cari cari ...

Showing posts with label krisis libya. Show all posts
Showing posts with label krisis libya. Show all posts

Wednesday, March 23, 2011

Helikopter AS Tembak 6 Warga Libya

Helikopter AS Tembak 6 Warga Libya. Enam warga Libya kini tengah dirawat di sebuah rumah sakit setelah ditembak oleh tentara Amerika yang datang untuk menyelamatkan pilot pesawat F-15 yang mendarat di sebuah lapangan.

Sumber Mailonline melaporkan, helikopter tempur penyelamat milik AU AS mendarat di sebuah lapangan di luar Benghazi persis di bangkai pesawat tempur F-15 Eagle yang jatuh tadi malam.

Beberapa penduduk setempat yang datang untuk menyambut para pilot, langsung dihujani tembakan. Seorang remaja putra dikabarkan harus diamputasi salah satu kakinya akibat luka tembakan.

wartanews.com Helikopter AS Tembak 6 Warga Libya

Militer AS: Angkatan Udara Libya Hancur

Militer AS: Angkatan Udara Libya Hancur . Seorang perwira senior militer Amerika Serikat (AS) mengatakan pihaknya telah menghancurkan angkatan udara negara Libya. Sementara korban sipil belum diketahui.

Hal itu disampaikan Laksamana Gerard Hueber selaku Kepala Staf Joint Task Force Odyssey Dawn di Pentagon, di atas kapal USS Mount Whitney, di Laut Mediterania, Rabu (23/3/2011) malam dan dikutip dari VOA news.

Dia mengatakan pasukan koalisi telah terbang selama 24 jam terakhir. Akibatnya Libya kini tidak memiliki kekuatan udara lagi.

"Angkatan udara Libya telah dicegah. pesawat mereka telah dihancurkan dan tidak bisa beroperasi. Kami tidak memiliki konfirmasi kegiatan penerbangan kekuatan rezim selama 24 jam terakhir," terangnya.

Hueber menambahkan belum ada laporan tentang korban sipil atas penyerangan tersebut. Pihaknya kini menargetkan tank, artileri dan peluncur roket.

Ia juga memindahkan serangan ke arah barat untuk melindungi kota Ajdabiya dan Misrata. Hueber mengatakan tidak ada indikasi pasukan yang setia kepada pemimpin Libya, Muammar Khadafi. Pasukan pendukung Khadafi juga sudah berhenti menyerang penduduk sipil sebagaimana diharuskan oleh resolusi Dewan Keamanan PBB yang menetapkan zona larangan terbang.

Tujuan misi, lanjut Hueber, bukan untuk menggulingkan pemimpin Libya, tapi untuk melindungi warga sipil dan memungkinkan bantuan kemanusiaan menjangkau mereka.

Di Kairo, Mesir, Menteri Pertahanan Robert Gates menyarankan oposisi pejuang baru sekarang memiliki kesempatan untuk berkumpul kembali setelah serangan angkatan udara Khadafi.

"Saya rasa banyak orang-orang yang berada di oposisi dan yang memainkan peran di hari-hari awal telah tunduk. Keadaan mungkin berubah di mana oposisi pejuang tidak dapat menggunakan pesawat. Mereka bisa saja kembali untuk melawan tapi kita tidak tahu," kata Gates.

Gates mengatakan pihak AS masih berencana untuk menyerahkan peran kunci dalam serangan terhadap Libya untuk sekutu koalisinya.

detik.com Militer AS: Angkatan Udara Libya Hancur 

NATO Rampungkan Rencana Aksi Militer Terhadap Libya

NATO Rampungkan Rencana Aksi Militer Terhadap Libya, Serangan udara yang dilancarkan pesawat temur Barat kemarin malam (23/3) menggempu daerah pinggiran sebelah timur Tripoli, Libya. Serangan itu mengakibatkan sejumlah penduduk cedera.

Menurut saksi mata, di daerah Tajoura, 30 kilometer sebelah timur Tripoli, untuk pertama kali terlihat pesawat tempur Barat melintas. Beberapa sasaran dibom sampai tiga kali. Menurut media Libya, serangan udara kali ini terutama ditujukan pada sasaran militer dan sipil di Tripoli, tetapi tidak ada informasi lain yang diungkapkan.

NATO kemarin menyatakan telah merampungkan rencana aksi militer terhadap Libya dan NATO bisa sewaktu-waktu mempersiapkan aksi mereka apabila diperlukan.

NATO telah menyusun tiga rencana militer mengenai Libya, yaitu misi kemanusiaan, blokade senjata, dan penerapan larangan terbang. Ketiga rencana itu telah diratifikasi oleh Dewan Pengurus Atlantik, badan pengambilan kebijakan NATO. Selasa lalu NATO mengambil keputusan melancarkan rencana blokade senjata. Sedangkan waktu pelaksanaan rencana lain masih perlu menunggu kesepakatan anggota NATO.

Menteri Pertahanan AS Robert Gates kemarin di Kairo menegaskan kembali, Amerika berharap mengalihkan dominansi dalam aksi militer Sekutu kepada negara lainnya. Amerika kemungkinan akan melepaskan dominansi mereka sebelum hari Sabtu mendatang.

indonesian.cri.cn NATO Rampungkan Rencana Aksi Militer Terhadap Libya

Berapa Biaya Menyerang Libya?

Berapa Biaya Menyerang Libya? Sejak Minggu (20/3), koalisi Barat melaksanakan aksi militer terhadap Libya. Tentunya, misi ini tak membutuhkan dana yang sedikit. Berapa jumlahnya?

Pemberlakukan zona bebas terbang (no-fly zone) di Libya, sebagai pelaksanaan Resolusi 1973 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), diperkirakan akan menelan US$1 miliar. Terutama jika operasi yang diberi nama Odyssey Dawn ini akan berlangsung lebih dari dua bulan.

“Biaya awal untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Libya saja bisa mencapai US$400-800 juta. Patroli untuk memastikan no-fly zone terus terlaksana, membutuhkan sekitar US$30-100 juta per pekan,” ujar Zack Cooper, analis pertahanan senior di Center for Strategic and Budgetary Assesstments.

Militer Amerika Serikat (AS) masih belum memberikan perkiraan biaya operasi ini. Sebagai perbandingan, perang Afghanistan yang saat ini masih dilakukan Amerika, menelan biaya lebih dari US$9 miliar per bulan.

Sebab itulah beberapa pejabat AS mengkritik keputusan Presiden Barack Obama untuk bergabung dengan aliansi dalam misi militer Libya. Terutama saat negara ini sedang berjuang menghadapi defisit anggaran yang kini telah mencapai US$1,48 triliun.

Kementerian Pertahanan AS yang bermarkas di Pentagon telah mengungkapkan rencana untuk memangkas anggaran pertahanan hingga US$78 miliar selama lima tahun ke depan. Hal ini berarti penundaan program persenjataan dan menunda pengungaran biaya perawatan.

Cooper dan rekannya, Todd Harrison, membuat sebuah skenario untuk pemberlakukan zona bebas terbang terbatas di Libya. Asumsi pada skenario itu, zona bebas terbang hanya meliputi pararel ke-29 di bagian utara Libya dan tidak seluruh negara itu. Proyeksi biaya kemudian disusun berdasarkan luas zona, untuk mengukur bahan bakar pesawat dan perawatan.

Satu hal yang tidak diperkirakan Cooper dan Harrison adalah bantuan dari koalisi tujuh negara lainnya. Tentu saja, koalisi ini ikut menanggung biaya misi tersebut. “Meski kami tetap berasumsi, Amerika akan mengeluarkan lebih banyak biaya sebagai pemimpin misi,” lanjutnya.

Menurut Cooper, rudal Tomahawk yang saat ini ditembakkan Amerika dan Inggris harganya US$200 juta. Ada pula biaya tambahan yang harus dikeluarkan, karena satu unit jet tempur F-15 milik AS jatuh. Pentagon mungkin takkan menggantinya dengan jet baru, namun bergabung dengan negara lain yang bisa menelan US$100-150 juta.

Negara Eropa utama yang mendorong zona bebas terbang, akan menanggung biaya lebih besar. Menteri Keuangan Inggris George Osborne yang terkenal dengan reputasi mengurangi defisit anggaran menyatakan kepada parlemen, misi Libya yang oleh Inggris disebut Operation Ellamy ini akan menelan puluhan juta poundsterling.

“Terlalu awal untuk memperkirakan angka pastinya, namun masih di bawah biaya Afghanistan. Perkiraan awal kami akan menelan puluhan, bukan ratusan poundsterling,” kata Osborne.

Namun analis pertahanan Inggris, Francis Tusa menyatakan, biaya ini bisa membengkak dengan cepat. Sejauh ini, Inggris harus mengeluarkan 200 ribu poundsterling (US$325 ribu) per pesawat. Sedangkan rudal menelan 800 ribu poundsterling (US$1,3 juta) per buah. Sepuluh jet tempur Typhoon akan dikerahkan untuk patroli, yang akan menekan 3 juta poundsterling (US$3,25 juta) per hari.

Senada, analis Prancis juga berpendapat perang ini akan membebani AS dan Inggris. “Sebab senjata mereka lebih canggih dan armada yang dikerahkan juga lebih banyak,” kata Jean Dominique Merchet. Koalisi gabungan yang ikut dalam misi militer Libya adalah AS, Inggris, Prancis, Denmark, Spanyol, Belgia, Italia dan Kanada.

inilah.com Berapa Biaya Menyerang Libya?

Armada Militer NATO Mulai Patroli di Lepas Pantai Libya

Armada Militer NATO Mulai Patroli di Lepas Pantai Libya. Kapal-kapal perang NATO mulai berpatroli di lepas pantai Libya untuk menerapkan embargo senjata PBB, Rabu (23/3). Patroli kapal ini dilakukan menyusul penerapan zona larangan terbang di atas Libya

Para diplomat mengatakan persetujuan telah disepakati tentang bagaimana NATO akan mengambil tanggungjawab bagi larangan terbang dan patroli laut untuk mengekang militer Muammar Khadafi.

Usul yang disepakati itu menyatakan bahwa NATO akan mengambil peran penting dalam operasi militer yang dikendalikan oleh komite politik para menteri luar negeri negara-negara Barat dan dunia Arab. Para pejabat mengatakan Dewan Atlantik Utara -- badan pembuatan keputusan penting NATO -- yang sudah menyetujui rencana militer untuk menerapkan zona larangan terbang dan patroli laut.

Tapi salah satui negara terbesar NATO, Jerman , mengatakan bahwa kapal perangnya tidak akan berpartisipasi dalam operasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Mediterania untuk memaksakan embargo persenjataan berdasarkan mandat PBB di Libya.

"NATO sudah memutuskan untuk memaksakan embargo senjata atas Libya, tapi Jerman tidak akan ikut serta dalam hal ini," kata jurubicara kementerian pertahanan Jerman.

"Tapi kami memutuskan untuk menempatkan dua kapal frigat dan dua kapal di Mediterania berdasarkan perintah nasional," tambahnya.

Dua frigat tersebut, Lubeck dan Hamburg, merupakan bagian operasi "Active Endeavour" NATO untuk membendung aktivitas teroris di kawasan itu.

Jurubicara itu mengatakan "Selama ini, kapal-kapal itu tetap berada di Mediterania dan kami belum memutuskan ke mana mereka akan pergi,".

Terdapat sekitar 550 personil pertahanan yang berada dalam ke empat kapal itu. NATO, Selasa setuju, untuk menggunakan kekuatan angkatan laut dan udara untuk memaksakan embargo senjata di Libya.

Pasukan NATO akan mengawasi, melaporkan dan bila diperlukan "mencegat kapal yang dicurigai membawa senjata ilegal atau tentara bayaran," kata Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen.

"Semua anggota sekutu setuju untuk memenuhi tanggungjawab mereka di bawah resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghentikan kekerasan yang tidak dapat dibiarkan atas warga Libya," katanya.

Ia mengatakan NATO sudah merampungkan rencana untuk membantu pemaksaan zona larangan terbang "demi memberikan kontribusi kami bila diperlukan, dengan cara yang terdefinisi jelas sebagai upaya internasional demi melindungi warga Libya dari aksi kekerasan rezim Khadafi."

Jerman, anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB memilih abstain dalam pemungutan suara Kamis (17/3) yang mengizinkan "semua tindakan yang diperlukan" untuk menciptakan zona larangan terbang, melindungi wilayah sipil dan menerapkan gencatan senjata atas militer Muamar Khadafi.

analisadaily.com Armada Militer NATO Mulai Patroli di Lepas Pantai Libya

Takut Terjerumus Agresi di Libya, Jerman Tarik Kapal Perangnya dari Mediterania

Takut Terjerumus Agresi di Libya, Jerman Tarik Kapal Perangnya dari Mediterania Takut terjerumus ke dalam agresi di Libya, Jerman menarik kapal perangnya yang sedang menjalani misi NATO di Laut Mediterania.

Keputusan ini diambil Jerman setelah NATO pada Selasa memutuskan untuk menggelar blokade laut terhadap Libya, dalam rangka embargo senjata PBB, untuk mencegah senjata, amunisi, dan tentara bayaran mencapai pasukan Muammar Qaddafi.

Juru bicara Kementrian Pertahanan Jerman di Berlin mengatakan dua kapal fregat dengan sekitar 550 personel dan sekitar 70 tentara yang di-BKO-kan (bawah kendali operasi) untuk sebuah operasi pengawasan NATO di kawasan Mediterania telah ditarik dan ditempatkan di bawah komando nasional.

Jerman bersama dengan empat negara lainnya menyatakan abstain dalam pemungutan suara terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1973 yang mengizinkan penggunaan kekuatan untuk melindungi populasi sipil di Libya. Ini karena Jerman tak ingin terlibat dalam konflik di Libya.

Pemerintah Jerman dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa tak punya rencana untuk mengirimkan militer ke Libya.

Ketika Selasa NATO memutuskan untuk mulai mengimplementasikan resolusi DK PBB no.1973 yang mengembargo senjata ke Libya, Jerman khawatir mereka akan terjerumus secara tak sengaja ke dalam konflik.

republika.co.id Takut Terjerumus Agresi di Libya, Jerman Tarik Kapal Perangnya dari Mediterania

Negara-negara Barat Perdebatkan Peningkatan Operasi Militer terhadap Libya

Negara-negara Barat Perdebatkan Peningkatan Operasi Militer terhadap Libya. Misi militer yang dipimpin dunia Barat terus melancarkan serangan-serangan hari Rabu untuk menegakkan zona larangan terbang di atas Libya utara.

Tetapi, sementara jet-jet tempur Amerika bertolak dari pangkalan militer di Italia pagi hari, kekuatan-kekuatan yang setia kepada pemimpin Libya Moammar Khadafi melanjutkan serangan-serangan mereka terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak.

Penduduk kota Misrata mengatakan penembak-penembak gelap masih menguasai bagian-bagian barat kota itu, sementara dokter-dokter setempat mengatakan rumah sakit kewalahan menangani para korban serangan-serangan pemerintah.

Di Libya timur, kekuatan-kekuatan pro-Khadafi dapat memukul mundur upaya kelompok pemberontak untuk merebut kembali Ajdabiya, dengan menggunakan roket-roket dan tank-tank yang canggih melawan satuan-satuan kelompok oposisi.

Dilaporkan adanya serangan-serangan terhadap pasukan pemerintah baik di Misrata maupun Ajdabiya, tetapi laporan itu tidak didapat diketahui kebenarannya. Selagi pertempuran berlangsung, Perdana Menteri Inggeris David Cameron mengumumkan perluasan upaya serangan itu, yang saat ini dipimpin oleh Amerika, Inggeris, dan Prancis.

“Kami akan mendapat sumbangan logistik dari negara-negara seperti Kuwait dan Jordania. Saya harap dukungan lebih besar akan segera datang. Tetapi, saya tegaskan di sini, karena kami harus segera bertindak hari Sabtu, kami tidak mungkin mendapat dukungan Arab sebesar seperti yang diharapkan oleh DPR,” ujarnya.

Walaupun bantuan terbatas, ini adalah salah satu perkembangan positif yang diraih para pemimpin koalisi dalam beberapa hari terakhir ini.

Kecaman-kecaman terhadap misi militer itu bukan hanya datang dari negara-negara Arab, tetapi juga dari Jerman, Rusia, Turki, dan Tiongkok.

Dengan semakin meningkatnya kekhawatiran, para duta besar NATO hari Rabu memperdebatkan bagaimana melanjutkan operasi militer itu. Amerika mengatakan ingin segera menyerahkan kepemimpinan operasi militer itu, tetapi masih belum jelas siapa yang akan memimpinnya.

voanews.com Negara-negara Barat Perdebatkan Peningkatan Operasi Militer terhadap Libya

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More