cari cari ...

Showing posts with label pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan. Show all posts

Tuesday, October 5, 2010

Barus, Jejak Pertama Berkembangnya Islam di Sumatera Utara

Medan, (Analisa)

Dari beberapa sumber yang ada, diperkirakan Islam masuk ke nusantara pada abad 7 dan ke-8, terutama setelah kemunculan dan perkembangan dinasti yang kuat.

Yakni, masa kekhalifahan Umayah pada 660-749 M di Asia Barat, Dinasti Tang 618-907 M di Asia Timur dan Kerajaan Sriwijaya abad 7-14 M di Asia Tenggara.


Untuk di Sumatera Utara jejak masuknya islam melalui Barus yang merupakan daerah pesisir barat Pulau Sumatera di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Penyebaran agama islam di kabupaten tersebut dapat dilihat dari bukti-bukti arkeologis yang ditemukan yang berasal dari Iran maupun Mesir.

"Dulunya, Barus mempunyai bandar yang kerap disinggahi para pedagang maupun pelayar dari berbagai negara seperti Arab, Cina bahkan Eropa," demikian Lucas Partanda Koestoro dari Balai Arkeologi Islam yang tampil sebagai Pembicara dalam Dialog Interaktif bertemakan Jejak Budaya Islam di Sumatera yang digelar Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara di Dharma Deli, Senin-Selasa (4-5/10).

Bandar besar

Dikatakan Lucas, karena fungsi Barus sebagai bandar yang besar serta sering disinggahi para pedagang dari berbagai negara, maupun hubungannya dengan pihak luar, ternyata tidak hanya islam yang berkembang di kota penghasil Kapur Barus tersebut. Agama kristen juga ada, bahkan orang Yahudi dan Yunani juga pernah singgah di Barus.

Dalam dialog yang digelar dua hari itu menghadirkan pembicara lainnya, yakni, Suprayitno Dosen Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Satra USU dengan makalah Bukti Awal Islam di Sumatera Studi Batu Nisan Aceh, Drs H Junaidi T Noor MM dari Jambi yang menyampaikan makalah Sekilas Sejarah dan Peradaban Kebudayaan Islam di Jambi, Nurdin AR MHum, Budi Wiyana dari Sumsel, Drs H Muasri dari Sumbar, Devi Trisno SPd dari Bengkulu dan Oki Laksito M Hum dari Lampung.

Kepala UPT Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara Dra Sri Hartini MSi di usai dialog mengungkapkan, dialog interaktif yang digelar Museum Negeri Sumut, serangkaian dengan Pameran Bersama oleh delapan Provinsi bertajuk Islam Dalam Budaya Sumatera, bertujuan untuk menggali potensi yang belum terangkat ke permukaan sekaligus untuk melestarikan budaya islam di Sumatera.

Selain itu, melalui dialog ini para peserta yang berasal dari kalangan akademik, mahasiswa, guru sejarah, kepala museum negeri se-Sumatera, kurator dan staf teknis kurator dapat lebih mengetahui tentang jejak sejarah islam dari delapan provinsi di Indonesia.

Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Drs Sudarno yang menutup dialog tersebut menambahkan, melalui dialog ini, para pembicara ingin membagi informasi maupun bukti-bukti sejarah dan perkembangan islam di Sumatera, termasuk Sumatera Utara. (mc) www.analisadaily.com

168 Koleksi Benda Bersejarah Islam Dipamerkan

Medan ( Berita ) : Sebanyak 168 koleksi benda bersejarah Islam dipamerkan dalam kegiatan “Islam Dalam Budaya Sumatera” yang digelar di Museum Negeri Sumatera Utara mulai 4 Oktober hingga 4 November 2010.

“Berbagai macam benda bersejarah Islam dan foto-foto dipamerkan untuk meningkatkan kesadaran sejarah masyarakat,” kata Kepala Museum Negeri Sumut Sri Hartini di Medan, Senin [04/10].


Dia menjelaskan, pameran benda-benda bersejarah itu diikuti oleh delapan museum di Sumatera yaitu Museum Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung.

“Dari ratusan benda-benda yang dipamerkan, kami menginginkan masyarakat bisa mengenal lebih jauh sejarah Islam pada masa lampau sehingga dapat menambah wawasan serta dapat mengembangkan ilmu sejarah mereka,” ujarnya.

Koleksi yang ditampilkan dalam pameran itu berupa benda aksara dan sastra seperti naskah Tarjumanul Mustafid dari Museum NAD, Kitab Nahu dari Lampung, naskah kuno dari Lampung, Al Quran tulisan tangan dari Jambi, dan Tambo Naskah Raja-raja dari Sumatera Barat.

Selain itu, ada juga Numismatika berupa telaah atau kajian mengenai mata uang atau tanda jasa yakni Derham (1297-1326 Masehi) yang terbuat dari emas dan merupakan mata uang berbentuk bundar milik Kerajaan Aceh Darussalam, Uang Tanah Melayu yaitu empat buah mata uang tembaga dari Pekanbaru tahun 1251 Hijriyah yang berfungsi sebagai alat tukar di Kerajaan Tanah Melayu.

Lebih lanjut, ujar Sri, ada juga Sigillografi yakni berupa bidang kajian yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan segel/cap/stempel/materai atau tera yang digunakan untuk menerakan bentuk-bentuk atau tulisan tertentu di atas permukaan suatu benda. “Fungsi Sigillografi sebagai penentu validitas yang dikeluarkan oleh kerajaan, lembaga, kongsi dagang, maupun perorangan,” katanya. Benda dari Sigillografi berupa cap Tuan Kadi dari Riau, duplikat stempel Sisingamangaraja X dari Sumut dan cap Palembang dari Sumatera Selatan.

“Kami berharap para pengunjung yang datang dapat mengenal sejarah Islam masa lampau baik dari benda-benda maupun foto-foto yang ada agar ke depan dapat menjaga serta melestarikan kebudayaan yang ada,” katanya. (ant ) www.beritasore.com

INDONESIA – IRAN ADAKAN KERJASAMA BANTUAN SOSIAL

Jakarta, 5/10/2010 (Kominfo-Newsroom) Menteri Sosial RI, Salim Segaf Al-Jufri menerima kunjungan  delegasi Imam Khomeini Relief Foundation (IKRF) yang dipimpin oleh Mr Husein Anvari didampingi Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mr Mahmoud Farajandeh.

Mensos Salim Segaf Al-Juri menerima kunjungan Delegasi IKRF Iran di Kemenos, Selasa (5/10)
“Kunjungan tersebut merupakan kunjungan balasan IKRF, karena sebelumnya, pada 26 September 2009 lalu Kementerian Sosial mengadakan kunjungan kesana,” kata Mensos pada acara jumpa pers seusai menerima delegasi Iran tersebut di Kantor Kemensos,  Jakarta, Selasa (5/10).
Kunjungan balasan tersebut untuk menindaklanjuti Letter of Intent (LoI) tentang Kerjasama Bantuan Sosial yang telah ditandatangani sebelumnya oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI dengan Deputi Ketua Kerjasama Internasional IKRF di Tehran, 26 September 2009.
Maka secara jelas kunjungan ini bertujuan meningkatkan saling pengertian dan kerjasama erat antara Kementerian Sosial RI dengan IKRF dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan memperkokoh landasan keluarga, dan membantu masyarakat yang membutuhkan, serta mengakui prinsip saling menguntungkan, dan menghormati.
Kerjasama sosial tersebut antara lain berupa santunan kemanusiaan, bagi mereka yang miskin, dan juga pemberdayaan, sehingga kerjasama ini bentuknya bermacam-macam.
Selain itu, dilakukan pertukaran pengalaman keberhasilan dalam bidang pemberdayaan warga rentan, khususnya anak-anak yatim piatu, dan rumah tangga perempuan tunggal di Indonesia. Bantuan tersebut disesuaikan dengan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di Republik Indonesia dan Repubblik Islam Iran.
Dari pembicaraan yang dilakukan,  kata Mensos, mereka masih menginginkan agar ada delegasi dari Kemensos lagi untuk mengadakan kunjungan kembali kesana guna membicarakan yang lebih detil, kira-kira apa yang bisa dilakukan dalam tahap awal.
Sementara itu, Mr Hosein Anvari dalam kesempatan tersebut mengatakan merasa senang sekali, dan merupakan sebuah kehormatan bagi delegasi IKRF bisa hadir dan berada di Indonesia.
Menurutnya, tahun 2009 pihaknya juga telah menerima delegasi dari Kemensos, dan melakukan berbagai macam pembahasan seperti yang baru saja dilakukan yaitu membahas bagaimana bisa memiliki keluarga yang sehat diberbagai belahan bangsa, dan bagaimana bisa memberdayakan keluarga yang membutuhkan.
Pihaknya telah memiliki pengalaman selama 30 tahun,  khususnya untuk membantu keluarga dimana sang ibu atau perempuan menjadi kepala keluarga. Disamping itu, pihaknya juga mempunyai pengalaman-pengalaman membantu yang lanjut usia, dan anak-anak yatim.
Ia bersyukur pemerintah Indonesia melalui Kemensos mempunyai pengalaman yang baik dan sangat kaya dibidang tersebut. Mengingat dua Negara, Republik Islam Iran dan Republik Indonesia mempunyai dasar-dasar kepercayaan yang sama yaitu Allah dan Al-Quran,  dan mengambil arahan serta nilai-nilai untuk bekerja dari dua sumber tersebut. “Oleh karena itu, dari dua sumber tersebut bisa menjadi dasar kerjasama yang baik untuk kedepan,” katanya.
IKRF didirikan pada 5 Maret 1979, merupakan yayasan kemanusiaan yang melayani dan menolong komunitas kurang mampu, pengentasan kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka yang berada di bawah garis kemiskinan.
Pelayanan yang diberikan IKRF mencakup sandang, pangan, papan, jaminan kesehatan, pendidikan dan menyediakan lapangan kerja disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan oleh para penerima manfaat. Kerjasama dan pelayanan IKRF tidak hanya di Republik Islam Iran saja, tetapi juga merambah ke dunia internasional. (T. Gs) www.bipnewsroom.info

Aceh Daerah Pertama Menerima Islam

MEDAN, KOMPAS.com--Aceh merupakan daerah pertama yang menerima kedatangan Islam di Indonesia, tepatnya di Pasai, kata dosen ilmu sejarah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, Suprayitno.

Hal itu disampaikannya pada dialog "Jejak Kebudayaan Islam di Sumatera" yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, di Medan, Selasa.


Ia menjelaskan, mengacu pada seminar tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia yang telah digelar tiga kali yakni di Medan (1963), Banda Aceh (1978) dan Kuala Simpang (1980), disimpulkan bahwa Islam datang langsung dari Arab pada abad pertama Hijriah atau ke-7 Masehi.

Adapun daearah pertama yang menerima kedatangan Islam yakni Aceh, tepatnya di Pasai, Aceh Utara, dan Peurelak, Aceh Timur, katanya.

Ia menambahkan, proses awal kedatangan Islam di Sumatera terlebih Indonesia bisa dilihat dengan rujukan sejumlah data, khsususnya data prasasti Islam yakni batu nisan Aceh.

Berdasarkan beberapa referensi para ilmuwan, katanya, tercatat sebanyak 300 prasasti Islam yang mengungkapkan secara singkat, tokoh lelaki maupun perempuan yang pernah menjadi pelaku ataupun saksi dalam peristiwa perubahan budaya yang dahsyat itu.

Peta sebaran parasasti Islam itu, katanya, menunjukkan kepada tiga kawasan utama, yakni bagian Utara Sumatera (Aceh dan Aru), Semenanjung Tanah Melayu (dua pusatnya di Johor dan Patani), Brunei dan Kepulauan Sulu.

Berdasarkan temuan di Kuta Lubhok, terutama batu nisan tipe Plak Pling atau AB2 dan AP2 yang bertanggal 1007 Masehi, maka Tapak Kuta Lubhok menempati posisi penting dalam kajian awal Islam di Sumatera.

Peneliti Balai Arkeologi Palembang Budi Wiyana mengatakan, masuknya Islam melalui Sumatera dinilai cukup memungkinkan.

"Sulit diterima secara logika, bila ajaran Islam itu masuk melalui daerah lain kecuali Sumatera, karena biasanya ajaran itu masuk melalui jalur perdagangan dan perkawinan," katanya.

Peneliti Senior Badan Arkeologi Medan Lucas Partanda Koestoro, DEA mengatakan, secara geografis kemungkinan besar masuknya ajaran Islam di Indonesia melalui Sumatera, yakni Aceh dan Barus.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More