cari cari ...

Showing posts with label bom. Show all posts
Showing posts with label bom. Show all posts

Thursday, March 17, 2011

Aktivis JIL: Bom Buku terkait Politis, Bukan Kerjaan Islam Garis Keras

Aktivis JIL: Bom Buku terkait Politis, Bukan Kerjaan Islam Garis Keras. Salah seorang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Guntur Romli, menilai bahwa motif peledakan bom yang terjadi di kawasan kantor radio KBR 68 H, Utan Kayu, kemungkinan besar lebih terkait dengan motif politis dan tidak mungkin perbuatan kelompok Islam garis keras.

Dia mengatakan pihaknya belum mau menuding siapa pun terkait aksi peledakan tersebut. Tapi, bom yang diletakan dalam buku tersebut merupakan petunjuk utama bahwa serangan tersebut dilakukan untuk menciptakan intimidasi.

"Kami masih menunggu penyelidikan dari kepolisian, tapi kalau dilihat, tidak mungkin kelompok Islam garis keras membuat bom dalam bentuk buku seperti itu dan itu petunjuk," kata Guntur mengutip perbicangannya saat dihubungi sebuah media online, Selasa (15/3/2011).

Guntur menilai, tentunya ada skenario besar terkait peledakan tersebut. " Ini politik teror, tentunya terkait dengan politis, sama seperti yang diungkapkan Ulil," kata Guntur.

..Kami masih menunggu penyelidikan dari kepolisian, tapi kalau dilihat, tidak mungkin kelompok Islam garis keras membuat bom dalam bentuk buku seperti itu dan itu petunjuk

Sebelumnya pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) yang juga Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla mengatakan bahwa paket bom yang dikirimkan untuk dirinya bukan lantaran persoalan pribadi semata.

Ulil menduga ada motif politik di balik pengirim paket berisi tersebut. "Ini bentuk teror politik," kata Ulil. Dugaan itu didasari keaktifan dirinya selama setahun di Partai Demokrat. Selama di Demokrat, salah satu Ketua DPP Partai Demokrat itu termasuk orang yang bersuara keras agar Presiden Yudhoyono melalukan reshuffle di kabinet.

"Selama 10 tahun saya bergerak di bidang pemikiran Islam di Jaringan Islam Liberal (JIL), tidak pernah ada kejadian seperti ini," kata Ulil Abshar Abdalla saat diwawancarai Lucia Saharui dari Metro TV melalui saluran telepon, Selasa (15/3).

Paket bom (low explosive) berbentuk buku untuk Ulil meledak di Kantor Berita Radio 68H, Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (15/3) sekitar pukul 16.10 WIB. Lima orang terluka dalam kejadian itu, tiga diantaranya anggota polisi (Kompol Dodi Rahmawan, AKP Kalirman, dan Kanit Reskim Polsek Matraman Bara Libra Sagita) dan dua orang dari pihak keamanan KBR 68H (Mulyono dan Rahmanto).

voa-islam.com Aktivis JIL: Bom Buku terkait Politis, Bukan Kerjaan Islam Garis Keras

Kejanggalan Bom Ulil-JIL, Rekayasa Sudutkan Ba'asyir

Kejanggalan Bom Ulil-JIL, Rekayasa Sudutkan Ba'asyir. Markas Jaringan Islam Liberal (JIL) diberi kado bom yang dikemas dalam buku tebal, Selasa (15/3/2011). Paket itu ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla pendiri JIL, dialamatkan ke kantor KBR 68 H, Jl. Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur. Paket itu datang pukul 10 WIB di resepsionis. Paket berbungkus sampul cokelat tersebut berisi buku berjudul ”Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-dosanya terhadap Kaum Muslimin.” Ketika dibuka, di dalam buku ada kabel, jam dan batere. Penemuan ini langsung dilaporkan kepada satpam, yang meneruskan laporan itu ke Kepolisian setempat.

Sekitar pukul 16.05 WIB, bom meledak di. Akibat paket bom itu, tangan Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan itu terputus. Ketika itu, paket tersebut sedang diperiksa polisi dengan metal detector, ternyata alat itu berbunyi dan bom itu gagal dijinakkan. Di saat ledakan keras itu terjadi, tangan kiri sang polisi berdarah-darah, terlihat putus.

Bila dicermati, banyak kejanggalan dalam kasus Bom Utan Kayu ini, di antaranya:

1. Bom dialamatkan untuk Ulil Abshar Abdalla tapi dikirimkan ke kantor berita KBR 68H. Ulil memang salah satu dedengkot JIL yang bermarkas di KBR 68H, namun sudah lama sekali sejak Ulil menjadi salah satu ketua DPP Partai Demokrat ia jarang sekali datang ke 68H dan lebih banyak berkantor di DPP Partai Demokrat.

2. Lalu kenapa bom dikirimkan ke Kantor berita 68H, karena mudah diduga akan cepat mendapatkan blow up media massa. Termasuk tujuan untuk mengangkat kembali citra JIL dan upaya liberalisasi Islam di Indonesia oleh kalangan liberal yang suka bermarkas di kantor 68H. Seperti diketahui bahwa JIL sudah tidak lagi populer saat ini dan tidak laku di kalangan masyarakat bawah.

....Bom ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla tapi dikirimkan ke kantor berita KBR 68H. Padahal Ulil jarang sekali datang ke 68H sejak menjadi salah satu ketua DPP Partai Demokrat. Ia lebih banyak berkantor di DPP Partai Demokrat...

3. Kecerobohan aparat kepolisian dalam menyikapi paket yang mencurigakan, seolah-olah tidak memiliki standard operational procedur (SOP). Dalam SOP, yang punya kewenangan menjinakkan bom adalah tim gegana. Namun dengan cerobohnya beberapa aparat yang sok jagoan tnpa menggunakan pengaman membuka paket itu sehingga menjadi korban. Atau dikorbankan?

4. Dalam buku paket bom itu tertulis nama penyusunnya adalah Drs. Sulaiman Azhar, Lc. Selama ini sangat jarang orang yang memiliki dua gelar kesarjanaan Drs dan Lc, namun tentu tidak mustahil adanya.

5. Terlalu mudah untuk ditebak sasaran tembak bom ulil yang sangat vulgar kemana arah dampak bom itu dituju, yakni kalangan dan kelompok Islam yang dianggap radikal. Selama ini pola bom-bom yang kemudian mengarah kepada penangkapan aktivis Islam dan pemburukan citra Islam tidak secara langsung mengarah kepada Islam.

6. Terlalu polos kalau ada aktivis Islam melakukan tindakan itu secara terang benderang seperti bom ulil itu. Bagi yang paham pola perjuangan Islam pola itu mungkin tidak pernah terpikirkan.

7. Kenapa lama sekali tim gegana datang ke lokasi, sementara siang hari adalah waktu jalan raya agak lengang?

8. Kenapa intelijen aparat absen dengan kemungkinan bom ulil ini? Sementara untuk bom-bom yang lain aparat mampu mengendusnya jauh sebelum kejadian.

9. Kenapa ada staf kantor yang begitu tidak sopan mengintip paket untuk orang lain? Kenapa waktu ia dengan tidak sopannya membuka paket itu bom tidak meledak dan meledak saat polisi yang membukanya? Kenapa harus polisi? Apakah bukan karena agar polisi marah dan dendam akibat personilnya terluka. Sekali lagi kenapa tidak menunggu sampai tim gegana datang?

10. Aneh! Bom dalam bentuk buku itu sempat-sempatnya difoto??? Gunanya jelas…

11. Jika kita melihat video detik-detik ledakan itu, disana tidak terlihat adanya police line, malah Kompol Dodi Rahmawan yang sedang membuka berusaha menjinakkan bom itu disaksikan warga dari dekat. Coba anda perhatikan secara saksama rekaman video setelah bom meledak dan kamera yang bergoyang ke sana kemari memperlihatkan kondisi di sekelilingnya dan menunjukkan tidak adanya garis polisi serta warga yang menonton dari dekat.

12. Kenapa Polisi tidak menjauhkan warga dari resiko meledaknya Bom tersebut???

13. Kenapa tidak menunggu gegana saja untuk menjinakkan buku yang diduga kuat bom itu? Kenapa Kompol Dodi begitu berani membongkar bom itu tanpa pelindung sedikitpun? Apakah dia memang sudah mengetahui jika bom buku itu berdaya ledak rendah?

14. “Polisi telah menghubungi gegana namun gegana tak kunjung datang. Kompol Dodi Rahmawan meminta anggotanya untuk meminta petunjuk gegana.” Gegana tak kunjung datang, malah memberi petunjuk cara penjinakkan kepada Kompol Dodi. Rasanya tidak masuk akal jika dalam keadaan seperti itu, tim gegana malah menyuruh kompol Dodi untuk menjinakkan bom itu. Mungkin Tim Gegana lagi males kali ya.. Kalaupun tim gegana memberi petunjuk kepada Kompol Dodi, apakah mungkin gegana menyuruh Kompol Dodi untuk menyiram buku yang berisi kabel dan logam berbentuk kotak itu dengan air??? Anehnya lagi kalaupun memang Tim Gegana memberi petunjuk, kenapa Kompol Dodi malah berkata bahwa dia kira itu hanyalah mercon. :-/ :-/Adakah mercon pake kabel??? iya itu mercon, tapi gede, mercon gede itu disebut bom..

15. Kasat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Imam Margono mengaku tidak memberi arahan apa-apa kepada Kompol Dodi apalagi memberi perintah untuk menyiram bom itu dengan air, “itu tindakan bodoh” katanya. Malang nian nasib Komisaris Polisi Dodi. Sudah tangan putus, dimarahin atasan pula.

16. Gegana datang sejam setelah bom meledak. Ko bisa ya? 1 jam setelah meledak baru datang. Kaya polisi india aja.Orang dah pada kemana…superhero baru nongol..mau jinakin apa pak?

Jawaban Kapolri soal Keterlambatan Gegana

“Itu bukan karena terlambat, tapi memang pukul 13.30 WIB baru lapor ke polisi,” kata Kapolri Timur Pradopo. Dua jam setengah ternyata bukan waktu yang cukup bagi Tim Gegana hanya untuk datang ke lokasi pelapor. Jadi harus nunggu tiga jam setengah baru dateng ke lokasi pelapor, belum waktu penjinakkannya.

Aneh sekali, ketika kasus terorisme yang baru diduga ada bahan peledak Densus 88 dan Gegana begitu sigap dan profesional. Tetapi kenapa tidak pada kasus bom Utan kayu yang jelas-jelas bom itu sudah di depan mata?

Sekali lagi, apa yang mendorong Kompol Dodi untuk menjinakkan bom itu sendiri??

Dan siapa Anggota Tim Gegana yang dimintai arahan oleh Kompol Dodi untuk menjinakkan bom itu?

Kenapa Gegana begitu terlambat dan tidak tanggap atas laporan bom ini?

Kejanggalan ini diperkuat oleh Mustofa B Nahrawardaya, pengamat dari Indonesian Crime Analys Forum yang meyakini bahwa bom ini adalah konspirasi intelijen.

“Bom ini saya yakini dibuat oleh intelijen hitam yang ingin menciptakan suasana tidak kondusif di tengah kontroversi sidang Abu Bakar Ba'asyir,” tegas Mustofa

Cukup masuk akal pendapat Mustofa yang dilansir detik.com di atas. Di tengah konspirasi busuk pemerintah untuk kembali memenjarakan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir namun mereka tidak cukup bukti, hingga persidangan sandiwara terus berlanjut dengan tuduhan-tuduhan ringan namun diperumit. Pemerintah harus menciptakan bukti lain untuk menyempurnakan sandiwara.

Kesimpulannya, peristiwa ini seolah telah dirancang begitu rupa. Karena jika melihat keanehan yang terlihat dari Tim Gegana yang bom seolah dipaksa untuk meledak untuk memakan korban agar bisa menimbulkan atau mengalihkan isu.

Atau mungkin jika memang semua ini berhubungan dengan Persidangan Ust. Abu maka mereka akan mencari pelaku yang akan kembali disangkut-sangkutkan dengan Ustadz Abu untuk memperkuat bukti Jaksa penuntut Ustadz Abu.

Seperti sering aktivis JIL bilang, “rakyat sudah semakin cerdas bos….!” [Wildan Hasan]

voa-islam.com Kejanggalan Bom Ulil-JIL, Rekayasa Sudutkan Ba'asyir

Bom Ulil-JIL Dituduhkan kepada Sunata cs untuk Sudutkan Sunata dan Ba'asyir

Pengamat intelijen dan terorisme menuding Abdullah Sunata berada di balik paket 'bom buku' di markas JIL untuk memperberat Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sunata yang tengah menghadapi persidangan.

Beberapa jam pasca insiden bom Ulil-JIL yang dikemas dalam paket buku "Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-dosanya terhadap Kaum Muslimin," Selasa (15/3/2011), pengamat intelijen langsung mengeluarkan statemen di media bahwa Abdullah Sonata ada di balik bom yang meledak di markas Jaringan Islam Liberal (JIL) Utan Kayu itu.

Tanpa crosscheck dan data-data yang valid, pengamat intelijen dan terorisme Dino Cresbon menduga bom di Utan Kayu didalangi anak buah Abdullah Sonata. Ia menuding kelompok Sonata pernah mengancam akan membunuh Ulil Abshar Abdalla pada 2004. “Dari jejaknya ini kelompok Abdullah Sonata,” kata Dino sebagaimana dikutip tempointeraktif.com, Selasa 15 Maret 2011.

Menanggapi tudingan itu, Abdullah Sunata membantah keras tuduhan pengamat terorisme terhadap dirinya.

"Terlalu jauh, tidak benar apa yang diungkapkan para pengamat itu," ujar Abdullah Sunata di Pengadilan Negeri Jakarta Timur kepada wartawan, Rabu 16 Maret 2011.

Pria "Si Pitung" Betawi yang akrab disapa Ustadz Sunata ini juga menampik tudingan Dino bahwa pelaku bom Ulil-JIL adalah para pengikutnya. Sunata menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki pengikut sebagaimana dituduhkan pengamat intelijen Dino Crasbon. Karenanya, Sunata menilai para pengamat terorisme itu sengaja mengait-ngaitkan dirinya dalam kasus bom Ulil-JIL sebagai upaya untuk menyudutkan dirinya dan Ustadz Abu Bakar Baasyir.

....Saya tidak tahu-menahu tentang paket bom buku dan bukan dilakukan oleh orang-orang yang di media disebut kelompok saya, ini adalah fitnah terhadap saya untuk menyudutkan....

"Saya tidak tahu-menahu tentang paket bom buku dan bukan dilakukan oleh orang-orang yang di media disebut kelompok saya, ini adalah fitnah terhadap saya untuk menyudutkan," bantahnya. "Semua pemberitaan fitnah ini utk menyudutkan dan memberatkan saya, apalagi proses persidangan saya sedang memasuki tahap tuntutan, sementara di persidangan, keterlibatan saya sulit dibuktikan," tandasnya.

Menurut Sunata, data-data yang diumbar Dino Cresbon ke media itu sangat tidak valid dan penuh kebohongan. Dino hanya mengais berita-berita dari koran-koran lalu mencocok-cocokkan dengan kemauannya.

"Dino katakan pernah ketemu saya, padahal saya tidak pernah bertemu dengan makhluk yang bernama Dino Cresbon. Itu semua adalah Bohong!! Semua pernyataan dia adalah data sampah yang diambil dari sana sini," kecamnya.

Sunata menambahkan, berdasarkan fatwa ulama termasuk fatwa MUI, akidah kelompok JIL sudah murtad. Berdasarkan Fatwa MUI No. 7 tahun 2005, Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam dan hukumnya HARAM. Meski ia sepakat dengan fatwa ulama bahwa JIL sudah murtad dari Islam, tapi ia tidak pernah memerintahkan siapapun untuk melakukan pembunuhan maupun pemboman.

"Pelaku sekuler dan liberal adalah murtad menurut para ulama salaf, juga fatwa MUI, tapi saya tidak pernah perintahkan seseorang untuk membunuh," jelasnya.

Sunata menyindir Dino Cresbon sebagai pengamat gosip. "Kalau mau bergosif jangan jadi pengamat teroris. Jadi pengamat artis saja," pungkasnya.

Senada itu, pengacara Tim Pembela Muslim (TPM), Achmad Michdan mengecam fitnah murahan yang diungkapkan Dino Cresbon, sebagai pelanggaran hukum. "Bisa dituntut itu pernyataan Cresbon," ujar Michdan.

voa-islam.com Bom Ulil-JIL Dituduhkan kepada Sunata cs untuk Sudutkan Sunata dan Ba'asyir

Inilah Pesan Kematian dalam Paket Bom untuk Ulil dan 412 Tokoh JIL

Inilah Pesan Kematian dalam Paket Bom untuk Ulil dan 412 Tokoh JIL. Markas Jaringan Islam Liberal (JIL) diberi kado bom dengan pesan ”Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-dosanya terhadap Kaum Muslimin.” Inilah pesan kematian dalam paket bom untuk Ulil Abshar Abdallah dan JIL.

Sebuah paket diduga bom dikirimkan ke Komunitas JIL Utan Kayu. Paket itu ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla pendiri JIL. Paket itu datang pukul 10 WIB di resepsionis, dan baru dibuka staf di JIL pada pukul 13.00 WIB. Paket berbungkus sampul cokelat tersebut berisi buku dan selembar surat, berlabel ”Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-dosanya terhadap Kaum Muslimin.” Ketika dibuka, di dalam buku ada kabel, jam dan batere. Penemuan ini langsung dilaporkan kepada satpam, yang meneruskan laporan itu ke Kepolisian setempat.

Sekitar pukul 16.05 WIB, Selasa (15/3/2011), bom meledak di kantor KBR 68 H, Jl. Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur. Akibat paket bom itu, tangan Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan itu terputus. Ketika itu, paket tersebut sedang diperiksa polisi dengan metal detector, ternyata alat itu berbunyi dan bom itu gagal dijinakkan.

Di saat ledakan keras itu terjadi, tangan kiri sang polisi berdarah-darah, terlihat putus. Darah berceceran dan suasana jadi histeris.

Berikut adalah isi surat dalam bungkusan tersebut:

Kepada: Ulil Absar Abdhala

Perihal: Permohonan memberikan kata pengantar buku dan interview

Lampiran: 1 (satu) bundel buku

Bersama dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama: Drs. Sulaiman Azhar, Lc

Alamat: Jl Bahagia Gg Panser No 29 Ciomas Bogor Telp 0813 3222 0579

Pekerjaan: Penulis

Sedang dalam proses penyelesaian penulisan buku yang urgensinya sangat erat dengan peran aktif bapak, dalam lembaga yang bapak pimpin. Penulis bermaksud mengajukan permohonan sudi kiranya memberikan kata pengantar dalam buku saya.

Judul buku: Mereka harus di bunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin

Tema: Deretan nama dan dosa-dosa tokoh Indonesia yang pantas di bunuh

Jumlah: 412 Halaman.

Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) yang juga merupakan ketua DPP Partai Demokrat masih beruntung, karena tidak berada di lokasi. Ulil yang pernah difatwakan mati oleh para ulama itu memang anti terhadap Islam. Bukan sesekali Ulil mengeluarkan statemen yang menyinggung perasaan kaum muslimin di Tanah Air. Pantas jika Ulil kerap mendapat teror karena sikap Islamphobinya.

Karena agresivitasnya dalam menyinggung perasaan umat Islam itulah, banyak kalangan menyebut JIL sebagai Jaringan Iblis Liberal.

voa.islam.com Inilah Pesan Kematian dalam Paket Bom untuk Ulil dan 412 Tokoh JIL

Ledakan Utan Kayu: Keran Simpati Liberalisasi dan Nasib Gerakan Islam

Ledakan Utan Kayu: Keran Simpati Liberalisasi dan Nasib Gerakan Islam. Sebuah paket bom meledak pada hari selasa kemarin 15/3/2011 pukul 16.05 tepat di dalam komplek Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur. Bom tersebut meledak setelah Kompol Dodi Rahmawan berusaha menjinakkan melalui alat manual. Sebelumnya, paket ini dikirim oleh seseorang atas nama Drs. Sulaiman Azhar Lc (diduga fiktif) yang berisi buku berjudul “Mereka harus di bunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin”.

Banyak dari sebagian kalangan kemudian melihat bahwa bom ini ditujukan untuk Ulil Abshar Abdala, mengingat bahwa pada paket tersebut ada nama pentolan Jaringan Islam Islam (JIL) tersebut. Namun pertanyannya betulkah Ulil menjadi target sesungguhnya dari paket ini, atau mungkin Ulil hanyalah representasi dari proyek Liberalisme yang menjadi tujuan sesungguhnya.

Ulil Hanyalah Simbol

Apapun spekulasi yang beredar, kejadian ini secara tidak langsung berimbas pada kenaikan popularitas JIL. Semenjak gerak JIL dibatasi oleh MUI dengan vonis haram Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (SEPILIS) tahun 2005, pentolan-pentolan JIL memang seperti tidak terdengar lagi gaungnya. Aliran dana kepada JIL dikabarkan diberhentikan oleh fihak sponsor karena JIL dinilai gagal melakukan misi dari empunya proyek.

JIL dikabarkan tidak cukup mampu masuk ke mesjid-mesjid dan meraih “mic-mic” untuk menyebarkan faham liberal. Saat itu kekuatan finansial JIL sudah mulai goyah. Mereka mengalami kehabisan cara bagaimana menyebarkan proyek-proyek SEPILIS yang ini akan berdampak pada kucuran dana lembaga-lembaga asing sebagai prasyarat tetap ngebulnya dapur Utan Kayu.

Sejalan dengan hal itu, pendeknya nafas JIL diperparah dengan hantaman yang datang bertubi-tubi untuk menghalau serangan libralisme yang amat baik dimainkan oleh Front Pembela Islam dan Forum Umat Islam baik pada level gerakan maupun kajian. Karena itu, penulis melihat bom ini jika memang terkait skenario tersebut (baca: memmpopulerkan kembali SEPILIS), sejatinya tujuan bom bukanlah ditujukan pada diri pribadi Ulil.

Nama Ulil menjadi terlalu sangat besar dipertaruhkan dengan kehancuran yang diakibatkan. Ketika kita bicara dalam level pemaknaan, Ulil tidak lain hanyalah simbol gerakan liberalisme Islam dari cover depan SEPILIS. Mengenai pertanyaan kenapa mesti Ulil yang dituju? Ini sebenarnya terkait dengan semakin naik daunnya pamor Ulil pada paruh 2010 hingga awal-awal tahun 2011(baca: isu reshuffle). Setelah dipecat dari Harvard University, nama Ulil melambung sebagai petinggi DPP Partai Demokrat.

Berkaca daripada itu, kiprah Ulil selama ini belum bisa ditandingi oleh aktifis JIL lainnya. Abdul Moqsith Ghazali, Luthfie Asy Syaukanie, atau Novriantoni Kahar dinilai masih kalah kelas dari Ulil melekat sebagai ikon “pembaharuan”. Jika Abdul Moqsith lebih aktif pada wilyah akademis, Ulil banyak berkecimpung pada domain praktis dari mulai Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Nahdlatul Ulama, staf peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Akhirnya menjadi beralasan ketika Ulil digadang-gadan sebagai pewaris pembaharu pemikiran Islam setelah Cak Nur (Nurcholish Madjid).

Menyambung pada tesis ini, menjadi keniscayaan ketika kita kemudian mendengar pernyataan Abdul Moqsith Ghzali (Aktifis JIL) kemarin sore bahwa adanya bom ini sejatinya ditujukan kepada Jaringan Islam Liberal, dan bukan pada personal Ulil.
"Ini teror bukan hanya kepada Ulil (Ulil Abshar Abdalla)," kata Abdul Moqsith di lokasi ledakan bom, Utan Kayu, Jakarta, Selasa 15 Maret 2011.

Moqsith melanjutkan bahwa teror dan intimidasi sudah biasa diterima oleh aktifis JIL. Bentuknya bisa melalui pesan singkat, pesan di facebook dan twitter. "Bukan hanya sekedar intimidasi tapi ancaman pembantaian kepada seseorang," jelasnya.

Dari Bentuk Simpatis Ke Kampanye SEPILIS

Nah, pertanyaannya kemudian adalah apa ekses dari ini semua? Apa ekses dari meledaknya bom di Utan Kayu dengan kaitannya dengan pembumian isu-isu liberalisasi? Tidak lain karena kejadian ini kontan akan melahirkan “marketing isu” yang seksi dan penting untuk karir Liberalisme Islam ke depannya. Bahwa eforia simpati masyarakat akan mengalir kepada JIL sebagai institusi yang terzholimi di tengah kiprahnya menyuarakan Pluralisme, Kebhinekaan, dan Hak Asasi Manusia, menjadi tidak terelakkan.

Dan kita khawatir daya tawar SEPILIS akan semakin tinggi untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Ini bisa dibuktikan dari statement-stament pasca kejadian ini.
Aliansi Jurnalis Independen, misalnya, mengecam pengiriman paket bom yang ditujukan kepada tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Absar Abdalla. Ketua Aliansi Jurnalis Independen Indonesia Nezar Patria, mengatakan teror bom itu serangan brutal terhadap kebebasan berpikir dan kebebasan berekspresi.

“Dari paket yang dikirimkan si pelaku jelas bertujuan membungkam Ulil dengan cara membunuhnya,” kata Nezar Patria, Selasa 15 Maret 2011. Nezar menilai Ulil sebagai tokoh pemikir islam yang kritis dan gigih menganjurkan keberagaman di Indonesia.
Selain itu sekarang televisi nasional mulai menghadirkan pembicara yang juga memiliki concern terhadap isu pluralisme, kebebasan, dan juga liberalisasi.

Dalam teori kultur, budaya Indonesia memang sangat memungkinkan optimalisasi simpati publik terhadap individu terzhalimi. Ruang nurani masyarakat potensial tersentuh ketika melihat warganya mengalami bentuk intimidasi dan kesewenangan-wenangan.

Kita masih ingat kasus Juli 1996. Seperti diketahui, peristiwa 27 Juli 1996 adalah peristiwa pengambil-alihan paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jl Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI.

Peristiwa ini meluas menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta, khususnya di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, Kramat. Beberapa kendaraan dan gedung terbakar. Apa yang terjadi setelah itu? Simpati publik mengalir deras kepada Megawati dan berbuah titik kulminasi setelah Megawati membentuk PDI Perjuangan dan berahasil meraih dominasi suara pada pemilihan umum 1999.

Simpati publik juga sempat melambungkan nama Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada era kepresidenan Megawati. Kita ketahui bersama, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Kabinet Gotong-Royong tersebut mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa tidak dipercaya lagi oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.

Surat permintaan pengunduran dirinya dikirim kepada Presiden, Kamis 11 Maret 2004 pagi, setelah sebelumnya ia menyurati presiden, mempersoalkan kewenangannya yang "dipreteli", tapi tidak ditanggapi oleh Megawati. Keberpihakan publik menjadi cair dan mengalir untuk mengkonstruk SBY sebagai Ikon “tertindas” dan kemudian menemukan muaranya persis hampir sama dengan Megawati dengan Juli 1996-nya, yakni saat Pemilihan Presiden 2004.

Inilah kalkulasi dari keberpihakan publik yang bisa dimainkan oleh JIL. Isu-isu Cikeusik Pandgelang, Pembubaran Ahmadiyah, bisa menjadi sasaran empuk untuk melanjutkan tongkat estafet “kezhaliman” umat terhadap isu-isu pluralisme Agama.

Ledakan BNN dan Kewaspadaan Labelisasi Gerakan Islam

Selain di Utan Kayu, paket bom juga dikirimkan ke Badan Narkotika Nasional (BNN) di Cawang Jakarta Timur. Paket tersebut ditujukan untuk Kepala Badan Narkotika Nasional Gregorius Mere, atau yang sering dikenal sebagai Gories Mere.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Baharudin Djafar, polisi tengah menyelidiki kasus tersebut. Baharudin mengatakan petugas polisi sudah mendatangi BNN. "Saya belum tahu terkait hal itu, namun saya dengar ada anggota ke sana," ujar dia ketika dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, Selasa, 15 Maret 2011.

Namun siapakah Goris Mere sebenarnya? Kenapa Goris juga menjadi sasaran untuk sama-sama dikirimi paket bom seperti Ulil, mengingat dua orang tersebut berada pada wilayah berbeda. Kita ketahui bersama, sebelum berkiprah di BNN, Goris pernah bertugas di detasemen 88. Nama Goris Mere menjadi santer disebut Abu Bakar Ba'asyir sebagai aktor di belakang penangkapan dirinya. Ia bersama Densus 88 anti teror Polri berperan banyak hingga dirinya ditangkap.

Hal itu diucapkan langsung Ba'asyir saat menyampaikan eksepsi sebagai terdakwa dalam kasus terorisme di PN Jaksel, Kamis (24/2/2011). "Densus 88 mempunyai pasukan khusus satgas anti bom di bawah komando Gories Mere. Semua saksi-saksi sudah disiapkan dengan tekanan Densus 88. Dalam kasus Aceh ini orang-orang yang jadi saksi saya juga mengadapi siksaan," kata Ba'asyir seperti dikutip inilah.com.

Penulis menduga bahwa pada akhirnya, kedua bom ini akan dikaitkan pada kesamaan motif bahwa kelompok–kelompok yang concern terhadap isu SEPILIS juga mendukung aksi terorisme. Lalu apa hubunganya dengan BNN? Kita lupa salah satu tuduhan kepada kelompok Aceh selama ini adalah operasional pendanaan yang dialiri oleh penanaman ladang Ganja.

Pengamat teroris Mardigu Wowiek Prasantyo, misalnya, seperti dikutip antaranews, 13/3/2010 pernah menduga kelompok teroris membangun basis latihan di Provinsi Aceh karena bisa mendapat sumber pendanaan dari ladang ganja yang banyak terdapat di propinsi itu. Dikatakan Mardigu, di Provinsi Aceh yang kondisi alamnya perbukitan dan masih banyak hutan sangat mungkin membangun ladang ganja untuk membiayai latihan dan operasi kelompok teroris.

Pengamat yang mendalami ilmu terorisme di Amerika Serikat ini mencontohkan, gembong mafia di Kolombia Pablo Escobar disinyalir menjadi donatur yang sering mendanai kegiatan teroris melalui bisnis narkoba. Tuduhan Mardigu itu ditampik oleh Anggota Komisi I DPR dari daerah pemilihan Aceh, Azwar Abubakar pernah meragukan jika ladang ganja menjadi sumber pembiayaan kelompok teroris di Aceh. Menurut Azwar, seperti dikutip antaranews.com 13/3/2010 kelompok teroris di Aceh masih relatif baru sehingga belum sempat membangun ladang ganja.

Pertimbangan lainnya kelompok teroris membangun basis di Provinsi Aceh, kata dia, karena kontur alamnya yang berbukit dan masih banyak kawasan hutan, sehingga lebih leluasa untuk lokasi bersembunyi.

Oleh sebab itu, kita patut bersiap diri jika isu ini akan merembet ke seluruh gerakan Islam yang ada. Menuduh gerakan-gerakan atau kelompok Islam yang menyuarakan kritik tajamnya terhadap Pluralisme Agama dan Liberalisme Islam dengan stigma pedas berupa blok anti perbedaan, pelaku keonaran, hingga teroris.

Yang juga harus kita cermati ialah dengan kejadian ini otomatis akan semakin terbuka lebarnya kampanye pluralisme agama dibalik kedok kebhinekaan, keberagaman sebagai antisipasi agar tak lahir kembali kejadian serupa di Utan Kayu, padahal akidah dan tauhid adalah elemen terpenting bagi umat Islam. Dan kita mesti bersiap diri mendengar kalimat-kalimatnya: “Jangan menghakimi akidah orang lain, sebab yang tahu akidah manusia hanya Tuhan. Yang anti pluralisme itu teoris.”
Cukup sudah..

eramuslim.com Ledakan Utan Kayu: Keran Simpati Liberalisasi dan Nasib Gerakan Islam

Munarman : Bom Utan Kayu Pengalihan Isu Belaka

Munarman : Bom Utan Kayu Pengalihan Isu Belaka. Sesudah berkali-kali menghadapi sodokan politik yang dialami Presiden SBY, seperti tudingan bohong dari "Aliansi Agma-Agama", di susul tendangan dari koran The Sydney Morning Herald dan The Age, kemudian timbul berita besar yang menyita perhatian publik.

Ketika panik dengan tuduhan Presiden SBY melakukan kebohongan, di mana terjadi peristiwa penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeuting, Padeglang, dan ditambah dengan amuk di Temanggung, yang disertai pengrusakan gereja.

Maka, Front Pembela Islam menilai rangkaian teror bom yang terjadi di tiga lokasi di Jakarta, dan satu lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta, hanyalah bentuk pengalihan isu belaka. Dua peristiwa itu bikin geger.

Sekarang, sesudah hiruk pikuk di Jakarta, akibat tuduhan terhadap Presiden SBY oleh koran Australia The Sydney Morning Herald dan The Age, yang menulis bahwa Presiden melakukan "abused of power" (menyalahgunakan kekuasaan), tiba-tiba terjadi peristiwa ledakan paket bom di Utan Kayu, di kantor Radio H 68, tempat mangkalnya "Mas Gun" Gunawan Muhamad dan Ulil Abshor, yang menjadi dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal), yang sekarang menjadi tokoh di Partai Demokrat sebagai ketua.

Menanggapi peristiwa yang terjadi di Utan Kayu itu, Koordinator Advokat FPI, Munawar, menyatakan, "Jadi yang perlu untuk dilihat dan dipertanyakan, kenapa setiap ada persitiwa politik yang besar selalu muncul peristiwa bom," ujarnya.

Bahkan Munarman tidak percaya, jika rangkaian paket teror bom ini dilakukan oleh kelompok Islam garis keras. kelompok tersebut, menurutnya hanya dijadikan kambing hitam yang telah disiapkan tong sampahnya.

"Pola semacam itu pola sejak zaman orde baru, hanya berbeda kambing hitamnya," tegas Munarman.

Lebih jauh Munarman menjelaskan, jika aksi teror ini dilakukan oleh kelompok Islam garis keras, tidak ada relevansinya dengan Pemuda Pancasila dan Badan Narkotika Nasional.

"Kalau ditujukan pelaku adalah Islam garis keras, hubungannya dengan Mas Japto apa? mestinya kalau orang yang menggunakan rasio dan logikanya apa hubungannya dengan Mas Japto?" tutur mantan ketua LBH.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga paket teror bom dalam kemasan buku ditemukan di kantor Komunitas Utan Kayu yang merupakan kantor Ulil Anshar Abdalla, Gedung Badan Narkotika Nasional yang merupakan kantor Kepala BNN Gories Mere, dan rumah Ketua Pemuda Pancasila Japto S Soerjosoemarmo.

Paket bom buku yang dikemas menggunakan amplop cokelat besar ini, dikirimkan langsung oleh pelaku, dengan menujukan kiriman paket tersebut kepada tiga orang personal yakni Ulil, Gories, dan Japto.

Selain itu tengah malam tadi, teror bom juga dialami oleh Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Brigadir Jenderal Ondang Sutarsa. Teror disampaikan melalui surat yang dikirimkan ke rumah dinas Ondang, yang berpesan akan ada paket bom yang meledak dirumahnya.

Dengan peristiwa yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta itu, kembali media massa dan opini diarahkan kepada si "teroris" dan "Islam garis keras", yang menjadi kambing hitam. Nampaknya di Indonesia "teroris" dan "Islam Garis Keras" menjadi obat mujarab untuk mengalihkan isu politik yang besar, dan yang berkaitan dengan kekuasaan.

eramuslim.com Munarman : Bom Utan Kayu Pengalihan Isu Belaka

Bom Buku, 'Pernyataan' Kelompok Radikal Anti Demokrasi

Bom buku yang dikirimkan kepada Ulil Abshar Abdala, Komjen Pol Gories Mere, dan Japto Surjosoemarno dinilai adalah sebagai pernyataan kelompok anti demokrasi.

Paket bom tersebut juga tidak ada hubungannya dengan pengalihan isu WikiLeaks yang menerpa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Tak ada hubungan antara teror bom dengan WikiLeaks, tak ada kepentingan dari istana untuk menenggelamkan isu tersebut. SBY punya integritas,” ujar Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan.

Ramadhan mengungkapkan, teror bom tersebut adalah statment kelompok radikalisme politik yang ditujukan tidak hanya kepada Ulil tetapi juga kepada mereka yang pro demokrasi. “Mereka ingin merusak pilar bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945,” katanya.

Oleh sebab itu, Ramadhan mendesak agar polisi cepat untuk menangkap dan mengungkap motif pengiriman bom buku tersebut.

Kapolri belum tahu motif pengirim bom

Kapolri belum tahu motif pengirim bom. Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo mengatakan ada 4 paket bom yang dikirim ke sejumlah pribadi sejak kasus paket bom buku di Utana Kayu, Jakarta Timur, namun belum diketahui motivasinya. Paket bom itu ditujukan antara lain untuk pentolan Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, untuk Yapto Soerjosoemarno, ketua Pemuda Pancasila, Goris Mere, Ketua Badan anti Narkotik Nasional (BNN) dan kepada Ahmad Dhani, pemilik Republik Cinta Manajemen.

Timur mengatakan belum tahu motivasi dari pengiriman paket bom kepada sasaran orang perorang tersebut.

"Sekali lagi jangan menduga-duga dulu. Ini modus yang baru, kami perlu melakukan langkah-langkah yang lebih cermat," katanya di Istana Presiden, hari ini.

Menurut dia, langkah yang dilakukan di antaranya memeriksa kurir-kurir yang jadi target pengiriman paket bom tersebut sebagai jalan untuk melacak pelaku paket bomnya.

bisnis.com Kapolri belum tahu motif pengirim bom

Kembali Bersiap Menghadapi Teror Bom

Kembali Bersiap Menghadapi Teror Bom . Teror bom buku yang muncul dua hari lalu tentu saja mengagetkan kita semua. Dalam setahun belakangan ini kita nyaris lupa, dan bahkan mungkin mulai percaya negara ini aman dari bom.

Bagaimana kita tidak optimistis negeri ini sudah aman dari teroris? Gembong teroris mulai Dr Azahari, Imam Samudera, Amrozi dan Mukhlas telah mati. Demikian juga Nordin M Top tewas ditembak pada 2009. Pun Dulmatin, buron teroris yang dihargai Amerika Serikat (AS) Rp 93 miliar mati dalam penggerebekan pada 9 Maret 2010.

Lalu setelah itu, begitu banyak terduga atau tersangka teroris yang ditangkap Densus 88, disidangkan di pengadilan, dan dijebloskan ke penjara. Lantas banyak tokoh dunia datang ke Indonesia. Penyanyi kelas dunia sukses konser di Jakarta. Bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga datang dan aman-aman saja.

Kita mengira bangsa ini sudah aman dari terorisme. Kita sudah ingat-ingat lupa pernah ada Bom Bali yang menewaskan 220 orang. Bom JW Marriott dan Ritz Carlton yang menewaskan 9 orang dan menyebabkan 50 orang lebih luka-luka mungkin juga sudah mulai samar-samar dalam ingatan kita.

Tapi, Selasa (16/3/2011), teror bom itu kembali muncul. Tiga tokoh, Ulil Abshar Abdala, Komjen Gories Mere dan Japto S Soeryosumarno dikirimi paket bom dalam waktu berturutan. Bom untuk Gories dan Japto berhasil dijinakkan. Namun bom untuk Ulil keburu meledak saat upaya penjinakan dilakukan, 6 orang luka termasuk 3 polisi.

Teror bom atas tiga figur itu secara tidak langsung seperti melucuti rasa optimisme kita habis-habisan. Kita yang hampir percaya gerakan teroris sudah acak-acakan lantas tersadar terorisme belum habis. Meski aksi mereka kini memang kecil saja, tapi cukup memberi tanda mereka masih eksis dan siap menebar teror. Dan ini lebih berbahaya karena kita tidak tahu lagi siapa pemimpin mereka.

Sayangnya aparat (polisi, tim gegana dan intelijen) seperti sudah lengah. Intelijen seperti tidak mampu mengendus rencana teror bom buku itu. Gegana menunjukkan sikap malas-malasan. Dalam kasus bom Ulil, mereka baru datang setelah terjadi ledakan padahal sudah mendapatkan laporan beberapa jam sebelumnya.

Warga juga ceroboh. Bom untuk Ulil yang sudah dicurigai dari pukul 10.00 WIB baru dilaporkan pukul 13.00 WIB. Meski curiga dengan paket buku yang bersembulkan kabel-kabel, paket itu diletakkan begitu saja salah satu sudut ruangan itu. Untung bom tidak keburu meledak.

Hermawan Sulistyo menyebutkan, masih ada 1.500 ahli bom, dan dari jumlah tersebut yang masih aktif dalam jaringan terorisme ada 500-600 orang. Data Kiki, sapaan Hermawan, yang ikut memimpin investigasi Bom Bali itu kemungkinan besar benar karena terpidana bom Bali Ali Imron alias Ale juga pernah menyatakan hal serupa. Kata Ale, banyak ahli merakit bom seperti dirinya di Indonesia. "Banyak putra Indonesia yang ahli merakit bom yang menimbulkan ledakan dahsyat," kata Ale yang dihukum seumur hidup itu.

Dengan masih banyaknya ahli bom itu artinya, teror bom masih akan terus terjadi di kemudian hari. Konsekuensinya kita harus siap hidup berdampingan dengan teror tersebut. Maka itu warga tidak boleh hilang kehati-hatian. Aparat harus menuntaskan akar terorisme, tidak boleh lengah dan terlena dengan rebutan duit atau jabatan. Karena bagaimanapun juga semua orang tidak akan mau hidup dalam ketakutan; dan tugas negara memberi keamanan pada warganya.

detiknews.com Kembali Bersiap Menghadapi Teror Bom 

Ba'asyir Tampik Terlibat Bom Buku

Ba'asyir Tampik Terlibat Bom Buku. Berbagai dugaan dibalik teror bom buku beredar. Salah satunya, isu Abu Bakar Ba'asyir yang disebut-sebut terlibat dalam kasus tersebut. Tetapi, hal tersebut langsung ditampik keras oleh Ba'asyir.

"Hal itu menunjukkan rekayasa. Itu orang gila, zalim," kata Ba'asyir sebelum sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta, Kamis (17/3).

Sama halnya ketika namanya disebut-sebut usai peledakan di Hotel JW Mariott dua tahun yang sialam. Ba'asyir pun menampiknya dengan tegas. "Nama Marriott saja saya tidak mengerti," ungkapnya.

Paket buku yang dikirimkan untuk Ulil dan Gorries ini berjudul 'Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-dosa Mereka Terhadap Kaum Muslim', dan Buku untuk Japto 'Masih Adakah Pancasila'.

Bom buku untuk Ulil ini meledak sebelum gegana datang, dalam peristiwa tersebut 6 orang terluka. Salah satu korban adalah, Kasatreskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan, yang harus kehilangan satu tanganya. Sedangkan Buku Untuk Japto dapat dijinakkan. Muncul beberapa analisa terkait dengan adanya bom tersebut. Beberapa kalangan pesimistis, kasus bom tersebut akan segera terungkap.

suaramerdeka.com Ba'asyir Tampik Terlibat Bom Buku

Teror Bom Buku Ancaman terhadap Demokrat

Teror Bom Buku Ancaman terhadap Demokrat. Politisi Partai Demokrat, Benny K Harman, menilai, bom berbentuk buku yang salah satunya ditujukan kepada politisi Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, merupakan bentuk ancaman terhadap Partai Demokrat. Masalah tersebut menurutnya sangat serius. Dia meminta Kepolisian segera mengungkap pelaku di balik teror tersebut.

"Kami memandang ancaman ditujukan pada Demokrat karena Ulil adalah salah satu pimpinan Partai Demokrat yang selama ini mengampanyekan demokrasi dan pluralisme," ujar Benny di DPR, Senayan, Jakarta. Benny menduga adanya motif politik di balik pengiriman tersebut yang tidak ingin pluralisme berkembang di Indonesia.

Dia juga berpendapat, jika ditemukan bom, masyarakat sebaiknya langsung melaporkan kepada Kepolisian. Kemudian Kepolisian langsung mengirimkan tim Gegana ke lokasi kejadian. "Kepolisian harus pasang police line (garis polisi). Gegana kemudian masuk. Nggak boleh ada orang lain yang masuk sebelum Gegana. Polisi saja tidak boleh begitu kalau tidak memiliki otoritas menangani," ucapnya.

Seperti diberitakan, tiga bom berbentuk buku, Selasa (15/3/2011), dikirimkan kepada Kepala Badan Narkotika Nasional Gorries Mere, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla, dan Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Soerjosoemarno. Bom untuk Ulil meledak di kantor Komunitas Utan Kayu saat hendak dijinakkan Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Komisaris Polisi Dodi Rahmawan.

kompas.com Teror Bom Buku Ancaman terhadap Demokrat

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More