. Philip Gourevitch, penulis dan wartawan AS mengatakan dalam sebuah blog di New Yorker: “Dalam kehidupan nyata, PBB telah secara efektif menutupi operasi militer berdarah oleh rezim Suriah dengan mengirim Kofi Annan, seorang mantan sekjen PBB yang lemah ke Damaskus. Rencana perdamaian Annan yang dibuat bersama Assad pada akhir Maret merupakan gelembung-gelembung sabun, dan pengamat militer PBB yang seharusnya memonitor menjadi tidak berguna - atau bahkan lebih buruk: ketika mulai terjadi pembantaian di Houla, rezim itu mengatakan kepada para pemantau PBB untuk menjauh, yang memang dilakukan pengamat PBB, sehingga membawa kenangan buruk atas peristiwa pada pertengahan tahun sembilan puluhan, dimana rakyat Bosnia dan Rwanda diberikan janji-janji palsu perpanjangan perlindungan di bawah bendera PBB sebelum akhirnya mereka ditinggalkan kepada para pembunuh mereka. ”

AS sekarang secara terbuka menyerukan intervensi militer sebagai pilihan karena kepentingannya sedang terusik. Kepentingannya dipertaruhkan saat umat di Suriah menolak perpanjangan tangan Amerika dan sedang bekerja untuk menggantikan Assad dengan pemerintahan Islam yang tulus. Rezim Assad belum mampu memadamkan pemberontakan di Homs, Hama, dan Idlib-yang telah mencapai wilayah pinggiran Damaskus - tempat bercokolnya rezim. Hal ini membuat AS serta rezim al-Assad khawatir sehingga terjadi pembantaian seperti Qubair dan Houla karena rakyat Suriah akan menggantikan Assad dengan pemerintahan yang tulus dan bukan pemerintahan boneka. Dalam perkembangan terakhir kita melihat bahwa bukan rakyat Suriah melainkan AS dan Eropa yang terus-menerus menyoroti kemungkinan perang saudara. Jika terjadi perang saudara akan merupakan perang antara Sunni dan Alawi dan akan membelokkan tujuan untuk menggulingkan rezim Assad. Hal ini tidak hanya akan memberi AS lebih banyak waktu untuk membangun rezim pasca al-Assad - suatu strategi AS yang digunakan di Irak- melainkan juga akan menjadi dalih intervensi asing. Ini sudah dapat dilihat saat Barat menuduh gerilyawan asing yang mendukung Tentara Pembebasan Suriah sekaligus menodai perjuangan FSA seperti yang dilakukan dengan Sunni di Irak yaitu dengan mengatakan mereka dibantu oleh al Qaeeda.

Mengapa Arab Saudi, Yordania dan sebagian besar negara-negara Teluk tidak melihat adanya pemberontakan massa?

Hubungan antara para penguasa dan rakyat di negara-negara itu berbeda jika dibandingkan dengan hubungan antara para penguasa dan rakyat di Libya, Suriah dan Mesir. Di Libya, Suriah dan Mesir, para penguasanya memerintah dengan tangan besi, mendirikan apa yang dinamakan sebagai polisi negara dan hubungan sosial dipertahankan melalui dinas rahasia. Faktor-faktor ini tidak ada di negara-negara Teluk, Saudi dan Yordania.

Di Yordania, protes rakyat telah dibatasi sebagai seruan untuk melengserkan Perdana Menteri. Raja Abdullah telah menolak berbagai pemerintah untuk bertanggung jawab atas protes jalanan itu. Sejak kemerdekaan Yordania pada tahun 1946, istana telah menunjuk lebih dari 60 perdana menteri, termasuk tiga orang sejak kerusuhan pecah di Arab tahun 2011. Raja Abdullah membubarkan Pemerintahan Perdana Menteri Samir Rifai dan kemudian memasukkan Marouf al-Bakhit, seorang mantan jenderal AD, yang bertanggung jawab membentuk kabinet baru dan melembagakan reformasi. Protes masih terus berlanjut, hingga menyebabkan Raja Abdullah memecat Bakhit dan kabinetnya, lalu menunjuk AWN Shawkat Al-Khasawneh untuk memimpin pemerintah baru dan lembaga reformasi baru. Sejauh ini, Raja Abdullah berhasil menanggulangi protes rakyat dengan terus-menerus membubarkan pemerintah dan hal ini telah menenangkan rakyat.

Di Arab Saudi telah terjadi protes di wilayahnya saat pemberontakan kaum Syiah dan hal ini telah menyebabkan sebagian penduduk untuk mendukungnya di kota-kota seperti Qatif, al-Awamiyah, dan Hofuf. Untuk menanggulangi pemberontakan, monarki itu memberikan banyak uang bagi warganya sebesar $ 10.7 milyar. Ini termasuk pendanaan untuk mengimbangi inflasi yang tinggi dan untuk membantu pengangguran bagi kaum muda dan bagi warga negara Saudi yang belajar di luar negeri, serta sebagai pinjaman. Sebagai bagian dari skema itu, pegawai pemerintah di Saudi mendapat kenaikan gaji sebesar 15%, dan uang tunai disediakan untuk pinjaman perumahan. Tidak ada reformasi politik yang diumumkan sebagai bagian dari paket itu. Mufti Besar Arab Saudi juga mengeluarkan fatwa yang menentang petisi dan demonstrasi, dimana fatwa itu menyertakan “ancaman besar terhadap perbedaan di dalam negeri.”

Negara-negara Teluk tidak melihat banyak protes selain di Bahrain dan Oman. Negara-negara kota seperti itu menenangkan pemberontakan dengan membuat beberapa reformasi, merubah kabinet dan memperbaiki ekonomi. Sementara banyak dari mereka yang memiliki pemerintahan monarki, mereka tidak memerintah dengan tangan besi. Sementara Bahrain terus menekan penduduk yang mayoritas Syiah, Oman merupakan satu-satunya negara Teluk dimana terjadi protes yang signifikan. Sultan melanjutkan kampanye reformasinya dengan membubarkan beberapa kementerian, menyiapkan yang baru, memberikan kemudahan bagi mahasiswa dan pengangguran, memecat sejumlah menteri, dan me-reshuffle kabinetnya tiga kali. Selain itu, diciptakan hampir 50.000 pekerjaan di sektor publik, termasuk 10.000 pekerjaan baru di Kepolisian Oman. Upaya pemerintah sebagian besar telah menenangkan demonstran, dan di Oman belum ada demonstrasi yang signifikan sejak Mei 2011, saat protes yang semakin keras di Salalah berhasil ditundukkan.

Apakah pemberontakan di Bahrain merupakan perjuangan sektarian?

Mayoritas penduduk Bahrain adalah Syiah - yakni lebih dari 70% nya, namun pemerintahnya adalah Sunni dan sangat terkait dengan Arab Saudi. Secara ekonomi, penduduk Syiah di sana tidak bernasib sebaik penduduk Syiah di negara-negara lain di kawasan itu dan ketegangan antara pemerintah dan masyarakat telah lama ada.

Krisis di Bahrain terjadi antara monarki dan kaum Syiah. Hal ini karena adanya pengabaian dan penindasan oleh monarki yang menindas kaum muslimin hingga memaksa banyak orang untuk turun ke jalan. Secara historis, strategi kolonial yang dipakai adalah dengan menempatkan kaum minoritas sebagai pernguasa atas mayoritas, sehingga mereka akan selalu membutuhkan bantuan asing. Inggris meninggalkan minoritas kaum Sunni untuk berkuasa atas mayoritas kaum Syiah di Irak, juga di Suriah dimana minortitas Alawi ditempatkan pada kekuasaan atas mayoritas kaum Sunni.

Masalah di Bahrain adalah campur tangan asing dan penguasa yang bermuka dua, sektarianisme dalam beberapa kasus telah memicu mereka untuk mempertahankan status quo.

Mengapa kita tidak melihat pemberontakan di Pakistan?

Pakistan belum menjadi pemerintahan diktator yang brutal seperti telah terjadi di Libya, Suriah dan Mesir. Sejak era Musharraf, Pakistan telah bergerak sedemikian rupa, seperti yang dapat terlihat dengan tewasnya banyak orang yang tampaknya terkait dengan terorisme, ini adalah sebuah fenomena yang relatif baru. Pemerintahan di Libya, Mesir dan Suriah ada di tangan para diktator brutal dan satu-satunya cara untuk mengubahnya adalah melalui pemberontakan.

Tidak seperti di Libya, Mesir dan Suriah, Pakistan memiliki sistem politik yang tidak dikontrol oleh sebuah klan tunggal, disana terdapat pusat-pusat kekuasaan yang berbeda, dimana dua keluarga secara historis mendominasi sistem politik. Para pemilik tanah yang feodal, industrialis, keluarga-keluarga kaya dan tentara, semua adalah pusat kekuasaan yang mempertahankan arsitektur politik Pakistan. Sementara itu kaum oportunis, faksi-faksi dan individu dan kelompok-kelompok Islam telah memasuki proses politik untuk kepentingan pribadi mereka. Proses politik di Pakistan melibatkan segmen masyarakat yang jauh lebih luas dibandingkan dibandingkan dengan di Libya, Mesir dan Syria dan hal ini telah menjadi garis hidupnya.

Untuk saat, perubahan di Pakistan adalah menjadikan sistem politik, yakni parlemen untuk lebih demokratis atau mensahkan beberapa hukum Islam. Itulah sebabnya mengapa belum ada pemberontakan di negara ini meskipun perekonomian memburuk dan pemadaman listrik telah menjadi hal biasa.

Bagaimana situasi saat ini di Mesir?

Sejak Nasser merebut kekuasaan pada tahun 1952, militer membangun arsitektur politik Mesir. Sistem ini terus menjadikan tentara bertanggung jawab atas isu-isu strategis seperti kebijakan Luar Negeri, dan Pertahanan. Pada beberapa kesempatan, sebagian aspek kebijakan dalam negeri diserahkan kepada parlemen untuk ditangani. Namun Nasser, Sadat dan Hosni Mubarak berkuasa dengan kuat. Pemilihan parlemen yang telah berlangsung sejak tahun tahun 1950an pada kenyataanya telah menjadi hiasan belaka karena semua kekuatan tetap di tangan militer, yang telah mengambil pos kepresidenan dalam sebagian besar sejarah Mesir.

Namun, Musim Semi Arab menantang arsitektur politik ini dan tentara melihat kepentingan mereka mulai terancam, kemudian melengsengkan Mubarak dari kekuasaannya. SCAF - Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata - yang merupakan kepemimpinan militer Mesir, telah mengawasi transisi kekuasaan sejak itu. Pemilihan presiden dan pemilu untuk parlemen pada bulan November 2011 adalah sistem yang sama seperti yang dibangun Nasser pada tahun 1950. Namun, pada kesempatan ini berwajah sipil. Apa yang telah terjadi di Mesir merupakan kelanjutan dari sistem lama dengan wajah baru.

Pemilihan ini berlangsung dalam suatu lingkungan, di mana kekuasaan presiden tidak didefinisikan dan konstitusi negara juga belum ditulis. Jadi hasilnya adalah tidak berguna karena kekuatan partai pemenang pemilu bahkan tidak didefinisikan. Skenario ini bukanlah sebuah kecelakaan. SCAF telah menunda penulisan konstitusi negara untuk memastikan kepentingan mereka selalu tetap terlindungi.

Tindakan SCAF menjelang pemilihan presiden dengan mengeluarkan keputusan konstitusional memberikan diri mereka kekuasaan yang luas atas konstitusi masa depan, anggaran pemerintah, kebijakan luar negeri dan hak memveto undang-undang, yang jelas menunjukkan bahwa para jenderal tidak berniat menyerahkan kekuasaan dalam waktu dekat. Mereka bahkan membawahi peradilan, yang sangat dipengaruhi oleh militer hingga mereka membubarkan parlemen.

SCAF melengserkan Hosni Mubarak dan masih mempertahankan kekuasaannya. Hal ini dilakukan untuk memastikan kekuatannya tidak lenyap dengan memutuskan kekuasaan presiden. Mesir masih memiliki tentara yang mendominasi kekuasaan dan sekarang mendominasi seorang presiden - perubahan yang terjadi hanyalah bahwa Hosni Mubarak tidak lagi berkuasa.

Presiden baru Muhaamed Mursi, akan perlu membuat kesepakatan dengan militer agar tetap berkuasa, sambil menenangkan rakyat Mesir yang memilih dia karena janji Islam. Suatu kebuntuan antara tentara dan rakyat mungkin terjadi.

Bagaimana situasi saat ini di Tunisia?

Sejak pemilu bulan Oktober 2011 dimana Ennahda menang dengan 38% total suara, tidak cukup menjadikannya mayoritas. Majelis Konstituante memiliki mandat satu tahun untuk menyusun konstitusi. Sejak itu, Ennahda telah menarik kembali landasan mereka untuk kembali pada Islam. Mereka telah menyatakan tidak akan mendukung untuk menjadikan syari’at sebagai sumber utama perundang-undangan dalam konstitusi baru dan akan menjaga sifat sekuler negara. Sikap Ennahda pada sebuah masalah telah mempertentangkan negara itu sejak pemberontakan dimulai.

Ennahda, yang muncul sebagai partai terbesar dalam pemilu demokratis pertama di Tunisia telah menyatakan pihaknya akan terus menjaga pasal pertama konstitusi 1956 dalam hukum konstitusi baru yang sedang dirancang. Ayat ini mengabadikan pemisahan agama dan negara, dimana dinyatakan bahwa: “. Tunisia adalah negara, yang merdeka dan berdaulat, agama adalah Islam, bahasanya adalah bahasa Arab dan merupakan sebuah republik.” “Kami tidak akan menggunakan hukum untuk memaksakan agama, ” kata pemimpin Ennahda, Rachid Ghannouchi, kepada wartawan setelah komite konstituen partai memilih mempertahankan ayat konstitusi. Ayat tersebut, tambahnya,” merupakan objek konsensus di antara semua elemen masyarakat; yang melestarikan identitas Tunisia sebagai negara Arab-Muslim sementara menjamin prinsip-prinsip negara demokratis dan sekuler.” Islam adalah agama resmi Tunisia sementara konstitusi menetapkan presiden harus seorang Muslim, negara itu kebanyakan sekuler.

Bagaimana situasi saat ini di Libya?

Saat ini Libya tidak memiliki tentara yang sepenuhnya mapan. Pasca jatuhnya Gaddafi dan rezimnya, Libya tidak memiliki otoritas politik terpusat. Negara ini masih berjuang untuk pulih dari perang panjang selama berbulan-bulan melawan Gaddafi, dan baik NTC maupun pemerintahan transisi yang terbentuk pada November 2011 menyatakan memiliki wewenang dan legitimasi. Kekuatan tetap di tangan milisi bersenjata, dan tidak satupun dari mereka yang cukup kuat untuk mulai bertindak sebagai kekuatan militer nasional. Masyarakat internasional telah lama memandang NTC sebagai cikal bakal negara Libya di masa depan. Laporan media telah menggambarkan bagaimana pemerintahan interim teknokratis sedang melakukan negosiasi kontrak-kontrak dengan perusahaan-perusahaan barat.

Namun pada saat ini, jumlah NTC memiliki tantangan yang paling mendasar bagi pembentukan negara: membangun keamanan dalam negeri. Pembentukan Tentara Nasional Libya yang masih berlangsung merupakan pusat tekanan atas NTC untuk menyelesaikan tugas ini.

Pemilu yang dijadwalkan pada bulan Juni 2012 telah ditunda karena NTC mempunyai sedikit wewenang. Libya sekarang dikendalikan oleh jaringan milisi bersenjata, dengan banyak dari mereka mewakili suku-suku yang kuat. Kelemahan pemerintah pusat berarti mereka dapat beroperasi dengan mendapat kebebasan hukuman (impunitas). Beberapa kota telah melakukan eksperimen politik mereka sendiri. Pada bulan Februari 2012, kota Misrata secara sepihak mengadakan pemilu sendiri.

Libya sangat cepat menjadi negara seperti Irak ketika AS menginvasi negara itu.

Kesimpulan

Musim Semi Arab di ulang tahunnya yang 18 bulan berada mungkin dibajak oleh partai-partai Islam untuk kepentingan mereka sendiri. Setelah banyaknya rakyat yang dikorbankan di jalanan dalam melawan diktator brutal, umat di wilayah itu memilih partai-partai Islam karena mereka mewakili Islam. Partai-partai Islam itu tampaknya sekarang memiliki keraguan atas penerapan Islam dan selalu menemukan alasan untuk tidak menerapkan Islam.

Saat umat menggulingkan para penguasa diktator, kelompok-kelompok tersebut harus ingat bahwa mereka juga dapat dengan mudah terlempar. Kelompok-kelompok semacam ini sekarang menemukan diri mereka berkuasa dan sekarang harus mengembangkan kebijakan bagi masalah kedaerahan seperti pengangguran, pembangunan dan kemiskinan - Ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi mereka, memenangkan pemilu hanyalah awal. (RZ)

Sumber:www.khilafah.com - hizbut-tahrir.or.id

Wednesday, July 11, 2012

Anda tidak mau disebut radikal. Tidak mau juga disebut fundamentalis. Lantas maunya disebut apa?

“Anda tidak mau disebut radikal. Tidak mau juga disebut fundamentalis. Lantas maunya disebut apa?” tanya wartawan Newsweek kepada saya dalam satu kesempatan wawancara.

++++


Sebutan ‘Islam radikal’ (radical Islam) dan ‘Islam fundamentalis’ (fundamentalist moslem), juga istilah ‘Islam garis keras’ (hard-liner moslem) atau ekstremis Islam memang harus ditolak. Pasalnya, itu semua adalah istilah pejoratif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pejoratif adalah unsur bahasa yang memberikan makna menghina dan merendahkan.

Bahasa membawa cerita. Demikianlah, tiap sebutan juga pasti mengandung citra dan cerita tertentu yang telah terbentuk atau dibentuk sebelumnya. Celakanya, semua sebutan tadi telah memiliki citra yang buruk. “Radikalis”, “Fundamentalis”, “Ekstremis”, “Garis Keras” adalah istilah-istilah dalam wacana (discourse) yang dikembangkan oleh Barat untuk menyebut kelompok atau individu Muslim yang menurut mereka eksklusif, doktriner, anti dialog dan memusuhi Barat serta cenderung pada kekerasan. Sekali Anda melakukan kekerasan, baik benar-benar Anda melakukan ataupun dibuat seolah-olah Anda melakukan, maka cap teroris akan melekat. Sekali dicap teroris, maka Anda akan menjadi pesakitan selamanya.

Lihatlah bagaimana Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) akhirnya dicap sebagai kelompok teroris. Sebagai organisasi, sesungguhnya JAT tidak pernah terbukti terlibat dalam kekerasan, bahkan secara tegas mereka ikut mengecam Bom Bali. Namun, karena Ustadz Abubakar Ba’asyir dituduh ikut terlibat dalam pelatihan di Janto, Aceh, maka cap teroris itu seolah absah dilekatkan padanya, meski kemudian di Pengadilan tuduhan itu tidak terbukti.

Itulah dahsyatnya hegemoni wacana. Dan melalui hegemoni itu, Noam Chomsky, profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT), AS, menyebut media Amerika Serikat telah memproduksi consent (imaji lewat media untuk memberikan sekutunya semacam hak untuk melakukan sesuatu yang salah secara hukum tetapi berhak untuk tidak dituntut) ke dalam benak masyarakat. Imaji lewat media itu dilakukan melalui serangkaian istilah-istilah yang terus disemburkan ke ruang publik melalui media yang memang telah didominasi Barat. Jadilah publik, termasuk orang Islam sendiri, percaya bahwa janganlah menjadi orang Islam yang radikal, fundamentalis dan ekstremis; jangan pula masuk ke dalam kelompok garis keras (hard liner) karena itu semua adalah buruk.

Melalui hegemoni wacana, publik juga dipaksa percaya bahwa al-Qaida adalah benar-benar teroris karena, menurut Pemerintah AS, mereka telah melakukan kekerasan. Padahal andaipun benar mereka melakukan kekerasan, sesungguhnya AS dan sekutunya juga melakukan kekerasan, bahkan dengan skala dan intensitas yang jauh lebih dahsyat dimana-mana. Namun, mengapa AS dan sekutunya itu tidak pernah disebut teroris?

Pemberitaan media massa, sebagaimana sejarah, adalah realitas tangan kedua (second-hand reality). Yang kita baca di koran atau kita dengar dan lihat di televisi bukanlah realitas sesungguhnya, tetapi rumusan atas realitas di lapangan yang telah diolah oleh reporter, redaktur, termasuk para juru foto dan kamerawan sesuai dengan garis kebijakan atau ideologi pemberitaan yang mereka anut. Hasil olahan media itu bisa menampilkan citra yang sangat berbeda dengan fakta sesungguhnya. Maka dari itu, bila sekadar dari media, orang memang bisa salah menilai.

Dalam Konferensi Tokoh Umat (KTU) Yogyakarta pada 10 Juni lalu, ada seorang peserta yang menyebut HTI sebagai kelompok jalanan karena sering melakukan demo. Orang ini pasti telah terpengaruh oleh pemberitaan karena memang dari sekian banyak kegiatan HTI, yang di mata media massa bernilai berita, mungkin adalah aksi demo itu. Akibat pemberitaan media, tidak sedikit orang yang memang salah menilai HTI. Jadilah orang mengira kegiatan HTI hanya demo, atau bisanya cuma demo. Padahal kegiatan HTI bukan hanya demo.

Citra juga bisa terbentuk melalui foto-foto atau gambar yang menyertai pemberitaan. Ada anggota masyarakat yang takut dengan HTI karena menganggap HTI itu seram. Rupanya ia telah terpengaruh oleh foto atau gambar-gambar aksi demo HTI yang oleh fotografernya diambil dari wajah-wajah peserta aksi yang kebetulan tengah meneriakkan takbir dengan kepalan tangan ke atas, yang tentu saja kelihatan sangat garang.

Menjelang Konferensi Khilafah di Sydney tahun 2007 lalu saat saya menjadi salah satu pembicara, media massa di sana mempersoalkan mengapa Pemerintah Australia memberikan visa kepada saya. Untuk melengkapi pemberitaan, dan mungkin untuk memberikan kesan seram, dipasang foto close-up saya dengan raut muka yang memang tampak keras dengan judul besar Indonesia Radical Moslem Cleric. Saya sendiri tidak tahu mereka dapat foto itu dari mana. Namun, membaca berita itu, ditambah dengan foto dengan wajah yang tampak tidak bersahabat, pasti orang akan mendapatkan citra kurang bagus.

Namun, percayalah, itu adalah citra yang bersifat sementara. Semua bisa berubah atau diubah ketika terjadi kontak langsung. Melalui pertemuan dengan HTI, orang akan mendapati fakta yang sesungguhnya tentang HTI, idenya dan orang-orangnya, yang boleh jadi sangat berbeda dengan kesan atau citra yang ada di dalam benaknya selama ini. Di sinilah pentingnya kontak atau pertemuan-pertemuan langsung; bahwa semua citra buruk tentang HTI itu tidaklah benar.

++++



Jadi, Anda maunya disebut apa? Kepada wartawan Newsweek, saya katakan, “Sebut kami, the Truly Moslem atau Muslim yang sebenarnya.”

Ini istilah yang saya reka sendiri, meniru jargon pariwisata Malaysia yang dalam advetorialnya menyebut Malaysia sebagai the Truly Asia atau Asia yang sebenarnya. Saya sendiri tidak tahu apakah istilah itu tepat atau tidak. Insya Allah sih, tepat. Maksudnya, istilah itu menggambarkan bahwa kita, dan tentu umat Islam lain, adalah orang-orang yang meyakini Islam sepenuhnya dan memahami serta mengamalkan seluruh ketentuan Islam dengan sebaik-baiknya.

Mengapa tidak digunakan saja istilah Muslim kaffah? Betul. Semestinya kita tidak kesulitan untuk menyebut siapa diri kita. Namun, itulah yang terjadi. Di era globalisasi seperti sekarang ini, saat Barat mendominasi hampir seluruh sendi kehidupan, termasuk mendominasi ruang opini publik, ternyata kita direpotkan dengan istilah-istilah, hingga kita kesulitan menyebut diri kita sendiri.

Jadi, benarkah HTI itu “kelompok jalanan”? Setengah bercanda, saya katakan kepada peserta KTU yang bertanya tadi, bahwa HTI itu bukanlah kelompok jalanan, tapi “kelompok ruangan” karena kegiatannya lebih banyak di dalam ruangan daripada di jalanan. Buktinya, ya KTU ini.

Setelah sekian lama wawancara, saya balik bertanya kepada wartawan Newsweek, TV ABC dan NBC yang berbarengan mewawancarai saya, “Apakah Anda percaya orang seperti saya ini adalah teroris?” Serentak mereka menjawab, “Oh, no, no…”

Lalu wartawan The Washington Post setelah wawancara dengan enteng nyeletuk, “You are too smart to be Moslem.”

Jadi benarlah, meeting makes changing. Pertemuan akan merubah semua. Karena itu, mari kita rajin bertemu atau kontak dengan orang lain. Tentu bukan sekadar kontak, tetapi kontak yang terarah (ittishalah maqsudah). Dengan kesungguhan dan penjelasan yang jelas dan tegas disertai keikhlasan yang berangkat dari semangat tauhid, pertemuan-pertemuan itu insya Allah akan mampu mengubah sikap orang dari yang semula antipati menjadi simpati; dari menentang menjadi pendukung. Yakin. [http://hizbut-tahrir.or.id/2012/06/27/citra/]

Tuesday, January 4, 2011

Tren 2011 Dari Wikileaks Sampai TV Internet

Tren 2011 Dari Wikileaks Sampai TV Internet

MENUJU 2011 banyak prediksi yang telah dikemukakan para pengamat tentang masa depan dan tren gadget. Namun bagaimana masa depan dunia media yang masuk ke ranah digital? Apa saja yang paling diminati masyarakat?

1. Era Wikileaks

Tahun lalu jagat maya dunia digegerkan oleh kehadiran Wikileaks dengan ribuan dokumen diplomatik AS yang sangat rahasia. Pendirinya Julian Assange pun dituduh sebagai seorang 'teroris'. Namun prediksi para pengamat media digital, situs semacam Wikileaks masih menjadi primadona.

Wikileaks telah menjadi trendsetter bagi masyarakat yang haus informasi. Buktinya setelah Wikileaks 'dihajar habis-habisan, telah lahir situs-situs sejenis seperti Openleaks, Brusselsleaks, dan Tradeleaks. 'Leakification' ini akan terjadi dalam satu tahun ini.

2. Merger Industri Penerbitan

Era digital juga diwarnai dengan akuisisi perusahaan penerbitan besar di luar negeri. Contohnya Newsweek merger dengan The Daily Beast. Tren ini akan terjadi pada beberapa perusahaan penerbitan lainnya. Kebanyakan merger ini dilakukan untuk membuat usaha baru yang lebih bisa mengikat pembacanya, atau membuat blog agar mudah berinteraksi dengan pembaca.

3. Surat Kabar Bermigrasi Ke Tablet

Penjualan komputer tablet di era 2010 cukup bagus. Tahun lalu telah terjual 15,7 juta unit komputer tablet di seluruh dunia. Dan iPad menguasai 85% pangsa pasar dunia. Atas dasar itu, banyak perusahaan media massa yang mengajak kerja sama dengan Apple, untuk masuk ke ranah iPad.

Seperti yang dilakukan kelompok raksasa News Corp dengan The Daily yang dirilis tahun ini, siap menghiasi halaman muka iPad Anda. Di Indonesia pun ada beberapa surat kabar yang sudah bekerja sama dengan komputer tablet buatan Korea itu. Tren itu akan diminati para pengusaha media, untuk menyebarkan informasi tercepat lewat komputer tablet.


4. Situs Pencari Lokasi

Berita saja tidak cukup. Sebuah peristiwa harus dilengkapi dimana lokasi kejadiannya. Tuntutan itulah yang menyebabkan banyak orang kini menjadi anggota Foursquare, Gowalla, dan SCVNGR.

Facebook pun kini mengikuti tren itu dengan menggunakan produk Places di dalam permainan jejaring sosial. Sedangkan Google memanfaatkan HotPot dalam mencari lokasi. Walau belum banyak orang memanfaatkan teknologi pencarian lokasi layaknya GPS, jejaring sosial semacam itu akan terus diminati, seiring dengan meningkatnya konsumen tablet.


5. Sosial vs Pencarian

Sejak lahirnya Facebook, dunia mulai digerakkan menuju terbangunnya jejaring sosial di seluruh penjuru Bumi. Orang kini lebih senang mencari teman lama, atau menambah daftar teman baru, demi terbangunnya jejaring sosial.

Selain Facebook, Twitter juga menjadi laman jejaring sosial yang tumbuh sangat cepat. Kebiasaan itu masih akan terus berlangsung sampai tahun ini. Apabila tahun-tahun sebelumnya, orang punya kebiasaan mencari data dengan mesin pencari data Google. Kini mereka lebih suka mencari informasi tentang kawan.


6. Era Citizen Journalism

Tidak ada lagi batasan dalam memperoleh informasi. Saat ini tidak hanya jurnalis saja yang bisa membuat berita. Masyarakat pun bisa membuat berita, dan mampu mempengaruhi pemikiran banyak orang.

Reuters Institute for the Study Journalism menyebutkan era sekarang makin banyak bermunculan informasi yang bersumber dari masyarakat, yang disebut dengan citizen journalism. Bila Anda penikmat CNN pun akan ada ruang I Report, yang isinya adalah kiriman berita dari berbagai belahan dunia, beserta rekaman gambarnya. Tren ini akan terjadi di Asia dan Afrika.

Era tahun ini merupakan era kematian para koresponden asing dan stringer. Era masyarakat mewartakan berita sesuai dengan cara pandang mereka.


7. Niche Technology

Model sindikasi (kongsi gabungan perusahaan) akan menganggu para penerbitan di era 2011 ini. Sebagaimana telah diprediksikan jauh sebelumnya, dengan adanya gabungan itu maka akan banyak berita yang sama muncul di beberapa tempat.

Hal itu disebabkan semakin banyak karyawan dikurangi dengan adanya kongsi gabungan. Untuk itulah perlu kurator berita, agar berita yang dimiliki di laman yang satu berbeda dengan lainnya.
Salah satu caranya dengan menggunakan teknologi publikasi niche. Teknologi ini bisa berfungsi sebagai kurator. Dengan teknologi itu, maka berita-berita yang dimunculkan terjaga kualitasnya, termasuk kredibilitas situs tersebut.


8. YouTube Terus Bergaung

Cerita yang ada di masyarakat pun bisa menjadi sebuah berita dan realita yang patut disimak. YouTube salah satunya akan menjadi media produksi video yang tetap digemari. Lantaran YouTube menampilkan banyak cerita yang bersumber dari masyarakat.

YouTube pun telah menjadi ajang barometer kesuksesan sebuah bisnis. Video klip musik pun sering mengukur kemauan pasar lewat YouTube. Lewat YouTube pula video klip musik lagu-lagu lama bisa diunduh dan dibagikan lewat jejaring sosial Facebook.



9. Desentralisasi Di Tubuh Redaksi

Media berbasis sosial akan menjadi tren di masa sekarang ini. Sejumlah raksasa media di Amerika Serikat telah melakukan revolusi di tubuh redaksi, dengan mengedepankan media sosial sebagai landasannya.
Strategi itu telah dipakai The Time, New York Time, USA Today, yang telah mengubah sistem sentralisasi menjadi desentralisasi di tubuh redaksi.

Kini jurnalis akan bekerja sama dengan editor dalam menyajikan menu utama berita yang enak dinikmati pembaca. Jurnalis sebagai 'penguasa' masalah atau isu di lapangan mempunyai hak menentukan berita mana saja yang patut ditayangkan.


10. Kebangkitan TV Interaktif

Era 2010 telah diperkenalkan TV internet untuk pertama kalinya. Anda tentu mengenal Google TV, iTV, Boxee Box, dan lainnya. Semuanya memang tersambung dengan web. Tahun ini, transformasi TV internet tidak hanya dominan pada konten seperti halnya TV tradisional. Nantinya TV internet akan memunculkan interaksi antar penonton. mediaindonesia.com

Tuesday, November 9, 2010

Sektor Migas Disusupi Kepentingan Asing

Salah satu bentuk nyata lain masuknya kepentingan asing dalam pengelolaan aset negara yakni pada Undang-Undang Migas. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Edi Swasono pembentukan Undang-Undang Migas merupakan bentuk dari kejahatan moral.
Ia juga menegaskan, tidak ada kejahatan secanggih yang dilakukan dalam UU Migas tersebut. "Bagaimana tidak dulu sebelum Undang-Undang Dasar itu di amandemen, RUU Migas sudah ada dan bunyinya dalam konsideran yakni penetapaan RUU Migas sesuai dengan ayat 2 pasal 33 Undang-Undang Dasar. Padahal itu belum ada perubahan," tutur Edi.  

Ironisnya, kata dia, bunyi konsideran itu tetap ada meski Pasal 33 itu tidak berubah. "Ini yang akan kami ajukan class action ke MK," katanya dalam diskusi Investasi Asing dan Nasionalisme Indonesia : Indonesia Tidak untuk Dijual, di Jakarta, Senin ( 8/11).

Sementara pengamat Perminyakan Kurtubi mengungkapkan UU migas itu melanggar Undang-Undang Dasar karena konsepnya yang menganut sistem konsesi. Investor mengelola secara langsung wilayah pertambangan, sementara pemerintah mendapat royalti dan penerimaan dari pajak.
"Jadi hubungan bisnis to government. Government diwakili oleh BP Migas. Seharusnya tidak demikian tapi melalui Bisnis to Bisnis," jelasnnya.

Bisnis to Bisnis yang dimaksud yakni dengan memberdayakan pertamina sebagai BUMN Migas. Dengan demikian daya tawar harganya akan semakin baik. "Pertamina yang berhubungan dengan Investor. Jadi BP Migas itu tidak diperlukan. dibubarkan saja," terangnya.

Kurtubi mencontohkan salah satu lemahnya daya tawar pemerintah terhadap asing itu, yakni dalam pengelolaan kontrak gas tangguh yang dibayar dengan murah ke China. "Harga gas Tangguh ke Fujian (Cina) hanya 3,35 dolar AS per MMBTU (juta British Termal Unit), sementara gas Badak dijual ke Jepang sampai 13 dolar AS per MMBTU," ungkapnya. republika.co.id

Hati-hatilah Terhadap Racun Obama!

Hizbut Tahrir Indoensia (HTI) mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati menghadapi racun Presiden AS Barrack Obama menyusul rencana kunjungannya ke Indonesia pada 9-10 November 2010 mendatang. HTI menilai bahwa racun Obama sangat nyata dan terasa di negeri ini.

"Telah tampak jelas bahwa kunjungan Obama tak lain demi mengimplementasikan rencana beracunnya itu, melemahkan dan mematikan Anda," ucap anggota DPP HTI, Rochmat S Labib di kantor HTI, di Jakarta, Jumat (5/11/2010).

Dikatakan, Amerika adalah aktor di balik masalah terorisme buatan yang menjamur di Indonesia. Amerika juga berupaya mengubah kurikulum di pesantren-pesantren yang memiliki manajemen mandiri, khususnya setelah munculnya masalah teroris.

Selain itu, Amerika, melalui dinas intelejennya, mengikat kerjasama dengan dinas intelejen Indonesia. Bahkan, Amerika ternyata telah mendorong gerakan separatis di Papua untuk melanggengkan hegemoninya atas tambang emas yang merupakan tambang emas terbesar di dunia.

"Sosok Presiden seperti itulah yang rencananya akan berkunjung ke Indonesia. Sebuah sosok yang kejam, yang tidak beda dengan Bush," imbuhnya. tribunnews.com 

Menakar Hasrat Publik Turki untuk Bergabung dengan UE

Hasrat rakyat Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa tampaknya makin meredup. Direktur Pusat Kajian Uni Eropa di Universitas Akdeniz, Turki, Dr Erol Esen mengungkapkan bahwa masyarakat Turki sudah pesimis dengan keinginan negaranya untuk bergabung dengan Uni Eropa. Menurutnya, hanya 38 persen warga Turki yang menginginkan negaranya bergabung dengan Uni Eropa. Sementara itu, hasil jajak pendapat lewat telepon yang digelar sebuah lembaga polling di Jerman menunjukkan, 83 persen warga Turki tidak mempercayai sikap Uni Eropa terhadap negaranya. Padahal pada masa-masa awal perundingan keanggotaan Turki ke dalam Uni Eropa pada tahun 2005, sekitar 80 persen warga negara itu mendukung keanggotaan negaranya ke dalam Uni Eropa.
Melihat kenyataan ini, merosotnya dukungan publik Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa dan kepercayaan mereka terhadap organisasi regional benua biru itu mengundang banyak pertanyaan dan analisa pelbagai kalangan. Sebagian pihak menilai, salah satu faktor kekecewaan masyarakat Turki terhadap Uni Eropa berangkat dari ketidakpastian penetapan waktu kapan Ankara bakal diterima sebagai bagian dari masyarakat Eropa. Selain itu, pelbagai hasil jajak pendapat yang digelar di negara-negara Eropa mengenai tanggapan publik Eropa terhadap keanggotaan Turki ke dalam Uni Eropa juga turut menjadi faktor yang membuat rakyat Turki semakin pesimis. 

Hasil polling terbaru yang digelar di Austria baru-baru ini menunjukkan bahwa mayoritas responden atau 69 persen warga negara itu menolak keanggotaan Turki ke dalam Uni Eropa. Bahkan kalangan partai-partai sayap kanan Eropa belakangan juga menegaskan tekadnya untuk menghalau masuknya Turki ke dalam Uni Eropa. Mereka berdalih, jika negara-negara non-Eropa bergabung ke dalam Uni Eropa niscaya masa depan organisasi regional ini akan dipertanyakan. Sementara Inggris selaku negara yang menyokong keanggotaan Turki, ternyata 30 persen warganya menentang hal itu. Parahnya lagi, Perancis dan Jerman selaku dua negara utama di Uni Eropa juga turut menentang. Karuan saja rangkaian faktor tersebut kian mempersulit langkah Ankara. 

Selama ini, Perancis senantiasa menjadikan perbedaan budaya dan agama sebagai dalih penentangannya. Paris beralasan masuknya sebuah negara mayoritas muslim ke dalam Uni Eropa bisa mengancam intergritas dan solidaritas di tubuh Uni Eropa. Mereka bahkan beralasan bahwa bergabungnya Turki bisa menghapus nilai-nilai dan identitas Eropa yang didominasi kultur Kristen. Apalagi mayoritas masyarakat muslim Turki kini dikenal sebagai komunitas yang makin memegang teguh nilai-nilai dan identitas keislamannya.
Di sisi lain, tersiarnya isu yang menyebutkan dukungan sejumlah partai dan kelompok politik Eropa terhadap gerakan separatis Kurdi seperti PKK turut menjadi faktor penting yang membuat masyarakat Turki semakin tidak percaya dengan Uni Eropa. (IRIB/LV/NA) indonesian.irib.ir

Obama Go Home!

Presiden AS Barack Obama tiba di Indonesia (9/11) disambut ratusan pengunjuk rasa yang berkumpul mengutuk kunjungannya. Warga berkumpul di luar kedutaan besar AS di ibukota Indonesia, Jakarta selama empat hari berturut-turut dalam rangka menentang kunjungan Obama.

Para pengunjuk rasa membakar bendera AS dan menyeru kepada pemerintah Indonesia untuk menegakkan martabat negara dan berhenti tunduk pada kebijakan luar negeri pemerintah AS. "Pemerintah Indonesia tampaknya sudah mati karena selalu menunduk di hadapan kebijakan-kebijakan AS," kata salah satu demonstran kepada kantor berita Cina, Xinhua (9/11).

Para demonstran juga menyeru pemerintah untuk menolak Presiden AS yang disebut sebagai seorang "kolonialis baru," seraya menekankan bahwa mereka percaya rencana Obama untuk meningkatkan perdagangan dan investasi bilateral akan merugikan Indonesia.
Obama, dalam tur Asianya selama 10 hari, meninggalkan New Delhi, India, menuju Jakarta.
Presiden AS juga menghadapi protes serupa di India, ketika ia mengumumkan bahwa transaksi perdagangan bilateral senilai 10 miliar dolar untuk meningkatkan perekonomian AS yang lesu dan menciptakan lebih dari 50.000 lapangan pekerjaan bagi warga Amerika.
Obama dikritik keras karena kunjungannya ke India yang telah menelan biaya 200 juta dolar perharinya di tengah kesulitan ekonomi negaranya saat ini.
Keputusan Obama untuk tinggal selama tiga hari di India juga dikecam banyak pihak.indonesian.irib.ir

Setelah Afghanistan dan Irak, Iran Target Utama AS

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan kehadiran Amerika di Irak dan Afghanistan membuktikan kebenaran bahwa AS adalah kekuatan destruktif di dunia.
Sebagaimana dilaporkan Farsnews, Ahmadinejad mengungkapkan, Gedung Putih mengucurkan jutaan dolar untuk membiayai perang yang disulutnya sendiri di Afghanistan dan Irak. 

"Namun, kedua perang itu justru menjadi bumerang bagi AS, " tutur Ahmadinejad.
"Sepuluh tahun yang lalu, mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush memutuskan untuk menduduki Afghanistan dan Irak melalui propaganda dan konspirasi. Dan target berikutnya adalah Iran," demikian Ahmadinejad menegaskan. 

Ahmadinejad menilai sanksi sebagai upaya musuh untuk menghambat kemajuan bangsa Iran.
Pada bulan Juni lalu, Dewan Keamanan PBB mengadopsi putaran keempat sanksi atas Tehran di bawah tekanan kuat AS, dan mengklaim program nuklir Iran berpotensi diarahkan untuk aplikasi militer.

Tak lama setelah penerapan sanksi PBB, Amerika Serikat, yang memiliki dan menggunakan senjata nuklir di masa lalu, dalam sebuah langkah yang bermotif politik memberlakukan sanksi tambahan terhadap Republik Islam Iran, yang tidak memiliki senjata nuklir, guna menjegal pengembangan teknologi nuklir sipil.

AS kemudian menekan Jepang, Kanada, dan Australia untuk memberikan sanksi sepihak terhadap Republik Islam Iran, terutama mengenai investasi sektor industri energi.
Sebagai anggota dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran berhak memiliki untuk menggunakan energi nuklir untuk pembangkit listrik dan penelitian medis.

"Kini, sanksi telah berubah menjadi peluang bersejarah," kata Ahmadinejad.
Total nilai ekspor Iran mencapai $14,448 milyar yang menunjukkan peningkatan 23 persen dibandingkan tahun lalu. Ahmadinejad menegaskan, "Setiap langkah positif di Iran meningkatkan kebencian musuh-musuh kemanusiaan, namun menciptakan peluang bagi kemajuan dan perkembangan negara lain."(IRIB/PressTV/IRNA/PH) indonesian.irib.ir

Tuesday, October 26, 2010

Sekolah Negeri di Prancis Rindu Agama

Di tengah penerapan prinsip-prinsip sekuler di sekolah-sekolah negeri di Prancis, ternyata civitas akademikanya rindu akan agama.Sebuah penelitian yang dihajat The High Council for Integration (HCI) membuktikan, terjadi peningkatan yang signifikan terkait masalah dengan siswa dari latar belakang imigran, terutama terkait mata pelajaran tentang Holocaust, Perang Salib atau evolusi; permintaan makanan halal; dan makin besarnya penolakan akan budaya Prancis dan nilai-nilainya.

"Hal ini menjadi sulit bagi guru untuk melawan tekanan agama," kata laporan itu, yang diterbitkan dalam bentuk draf oleh surat kabar Journal du Dimanche selama akhir pekan ini. Laporan akhir akan disampaikan kepada pemerintah bulan depan.

"Kita sekarang harus menegaskan kembali guru sekularisme dan melatih bagaimana menangani masalah spesifik terkait dengan penghormatan terhadap prinsip ini," tulis mereka.

Prancis ketat memberlakukan pemisahan agama, dan memasukkan agama ke ruang privat. Pendekatan ini antara lain menentang identitas Islam yang kini diprotes lima juta Muslim di antara 65 juta penduduk negara itu.

Presiden HCI, Patrick Gaubert, mengatakan kepada surat kabar itu bahwa pihaknya memutuskan untuk mempelajari bagaimana murid dari latar belakang imigran disesuaikan dengan sistem sekolah negeri. "Ini merupakan inti dari tantangan yang harus dihadapi masyarakat Perancis."

Laporan, yang mempelajari berbagai masalah yang dihadapi oleh siswa dari latar belakang imigran, nsmun tidak memberikan angka tingkat masalah terkait dengan agama.

Laporan ini menyebut, guru sering dihadapkan keberatan ketika mereka mengajar mata kuliah tentang agama-agama dunia, Holocaust atau perang Perancis di Aljazair, atau peristiwa dibahas berhubungan dengan Israel dan Palestina atau tindakan militer Amerika di negara-negara Muslim, kata studi tersebut. "Para guru secara teratur menemukan bahwa orang tua Muslim menolak anak-anak mereka belajar tentang agama Kristen," katanya. "Sebagian orang berpikir itu sebagai bentuk penginjilan."

"Anti-Semitisme muncul selama program pelajaran tentang Holocaust, seperti lelucon tidak pantas dan siswa menolak untuk menonton film kamp-kamp konsentrasi tentang Nazi," katanya. "Ketegangan sering kali datang dari siswa yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim."

Guru menemukan mereka bisa mendiskusikan perdagangan budak transatlantik tapi bertemu kritik dari siswa ketika mereka dibesarkan sejarah perbudakan di Afrika atau di Timur Tengah. Demikian juga saat menjelaskan tentang Teori Darwin. "Evolusi ditentang oleh murid yang menempatkan tindakan ilahi atau kreasionis tanpa argumen untuk itu."

Di beberapa daerah dengan populasi imigran yang besar, banyak siswa menghindari kafetaria sekolah untuk alasan agama, meskipun menu yang tersedia menawarkan alternatif lain untuk daging babi. "Permintaan untuk menu halal yang kuat, bahkan untuk orang yang sangat muda di sekolah taman kanak-kanak," katanya. "Di beberapa kota, ada petisi untuk penyediaan pangan halal di sekolah-sekolah."

Perancis memungkinkan sekolah-sekolah agama swasta dan jumlah sekolah Yahudi telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ada beberapa sekolah Muslim namun kebanyakan orangtua akan mengalami kesulitan membayar uang sekolah.

Laporan itu mengatakan sekolah-sekolah Prancis harus bersikap kooperatif, menerapkan hak yang sama, dan saling menghormati. Penolakan justru akan menumbuhsuburkan penentangan. "Menjadi warga negara Prancis berarti tantangan untuk menerima pendapat seseorang ini adalah harga yang harus dibayar untuk kebebasan berpendapat dan berekspresi. "Harus kita ingat bahwa kejahatan penghujatan tidak ada di Perancis sejak Revolusi Perancis, bukan?" tutup laporan ini. www.republika.co.id

Mengunjungi Si Penyendiri, Saksi Jasad Hamzah Yang Abadi

Madinah - Jabal Uhud, adalah gunung yang sangat mencintai dan dicintai Nabi Muhammad. Uhud, yang artinya penyendiri, setiap tahun, diziarahi Nabi. Kebiasaan ini kemudian diteruskan para khalifah setelah Nabi wafat. Dan kini Uhud menjadi salah satu tujuan utama ziarah para jamaah haji di Madinah.


Uhud memiliki sejumlah keutamaan, maka wajarlah bila para berziarah selalu menyempatkan diri mengunjunginya. Salah satu keutamaan Uhud, Anas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad memandang ke Uhud sambil berkata, "Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang sangat mencintai kita, dan kita pun mencintainya."

Di kompleks gunung ini, jamaah antara lain ziarah ke makam para syuhada yang di dalamnya ada makam Sayidina Hamzah. Ziarah di sini, jamaah akan mendapatkan kisah bahwa jasad Hamzah tetap utuh abadi dan tidak hancur dimakan tanah. Selain makam syuhada Uhud, tempat bersejarah di kompleks ini adalah masjid al-Fash. Di masjid ini, Nabi pernah salat zuhur setelah Perang Uhud selesai.

Panas sangat terik ketika kami, beberapa wartawan Media Center Haji (MCH), tiba di Jabal Uhud. Gunung ini berjarak 4 kilometer dari Masjid Nabawi. Setelah sekitar 10 menit membelah Jalan Malik Fahd Ibn Abdul Aziz dengan naik bus, kami pun sampai di gunung yang menyimpan banyak sejarah ini.

Meski sangat panas siang itu, ratusan jamaah haji Indonesia dengan semangat mendaki sebuah bukit. Bila anda menduga bukit yang banyak didaki jamaah itu adalah Jabal Uhud, anda salah. Bukit yang tingginya 20 meter itu adalah Gunung Rumat alias gunung pemanah atau juga disebut Jabal Ainain.

Sementara Jabal Uhud, adalah bukit-bukit tinggi menjulang yang jaraknya 1 kilometer di depan Gunung Rumat.Jabal Uhud termasuk gunung terbesar di Madinah. Ia memiliki keliling 19 kilometer dan tinggi 1 kilometer dari permukaan air laut atau 300 meter dari permukaan tanah.

Umat Islam selalu mengingat nama Uhud karena di lembah gunung ini pernah terjadi perang besar antara umat Islam dan tentara Quraisy. Perang yang terjadi pada 15 Syawal 3 Hijrah atau Maret 625 Masehi itu terkenal dengan nama Perang Uhud.

Perang Uhud merupakan perang balas dendam tentara Quraisy setelah kalah dalam Perang Badar. Mereka membakar ladang gandum milik umat Islam di Jabal Uhud yang memancing kemarahan penduduk Madinah.

Dalam perang ini, Nabi mengerahkan 1.000 pasukan. Namun 300 dari pasukan itu dipimpin Abdullah ibn Abi al-Munafik membelot, sehingga pasukan Rasullah tinggal 700 orang termasuk 50 pasukan berkuda. Sementara tentara Quraisy yang dipimpin Bani Abdud Dar berjumlah 3.000 dan 200 pasukan kuda.

Dengan jumlah pasukan yang hanya sepertiga dari musuh, Nabi mengatur strategi dengan menempatkan pasukan di atas Jabal Uhud, sementara regu pemanah jitu disiagakan di Gunung Rumat. Kepada 50 pemanah jitu yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Jabir, Nabi Muhammad berkata,

"Lindungilah pasukan kuda. Jangan sampai mereka menerobos kita dan tetaplah di tempatmu, kalah atau menang, jangan sampai mereka masuk dari belakangmu,".

Dengan strategi tersebut, Nabi memperoleh kemenangan. Namun sayangnya setelah kemenangan itu, para pemanah jitu itu lupa pesan Nabi. Mereka tergoda untuk mengambil rampasan perang yang ada di bawah kaki jabal rumat. Maka saat pasukan muslim sibuk dengan rampasan, pasukan musyrikin pun menyerang balik mereka.

Perang berakhir dengan gugurnya 70 orang tentara muslim dan 22 orang kafir Quraisy. Salah satu yang gugur dari pasukan muslim adalah Hamzah, paman Nabi. Sedangkan Nabi pun terluka parah, rahangnya sampai patah. Nabi kemudian memerintahkan agar para tentara yang mati sahid atau syuhada dimakamkan di lapangan tempat terjadinya perang Uhud.

Biasanya para peziarah, akan mendatangi makam para syuhada terlebih dulu. Di sini mereka akan mendapat cerita kisah Perang Uhud. Setelah itu, para peziarah kemudian mendaki Jabal Rumat.

Ahmad Salimin, Ketua Dewan Dakwah Islam (DDI) Bekasi yang memimpin rombongan jamaah haji kloter 09 JKS berziarah ke Jabal Uhud salah satunya adalah untuk mengingat keperkasaan Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib. "Hamzah merupakan paman Rasul yang paling peduli dengan dakwah Rasullah," kata Ahmad Salimin.

Saking hormatnya kepada Hamzah, Nabi menjuluki sang paman itu sebagai Sayyid Al Syuhada atau pemimpinnya para syuhada. Nabi pun sangat berduka atas kematian Hamzah. Jenazah Hamzah disalatkan sebanyak 70 kali sebelum dimakamkan. Ia dikubur menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsyi (sepupu Nabi) di lokasi yang terpisah dengan lokasi para syuhada lainnya.

Jasad Hamzah dan para syuhada ini mendapatkan keistimewaan dibanding jenazah lainnya. Jasad mereka tetap utuh dan tidak hancur dimakan tanah meskipun telah dikuburkan. Robeh bin Maid Alhasbi, salah seorang penjaga Makam Para Syuhada, mengisahkan jasad Hamzah tetap utuh ketika ditemukan 43 tahun setelah kematiannya.

Dikisahkan, pada tahun 46 Hijriah atau 667 Masehi atau 43 tahun setelah Perang Uhud, terjadi banjir besar di sekitar Uhud. Setelah banjir itu ditemukan dua jasad yang dipercayai kuat sebagai jasad Hamzah dan Abdullah. "Dari ahli sejarah menyebutkan kedua mayat tersebut masih utuh dan segar. Bahkan ada darah segar yang menetes dari luka di tubuh Hamzah," kata Robeh.

Meski dilimpahi mukjizat, umat Islam dilarang meminta doa kepada para syuhada Uhud termasuk Sayidina Hamzah. Di Jabal Uhud dipasang papan penggumuman dalam berbagai bahasa yang salah satunya mengingatkan peziarah agar berdoa langsung kepada Allah SWT dan tidak minta safaat kepada para syuhada. Menziarahi Jabal Uhud ataupun ziarah kubur diperbolehkan untuk memperingatkan umat Islam akan kematian. www.detiknews.com

Iran Batasi Ilmu Sosial Yang dari Pemikiran “Barat”

Teheran -Iran telah menerapkan pembatasan baru atas 12 ilmu sosial perguruan tinggi yang dianggap berdasarkan sekolah-sekolah pemikian Barat dan karena itu tidak sesuai dengan pengajaran Islam. Demikian dilaporkan radio pemerintah Ahad (24/10) kemarin.

Daftar itu termasuk hukum, filosofi, manajemen, psikologi, ilmu politik dan dua subyek yang tampak menyebabkan keprihatinan di antara para pemimpin konservatif Iran: studi perempuan dan hak-hak asasi manusia.

“Isi dari mata kuliah dalam 12 subyek itu tidak selaras dengan dasar-dasar religius dan mereka berdasarkan kampus-kampus pemikiran Barat,” kata pejabat senior pendidikan Abolfazl Hassani kepada radio pemerintah itu. www.tempointeraktif.com

Hassani menyebutkan pembatasan-pembatasan mencegah kampus-kampus universitas dari pembukaan fakultas baru dari subyek-subyek tersebut. Dipaparkannya, pemerintah juga akan merevisi materi dari program-program kuliah hingga 70 persen selama beberapa tahun ke depan.

Keputusan tersebut dipandang sebagai suatu tanggapan atas keprihatinan yang ditunjukkan tahun lalu oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameneim yang mengatakan subyek-subyek (tersebut) dalam mengarah pada keraguan-keraguan religius. www.tempointeraktif.com

Joseph Cohen: Islam Bukan Agama Rasis

Tak benar pandangan yang menilai Islam merupakan agama yang rasis. Islam tidak pula mengajarkan umatnya membenci penganut agama lain.

Islam mengajarkan agar umat berjuang hanya demi Allah semata: untuk melawan mereka yang ingin menghabisi umat Islam, yang menjajah tanah air umat Islam, yang menyebarkan kemungkaran dan ideologi yang bertentangan dengan pandangan Islam justru di negara-negara tempat umat Islam bernaung. Inilah pandangan Joseph Cohen, seorang Yahudi yang kini memeluk islam.

Berdasarkan pengalamannya, Cohen melihat dasar agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Dia menyimpulkan Islam tidak memerlukan perantara ketika seorang Muslim hendak berdialog dengan sang pencipta. Selain itu, Islam tidak menyandarkan fondasi ajaran dengan berbasis kepercayaan pada manusia melainkan pada Quran dan hadis. Sebaliknya agama Yahudi, menurut Cohen, lebih berbasis kepercayaan pada manusia. Masalah lain, setiap Yahudi yang berdoa kepada sang pencipta harus melalui rabbi.

Pertemuan Cohen dengan Islam terbilang unik. Dia, seperti orang Yahudi lainnya, gemar untuk mendiskusikan sesuatu. Di sebuah kesempatan, dia dipertemukan dengan seorang syaikh asal Uni Emirat Arab, saat Cohen menetap di pemukiman Yahudi, Gush Qatif di Gaza, sebelum wilayah itu ditinggal pergi oleh tentara Israel pada 2005.

Pertemuan itu mengantarkan keduanya pada diskusi tentang Islam dengan mendalam. Secara perlahan, Cohen mulai menemukan titik cahaya dalam hatinya saat memandang Islam. Singkat cerita, Cohen mengakhiri diskusi mendalam dengan keputusannya mengucapkan dua kalimat syahadat. Cohen segera menganti namanya menjadi Yousef al-Khattab.

Putusan Cohen masuk Islam rupanya tidak diterima keluarga besarnya. Dia diasingkan oleh keluarganya. Namun, Allah SWT memberikan hadiah berharga sebagai gantinya. Keluarga kecilnya itu mengikuti jejak Cohen dengan menjadi Muslim. Kini, Yousef memutuskan untuk menjadi pendakwah di kalangan Yahudi. www.republika.co.id

Pemerintah Imbau Ormas Islam Rayakan Idul Adha Bersama

Pemerintah mengimbau ormas-ormas Islam merayakan hari raya idul Adha 1431 H/2010 secara bersamaan. Imbauan ini menyusul keputusan Muhammadiyah Jatim yang resmi menetapkan Idul Adha 1431 jatuh pada 16 November 2010.

Apalagi menurut Dirjen Bimas Islam Kemenag, Nasaruddin Umar, perayaan idul Adha kali ini berpotensi berbeda karena hilal 10 Dzulhijjah berada di bawah ufuk. Sehingga fakta ini dipandang oleh para ilmuwan mustahil hilal bisa terlihat. "Hampir keseluruhan minus 1 derajat dan hanya minoritas 1,33 derajat itupun di luar sulit terlihat," kata dia kepada Republika di Jakarta, Selasa (26/10)

Nasaruddin mengatakan, pemerintah terus berupaya menyatukan pandangan penetapan Idul Adha 1431. Pemerintah berencana mengadakan pertemuan membahas kemungkinan bersatu antarormas. Termasuk menyelenggarakan hisab rukyat yang rencananya akan digelar pada tanggal 6 November mendatang. Meskipun disadari langkah penyatuan tersebut sulit kecuali ada toleransi Muhammadiyah untuk bersatu merayakan Idul Adha.

Namun demikian, kata Nasaruddin, pemerintah mengaku tak bisa memaksakan kehendak dan menyerahkan keputusan kepada ormas yang bersangkutan. Akan tetapi, besar harapan pemerintah perayaan idul Adha bisa dilaksanakan secara serentak menunggu hasil sidang Badan Hisab Rukyat, Kemenag. Sebagai contoh, di Arab Saudi, keputusan perayaan idul Adha menunggu hasil rukyat yang digelar oleh pemerintah setempat. "Upaya penyatuan Idul Adha seharusnya tak terganjal karena Idul Adha hukumnya Sunnat," kata dia. www.republika.co.id

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More