cari cari ...

Showing posts with label obama. Show all posts
Showing posts with label obama. Show all posts

Wednesday, November 10, 2010

Tur Asia Obama: Sinyal Akhir Hegemoni AS?

Barack Obama sudah dan sedang memulai turnya di empat negara Asia (India, Indonesia, Korea Selatan, dan Jepang). Hubungan antara Jepang dan Cina telah memburuk dengan tajam menyusul penyitaan Jepang terhadap perahu nelayan Cina. Dan Korea Selatan, klien kuat Amerika lainnya, memiliki banyak rasa takut dari transisi politik tetangga mereka yang misterius.


India dan Indonesia juga menyajikan beberapa tantangan strategis yang kompleks. Sengketa di Kashmir—Obama mengidentifikasinya sebagai "tugas-tugas penting"-nya pada tahun 2008—jelas telah melemahkan komitmen Pakistan untuk perang Amerika di Afghanistan. Setelah dua perjalanan dibatalkan ke Indonesia, Obama akhirnya memiliki kesempatan minggu ini untuk bernostalgia dengan masa kecilnya di negara ini, dan untuk kembali berinteraksi dengan negara Muslim paling banyak, sejak ia pertama kalinya tampil di Kairo pada tahun 2009.

Namun, Obama bersikeras mendefinisikan misi di Asia dengan waktu yang sangat mepet. "Kita harus mencari," tulisnya dalam sebuah tulisan di New York Times, "konsumen baru di pasar baru untuk barang buatan Amerika."

Mengunjungi India, Obama berbicara tentang kesepakatan bisnis dan pekerjaan Amerika. Ia mungkin sudah sedikit mawas dri setelah kemunduran dalam pemilu paruh waktu AS pekan lalu. Obama punya tugas besar mengentaskan pengangguran yang tak biasa di negerinya, serta mendorong pemulihan ekonomi jika ia berharap untuk memenangkan masa jabatan keduanya sebagai presiden di tahun 2012. Obama, jadinya, mungkin mencoba untuk menghindari kesan yang terlalu sibuk dengan isu-isu kebijakan luar negeri yang muskil.

Namun, sifat malu-malu geopolitik Obama menyimpan fakta yang tak terbantahkan: bahwa Amerika, melemah oleh resesi ekonomi dan kegagalan militer-diplomatik secara beruntun, tidak bisa lagi mendikte jalannya peristiwa di Asia.

Ingat cerita panjang tentang kebangkitan Cina yang selalu diulang-ulang? Itu hanya bagian dari penjelasan untuk hal ini. Lebih penting lagi, massa politisasi dan regionalisme ekonomi telah membuat banyak negara di Asia sadar, yang sebelumnya selalu mengikuti Amerika; meringkuk dalam sebuah bayangan panjang.

Mungkin tidak ada politisi Amerika yang lebih memperhatikan perubahan di Indonesia lebih daripada Obama. Ia tinggal di Jakarta pada akhir 1960-an, dan mengunjungi Pakistan dan India ketika menjadi mahasiswa pada tahun 1981. Dua tahun sebelum Obama yang baru berusia enam tahun pindah dengan ibunya ke Jakarta, ada hampir setengah juta tersangka komunis di Indonesia. Indonesia selama kepemipinan Jenderal Orde Baru Suharto (1967-1998) menjadi klien sempurna untuk Amerika Serikat.

Selalu ada pembenaran intelektual kelas tinggi yang tersedia untuk kapitalisme kroni dan kebrutalan militer. Pada tahun 1968 Samuel Huntington menerbitkan Political Order in Changing Societies. Dari Suharto sampai Park Chung-hee Korea Selatan, serta jangan lupakan Syah Iran membuktikan dengan cermat apa yang disebutkan oleh Huntington.

Satu lagi, tentu saja Jendral Pakistan Zia-ul-Haq. Pada tahun 1954, Pakistan bersama dengan Turki dan Iran dilibatkan dalam perang dingin. Saadat Hasan Manto, penulis besar bangsa Urdu, menulis serangkaian satir yang ditujukan untuk Amerika. "Dear Uncle," tulisnya, "kau sangat prihatin akan stabilitas negara Islam terbesar di dunia karena kami adalah obat terbaik untuk komunisme Russia.”

Tentu saja, tidak ada pengaturan politik dan ekonomi setelah perang dingin berakhir. Semuanya meleleh dengan cara mereka sendiri, sering menyebabkan kekacauan yang lebih luas bahkan daripada yang ditakuti oleh Huntington sendiri. Massa akhirnya menumbangkan Suharto, dan Indonesia terjun ke masa demokratisasi yang terus bergolak tanpa henti. Jenderal Zia secara misterius mengalami kecelakaan pesawat, tetapi gairah politik yang ia canangkan masih terus ada; sebagian memberi jalan pada ketidakadilan untuk masyarakat feodal Pakistan yang disaksikan langsung oleh Obama dalam kunjungannya ke negara itu.

Tapi kemudian, seperti yang dikatakan oleh Manto kepada Uncle Sam: "Saya keponakan Anda yang berasal dari Pakistan dan saya tahu langkah Anda. Setiap orang sekarang bisa berlaga sok tahu, terima kasih atas gaya politik Anda." Hampir di mana-mana di Asia, Amerika Serikat tidak dipercaya. Ia memupuk semua anak didiknya di beberapa titik; Pakistan, Karzai, Syah Iran, dan Libanon. Di Malaysia, yang kelihatannya tampak konsisten dengan ide ekonomi timurnya, bagi pertumbuhan dalam tiga dekade terakhir, sebenarnya masih berkiblat pada kebijakan stigma lama Amerika jauh sebelum "konsensus Washington."

Obama akan segera tahu, India menjalin lebih banyak kemitraan yang bermanfaat di Asia daripada di Barat yang dilanda resesi. Politik yang rusak di Thailand serta Hong Kong, Singapura, Korea Selatan dan Taiwan telah sembuh. India tahun lalu menandatangani kesepakatan perdagangan bebas dengan Asean. Tidak mengherankan kolumnis di Star, surat kabar terkemuka Malaysia dalam bahasa Inggris, menganggap kunjungan perdana menteri India ke Kuala Lumpur minggu lalu lebih penting daripada pesiar dengan Hillary Clinton, menteri luar negeri AS, ke daerah itu pada waktu yang sama.

Sebuah jalinan perjanjian perdagangan bilateral mendasari kesatuan baru ekonomi Asia. Cina dan negara-negara Asean sudah menjadi zona perdagangan bebas terbesar di dunia. Asia takut akan kebangkitan Cina, yang terus dimonitori oleh Amerika Serikat dengan tajam; fakta bahwa Cina sekarang merupakan pasar ekspor terbesar untuk Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, selain menjadi mitra dagang terbesar India.

Semua ini terdengar seperti dari planet jauh bagi sebagian orang Amerika yang berpikir bahwa AS akan menemukan jalan keluar dari kesulitan politik dan ekonomi luar negerinya. Sekarang semuanya jatuh ke pelukan Obama untuk memajukan pendidikan mereka, dan apakah ia akan berhasil dalam tugasnya itu? Obama, seseorang yang pernah tinggal di Jakarta, mungkin tidak penah membayangkan bahwa ia berada dalam hiruk-pikuk Asia baru yang keras.eramuslim.com

Tuesday, November 9, 2010

Transkrip Pidato Presiden Barack Obama di Universitas Indonesia

Barack Obama -  As Prepared for Delivery


Thank you for this wonderful welcome. Thank you to the people of Jakarta. And thank you to the people of Indonesia.

I am so glad that I made it to Indonesia, and that Michelle was able to join me. We had a couple of false starts this year, but I was determined to visit a country that has meant so much to me. Unfortunately, it’s a fairly quick visit, but I look forward to coming back a year from now, when Indonesia hosts the East Asia Summit.

Before I go any further, I want to say that our thoughts and prayers are with all of those Indonesians affected by the recent tsunami and volcanic eruptions – particularly those who have lost loved ones, and those who have been displaced. As always, the United States stands with Indonesia in responding to this natural disaster, and we are pleased to be able to help as needed. As neighbors help neighbors and families take in the displaced, I know that the strength and resilience of the Indonesian people will pull you through once more.

Let me begin with a simple statement: Indonesia is a part of me. I first came to this country when my mother married an Indonesian man named Lolo Soetoro. As a young boy, I was coming to a different world. But the people of Indonesia quickly made me feel at home.

Jakarta looked very different in those days. The city was filled with buildings that were no more than a few stories tall. The Hotel Indonesia was one of the few high rises, and there was just one brand new shopping center called Sarinah. Betchaks outnumbered automobiles in those days, and the highway quickly gave way to unpaved roads and kampongs.

We moved to Menteng Dalam, where we lived in a small house with a mango tree out front. I learned to love Indonesia while flying kites, running along paddy fields, catching dragonflies, and buying satay and baso from the street vendors. Most of all, I remember the people – the old men and women who welcomed us with smiles; the children who made a foreigner feel like a neighbor; and the teachers who helped me learn about the wider world.

Because Indonesia is made up of thousands of islands, hundreds of languages, and people from scores of regions and ethnic groups, my times here helped me appreciate the common humanity of all people. And while my stepfather, like most Indonesians, was raised a Muslim, he firmly believed that all religions were worthy of respect. In this way, he reflected the spirit of religious tolerance that is enshrined in Indonesia’s Constitution, and that remains one of this country’s defining and inspiring characteristics.

I stayed here for four years – a time that helped shape my childhood; a time that saw the birth of my wonderful sister, Maya; and a time that made such an impression on my mother that she kept returning to Indonesia over the next twenty years to live, work and travel – pursuing her passion of promoting opportunity in Indonesia’s villages, particularly for women and girls. For her entire life, my mother held this place and its people close to her heart.

So much has changed in the four decades since I boarded a plane to move back to Hawaii. If you asked me – or any of my schoolmates who knew me back then – I don’t think any of us could have anticipated that I would one day come back to Jakarta as President of the United States. And few could have anticipated the remarkable story of Indonesia over these last four decades.

The Jakarta that I once knew has grown to a teeming city of nearly ten million, with skyscrapers that dwarf the Hotel Indonesia, and thriving centers of culture and commerce. While my Indonesian friends and I used to run in fields with water buffalo and goats, a new generation of Indonesians is among the most wired in the world – connected through cell phones and social networks. And while Indonesia as a young nation focused inward, a growing Indonesia now plays a key role in the Asia Pacific and the global economy.

This change extends to politics. When my step-father was a boy, he watched his own father and older brother leave home to fight and die in the struggle for Indonesian independence. I’m happy to be here on Heroes Day to honor the memory of so many Indonesians who have sacrificed on behalf of this great country.

When I moved to Jakarta, it was 1967, a time that followed great suffering and conflict in parts of this country. Even though my step-father had served in the Army, the violence and killing during that time of political upheaval was largely unknown to me because it was unspoken by my Indonesian family and friends. In my household, like so many others across Indonesia, it was an invisible presence. Indonesians had their independence, but fear was not far away.

In the years since then, Indonesia has charted its own course through an extraordinary democratic transformation – from the rule of an iron fist to the rule of the people. In recent years, the world has watched with hope and admiration, as Indonesians embraced the peaceful transfer of power and the direct election of leaders. And just as your democracy is symbolized by your elected President and legislature, your democracy is sustained and fortified by its checks and balances: a dynamic civil society; political parties and unions; a vibrant media and engaged citizens who have ensured that – in Indonesia -- there will be no turning back.

But even as this land of my youth has changed in so many ways, those things that I learned to love about Indonesia – that spirit of tolerance that is written into your Constitution; symbolized in your mosques and churches and temples; and embodied in your people – still lives on. Bhinneka Tunggal Ika – unity in diversity. This is the foundation of Indonesia’s example to the world, and this is why Indonesia will play such an important role in the 21st century.

So today, I return to Indonesia as a friend, but also as a President who seeks a deep and enduring partnership between our two countries. Because as vast and diverse countries; as neighbors on either side of the Pacific; and above all as democracies – the United States and Indonesia are bound together by shared interests and shared values.

Yesterday, President Yudhoyono and I announced a new, Comprehensive Partnership between the United States and Indonesia. We are increasing ties between our governments in many different areas, and – just as importantly – we are increasing ties among our people. This is a partnership of equals, grounded in mutual interests and mutual respect.

With the rest of my time today, I’d like to talk about why the story I just told – the story of Indonesia since the days when I lived here – is so important to the United States, and to the world. I will focus on three areas that are closely related, and fundamental to human progress – development, democracy, and religion.

First, the friendship between the United States and Indonesia can advance our mutual interest in development.

When I moved to Indonesia, it would have been hard to imagine a future in which the prosperity of families in Chicago and Jakarta would be connected. But our economies are now global, and Indonesians have experienced both the promise and perils of globalization: from the shock of the Asian financial crisis in the 1990s to the millions lifted out of poverty. What that means – and what we learned in the recent economic crisis – is that we have a stake in each other’s success.

America has a stake in an Indonesia that is growing, with prosperity that is broadly shared among the Indonesian people – because a rising middle class here means new markets for our goods, just as America is a market for yours. And so we are investing more in Indonesia, our exports have grown by nearly 50 percent, and we are opening doors for Americans and Indonesians to do business with one another.

America has a stake in an Indonesia that plays its rightful role in shaping the global economy. Gone are the days when seven or eight countries could come together to determine the direction of global markets. That is why the G-20 is now the center of international economic cooperation, so that emerging economies like Indonesia have a greater voice and bear greater responsibility. And through its leadership of the G-20’s anti-corruption group, Indonesia should lead on the world stage and by example in embracing transparency and accountability.

America has a stake in an Indonesia that pursues sustainable development, because the way we grow will determine the quality of our lives and the health of our planet. That is why we are developing clean energy technologies that can power industry and preserve Indonesia’s precious natural resources – and America welcomes your country’s strong leadership in the global effort to combat climate change.

Above all, America has a stake in the success of the Indonesian people. Underneath the headlines of the day, we must build bridges between our peoples, because our future security and prosperity is shared. That is exactly what we are doing – by increased collaboration among our scientists and researchers, and by working together to foster entrepreneurship. And I am especially pleased that we have committed to double the number of American and Indonesian students studying in our respective countries – we want more Indonesian students in our schools, and more American students to come study in this country, so that we can forge new ties that last well into this young century.

These are the issues that really matter in our daily lives. Development, after all, is not simply about growth rates and numbers on a balance sheet. It’s about whether a child can learn the skills they need to make it in a changing world. It’s about whether a good idea is allowed to grow into a business, and not be suffocated by corruption. It’s about whether those forces that have transformed the Jakarta that I once knew –technology and trade and the flow of people and goods – translate into a better life for human beings, a life marked by dignity and opportunity.

This kind of development is inseparable from the role of democracy.

Today, we sometimes hear that democracy stands in the way of economic progress. This is not a new argument. Particularly in times of change and economic uncertainty, some will say that it is easier to take a shortcut to development by trading away the rights of human beings for the power of the state. But that is not what I saw on my trip to India, and that is not what I see in Indonesia. Your achievements demonstrate that democracy and development reinforce one another.

Like any democracy, you have known setbacks along the way. America is no different. Our own Constitution spoke of the effort to forge a “more perfect union,” and that is a journey we have travelled ever since, enduring Civil War and struggles to extend rights to all of our citizens. But it is precisely this effort that has allowed us to become stronger and more prosperous, while also becoming a more just and free society.

Like other countries that emerged from colonial rule in the last century, Indonesia struggled and sacrificed for the right to determine your destiny. That is what Heroes Day is all about – an Indonesia that belongs to Indonesians. But you also ultimately decided that freedom cannot mean replacing the strong hand of a colonizer with a strongman of your own.

Of course, democracy is messy. Not everyone likes the results of every election. You go through ups and downs. But the journey is worthwhile, and it goes beyond casting a ballot. It takes strong institutions to check the concentration of power. It takes open markets that allow individuals to thrive. It takes a free press and an independent justice system to root out abuse and excess, and to insist upon accountability. It takes open society and active citizens to reject inequality and injustice.

These are the forces that will propel Indonesia forward. And it will require a refusal to tolerate the corruption that stands in the way of opportunity; a commitment to transparency that gives every Indonesian a stake in their government; and a belief that the freedom that Indonesians have fought for is what holds this great nation together.

That is the message of the Indonesians who have advanced this democratic story – from those who fought in the Battle of Surabaya 55 years ago today; to the students who marched peacefully for democracy in the 1990s, to leaders who have embraced the peaceful transition of power in this young century. Because ultimately, it will be the rights of citizens that will stitch together this remarkable Nusantara that stretches from Sabang to Merauke – an insistence that every child born in this country should be treated equally, whether they come from Java or Aceh; Bali or Papua.

That effort extends to the example that Indonesia sets abroad. Indonesia took the initiative to establish the Bali Democracy Forum, an open forum for countries to share their experiences and best practices in fostering democracy. Indonesia has also been at the forefront of pushing for more attention to human rights within ASEAN.  The nations of Southeast Asia must have the right to determine their own destiny, and the United States will strongly support that right. But the people of Southeast Asia must have the right to determine their own destiny as well. That is why we condemned elections in Burma that were neither free nor fair. That is why we are supporting your vibrant civil society in working with counterparts across this region. Because there is no reason why respect for human rights should stop at the border of any country.

Hand in hand, that is what development and democracy are about – the notion that certain values are universal. Prosperity without freedom is just another form of poverty. Because there are aspirations that human beings share – the liberty of knowing that your leader is accountable to you, and that you won’t be locked up for disagreeing with them; the opportunity to get an education and to work with dignity; the freedom to practice your faith without fear or restriction.

Religion is the final topic that I want to address today, and – like democracy and development – it is fundamental to the Indonesian story.

Like the other Asian nations that I am visiting on this trip, Indonesia is steeped in spirituality – a place where people worship God in many different ways.  Along with this rich diversity, it is also home to the world’s largest Muslim population – a truth that I came to know as a boy when I heard the call to prayer across Jakarta.

Just as individuals are not defined solely by their faith, Indonesia is defined by more than its Muslim population. But we also know that relations between the United States and Muslim communities have frayed over many years. As President, I have made it a priority to begin to repair these relations. As a part of that effort, I went to Cairo last June, and called for a new beginning between the United States and Muslims around the world – one that creates a path for us to move beyond our differences.

I said then, and I will repeat now, that no single speech can eradicate years of mistrust. But I believed then, and I believe today, that we have a choice. We can choose to be defined by our differences, and give in to a future of suspicion and mistrust. Or we can choose to do the hard work of forging common ground, and commit ourselves to the steady pursuit of progress. And I can promise you – no matter what setbacks may come, the United States is committed to human progress. That is who we are. That is what we have done. That is what we will do.

We know well the issues that have caused tensions for many years – issues that I addressed in Cairo. In the 17 months that have passed we have made some progress, but much more work remains to be done.

Innocent civilians in America, Indonesia, and across the world are still targeted by violent extremists. I have made it clear that America is not, and never will be, at war with Islam. Instead, all of us must defeat al Qaeda and its affiliates, who have no claim to be leaders of any religion – certainly not a great, world religion like Islam. But those who want to build must not cede ground to terrorists who seek to destroy. This is not a task for America alone. Indeed, here in Indonesia, you have made progress in rooting out terrorists and combating violent extremism.

In Afghanistan, we continue to work with a coalition of nations to build the capacity of the Afghan government to secure its future. Our shared interest is in building peace in a war-torn land – a peace that provides no safe-haven for violent extremists, and that provides hope for the Afghan people.

Meanwhile, we have made progress on one of our core commitments - our effort to end the war in Iraq. 100,000 American troops have left Iraq. Iraqis have taken full responsibility for their security. And we will continue to support Iraq as it forms an inclusive government and we bring all of our troops home.

In the Middle East, we have faced false starts and setbacks, but we have been persistent in our pursuit of peace. Israelis and Palestinians restarted direct talks, but enormous obstacles remain. There should be no illusions that peace and security will come easy. But let there be no doubt: we will spare no effort in working for the outcome that is just, and that is in the interest of all the parties involved: two states, Israel and Palestine, living side by side in peace and security.

The stakes are high in resolving these issues, and the others I have spoken about today. For our world has grown smaller and while those forces that connect us have unleashed opportunity, they also empower those who seek to derail progress. One bomb in a marketplace can obliterate the bustle of daily commerce. One whispered rumor can obscure the truth, and set off violence between communities that once lived in peace. In an age of rapid change and colliding cultures, what we share as human beings can be lost.

But I believe that the history of both America and Indonesia gives us hope. It’s a story written into our national mottos. E pluribus unum – out of many, one. Bhinneka Tunggal Ika – unity in diversity. We are two nations, which have travelled different paths. Yet our nations show that hundreds of millions who hold different beliefs can be united in freedom under one flag. And we are now building on that shared humanity – through the young people who will study in each other’s schools; through the entrepreneurs forging ties that can lead to prosperity; and through our embrace of fundamental democratic values and human aspirations..

Earlier today, I visited the Istiqlal mosque – a place of worship that was still under construction when I lived in Jakarta. I admired its soaring minaret, imposing dome, and welcoming space. But its name and history also speak to what makes Indonesia great. Istiqlal means independence, and its construction was in part a testament to the nation’s struggle for freedom. Moreover, this house of worship for many thousands of Muslims was designed by a Christian architect.

Such is Indonesia’s spirit. Such is the message of Indonesia’s inclusive philosophy, Pancasila. Across an archipelago that contains some of God’s most beautiful creations, islands rising above an ocean named for peace, people choose to worship God as they please. Islam flourishes, but so do other faiths. Development is strengthened by an emerging democracy. Ancient traditions endure, even as a rising power is on the move.

That is not to say that Indonesia is without imperfections. No country is. But here can be found the ability to bridge divides of race and region and religion – that ability to see yourself in all individuals. As a child of a different race coming from a distant country, I found this spirit in the greeting that I received upon moving here: Selamat Datang. As a Christian visiting a mosque on this visit, I found it in the words of a leader who was asked about my visit and said, “Muslims are also allowed in churches. We are all God’s followers.”

That spark of the divine lies within each of us. We cannot give in to doubt or cynicism or despair. The stories of Indonesia and America tell us that history is on the side of human progress; that unity is more powerful than division; and that the people of this world can live together in peace. May our two nations work together, with faith and determination, to share these truths with all mankind.


Jakarta, Indonesia

November 10, 2010

inilah tema pidato OBAMA dimana mana

Pihak Gedung Putih, Amerika Serikat, menyampaikan tema pidato Presiden AS saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat.

Tema pidato tersebut mengenai demokrasi, pembangunan, pluralisme, dan agama. Pidato ini disebut-sebut sebagai pidato besar yang pengaruhnya setara dengan pidato Obama ketika di Kairo, Mesir, pada Juni 2009 lalu.

Kami dapatkan informasi mengenai tema pidato ini dari Deputy National Security Advisor, Ben Rhodes.
"Beliau mengatakan bahwa isi pidato ini setara dengan pidato Obama di Mesir yang berjudul 'A New Beginning'," kata Kepala Kantor Komunikasi Vishnu Juwono, Selasa (9/11/2010) di Depok, Jawa Barat.
Karena ini pidato besar, kata Vishnu, kemungkinan kecil ada sesi tanya jawab di acara tersebut. Vishnu tidak menjelaskan apakah pidato tersebut disampaikan dengan teks atau tidak.

Adapun alasan pemilihan tema ini, katanya, atas pertimbangan bahwa Indonesia dipandang sebagai negara yang patut menjadi teladan dalam hal demokrasi. Indonesia juga merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Pidato tersebut juga menjadi sarana Obama yang ingin mendekatkan hubungan antara Amerika Serikat dan dunia Islam. kompas.com

Hati-hatilah Terhadap Racun Obama!

Hizbut Tahrir Indoensia (HTI) mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati menghadapi racun Presiden AS Barrack Obama menyusul rencana kunjungannya ke Indonesia pada 9-10 November 2010 mendatang. HTI menilai bahwa racun Obama sangat nyata dan terasa di negeri ini.

"Telah tampak jelas bahwa kunjungan Obama tak lain demi mengimplementasikan rencana beracunnya itu, melemahkan dan mematikan Anda," ucap anggota DPP HTI, Rochmat S Labib di kantor HTI, di Jakarta, Jumat (5/11/2010).

Dikatakan, Amerika adalah aktor di balik masalah terorisme buatan yang menjamur di Indonesia. Amerika juga berupaya mengubah kurikulum di pesantren-pesantren yang memiliki manajemen mandiri, khususnya setelah munculnya masalah teroris.

Selain itu, Amerika, melalui dinas intelejennya, mengikat kerjasama dengan dinas intelejen Indonesia. Bahkan, Amerika ternyata telah mendorong gerakan separatis di Papua untuk melanggengkan hegemoninya atas tambang emas yang merupakan tambang emas terbesar di dunia.

"Sosok Presiden seperti itulah yang rencananya akan berkunjung ke Indonesia. Sebuah sosok yang kejam, yang tidak beda dengan Bush," imbuhnya. tribunnews.com 

Obama Go Home!

Presiden AS Barack Obama tiba di Indonesia (9/11) disambut ratusan pengunjuk rasa yang berkumpul mengutuk kunjungannya. Warga berkumpul di luar kedutaan besar AS di ibukota Indonesia, Jakarta selama empat hari berturut-turut dalam rangka menentang kunjungan Obama.

Para pengunjuk rasa membakar bendera AS dan menyeru kepada pemerintah Indonesia untuk menegakkan martabat negara dan berhenti tunduk pada kebijakan luar negeri pemerintah AS. "Pemerintah Indonesia tampaknya sudah mati karena selalu menunduk di hadapan kebijakan-kebijakan AS," kata salah satu demonstran kepada kantor berita Cina, Xinhua (9/11).

Para demonstran juga menyeru pemerintah untuk menolak Presiden AS yang disebut sebagai seorang "kolonialis baru," seraya menekankan bahwa mereka percaya rencana Obama untuk meningkatkan perdagangan dan investasi bilateral akan merugikan Indonesia.
Obama, dalam tur Asianya selama 10 hari, meninggalkan New Delhi, India, menuju Jakarta.
Presiden AS juga menghadapi protes serupa di India, ketika ia mengumumkan bahwa transaksi perdagangan bilateral senilai 10 miliar dolar untuk meningkatkan perekonomian AS yang lesu dan menciptakan lebih dari 50.000 lapangan pekerjaan bagi warga Amerika.
Obama dikritik keras karena kunjungannya ke India yang telah menelan biaya 200 juta dolar perharinya di tengah kesulitan ekonomi negaranya saat ini.
Keputusan Obama untuk tinggal selama tiga hari di India juga dikecam banyak pihak.indonesian.irib.ir

Di Balik Kunjungan Presiden Obama ke Indonesia

Sebagai sebuah kawasan yang dengan penduduk sekitar 525 juta dan Gross National Product (GNP) yang mencapai hingga 700 milyar dolar, letak geografis yang strategis, serta kekayaan sumber-sumber alam yang dimilikinya, Asia Tenggara sering mendapat perhatian yang kurang intensif dalam politik luar negeri AS.
Padahal dengan jumlah penduduk yang sangat besar, secara otomatis kawasan ini menjadi pasar yang luas bagi produk-produk AS, termasuk industri jasa dan investasi lainnya.

Selama masa perang dingin, kawasan Asia Timur sepertinya lebih menyita perhatian pemerintah AS dengan isu perlombaan senjata nuklir-nya.akan tetapi perkembangan saat ini memperlihatkan bagaimana Cina tiba-tiba muncul sebagai sebuah kekuatan ekonomi dan politik yang berpengaruh khususnya di Asia Pasifik. Bahkan secara ekonomi Cina mampu menguasai pasar Asia Tenggara. Fenomena kekuatan Cina ini kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong AS untuk kembali meningkatkan perannya di Asia Tenggara.

Apa saja kepentingan AS di kawasan Asia Tenggara serta sejauh apakah signifikansi kepentingan tersebut akan diuraikan secara rinci dalam pembahasan dibawah ini.
 
A. Kepentingan ekonomi Amerika Serikat di Asia Tenggara
Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat diuntungkan oleh letaknya yang strategis. Posisi Asia Tenggara tepat di persimpangan antara konsentrasi industri, teknologi dan kekuatan militer di Asia Timur laut ke utara, sub-kontinental dan sumber-sumber minyak di Timur Tengah ke Timur, dan Australia ke selatan.
Secara ekonomi Asia Tenggara merupakan bagian perdagangan dengan volume yang tinggi dari negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Australia, termasuk impor minyak, transit Sea-lanes of Communications (SLOCs) negara-negara tersebut di Asia Tenggara. Sedangkan dalam perspektif militer, jalur laut Asia Tenggara sangat penting untuk pergerakan Angkatan Bersenjata AS dari Pasifik Barat ke Samudra Hindia dan Teluk Persia.
Dengan jumlah penduduk yang sangat besar secara otomatis Asia Tenggara merupakan pasar yang luas tidak hanya untuk produk tetapi juga bagi industri jasa AS. Asia Tenggara adalah patner ekspor sekaligus patner impor AS. Selain itu, Asia Tenggara juga merupakan kawasan tujuan bagi investasi tidak juga untuk ketidakstabilan kawasan ini akan menciptakan konsekuensi yang sangat besar terhadap Asia Timur secara menyeluruh dan pada akhirnya dapat mengancam kepentingan vital AS.
 
1. Patner Ekspor Impor
Asia Tenggara merupakan patner perdangangan lima terbesar bagi AS. Meskipun Asia Tenggara mengalami stagnansi ekonomi sejak 1997-1998, AS melihat Asia Tenggara masih dapat terus bertahan dan menyelesaikan krisis tersebut.
Sehingga Asia Tenggara diyakini sebagai kawasan yang memiliki prospek jangka panjang bagi kepentingan ekonomi AS ke depan.
Sekitar tahun 1993-1997, Asia Tenggara merupakan tujuan ekspor AS yang cukup penting setelah Cina dan Jepang di kawasan Pasifik.
Namun ekspor AS ke Asia Tenggara turun sekitar 20% pada saat kawasan ini mengalami krisis finansial, akan tetapi perdagangan kembali diperhitungkan ketika Asia Tenggara mulai bangkit dari krisis.Asia Tenggara juga sebagai kawasan tujuan investasi langsung AS, bahkan melebihi Jepang dan Brazil pada tahun 1997.
Perkembangan kawasan Asia Tenggara mengalami krisis ekonomi sejak 1998 sangat mempengaruhi kemampuan impor dari AS. Bahkan pada pertengahan 2002, ekspor AS ke ASEAN turun sebanyak 7% dibandingkan satu tahun sebelumnya. Diantara negara-negara ASEAN, hanya Laos, Malaysia dan Vietnam yang menigkatkan pembelian produk AS di tahun 2002. Sementara Malaysia memperlihatkan peningkatan ekspor dari AS sebesar 12% , negara-negara ASEAN lainnya justru mengalami kemunduran. Singapura berkurang -7%, Indonesia -9%, Filipina -11% dan Thailand turun -29% dibanding satu tahun sebelumnya.
Kegiatan ekspor-impor AS dengan negara-negara ASEAN memang mengalami penurunan volumenya antara 1997-1999 akibat krisis yang dialami kawasan ini. Namun perlahan menunjukkan peningkatan antara 2000-2001. Akan tetapi peristiwa 11 September 2001 kembali mengganggu stabilitas roda perekonomian dunia, sehingga kerjasama perdagangan kembali mengalami penurunan di tahun 2002.
 
2. Pasar produk dan industri jasa
Jumlah penduduk Asia Tenggara yang sifgifikan merupakan salah satu faktor yang mendukung kawasan ini potensial untuk penasaran produk-produk indutri AS, termasuk Industri jasa AS.
Tingkat pertumbuhan perekonomian Asia Tenggara secara umum masih rendah, sehingga kemampuan dalam membangun industri tergolong lemah. Hal ini sangat menguntungkan negara industri seperti AS untuk masuk pasar Asia Tenggara. Dimulainya pasar bebas juga memberikan kemudahan bagi AS dalam hal ini.
Setelah Jepang, perusahaan-perusahaan AS termasuk urutan kedua terbesar yang berinvestasi di Asia Tenggara. Sebagian besar kekayaan AS bergantung pada perusahaan-perusahaan multinasional yang juga memiliki kepentingan signifikan di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan AS menyebar luas di Kawasan ini, meliputi industri manufaktur (Ford, General Motors, Honeywell, Intel, dan sebagainya) , departement strores (K-mart, JC Penney, Federal Dept.Strores), industri energi (Exxon Mobil, Unocal, Freeport, Newmont Minning, Eron, dll), industri jasa (UPS, FedEx, American International Groups, Citigroup, grup hotel, dll), dan lain sebagainya. Asia Tenggara juga merupakan supplier utama elektronik dan semikonduktor chip untuk perusahaan-perusahaan telekomunikasi AS seperti Motorola.
 
3. Investasi Asing
Asia Tenggara juga merupakan tempat utama investasi luar negeri AS. Hal ini dapat diukur dari nilai investasi AS ke negara-negara ASEAN yang sangat besar dibandingkan dengan negara-negara investor lainnya.
Beragamnya sektor investasi di ASEAN yang tersedia meningkatkan signifikansi ekonomis kawasan ini bagi AS.
Kerjasama-kerjasama ekonomi dengan AS terus mengalami peningkatan. Meskipun dalam perkembangannya investasi asing di kawasan ini secara umum agak tertinggal dibandingkan dengan kawasan Asia Timur. Akan tetapi dalam beberapa sektor, baik secara ekonomi, politik dan strategis Asia Tenggara tetap penting. Asia Tenggara merupakan pasar yang potensial bagi produk dan industri jasa, dan sebagai kawasan utama dari sumber-sumber daya alam yang penting, termasuk minyak dan gas alam.
Salah satu sektor investasi penting lainnya di Asia Tenggara adalah sumber daya alam. Negara-negara ASEAN secara kolektif merupakan kawasan dengan sumber energi, dan kekayaan alam dunia yang besar, seperti timah, tembaga, emas, dan sumber-sumber yang dapat diperbaharaui seperti karet, kopi, serta kayu-kayuan. Hasil bumi seperti minyak dan gas juga terhitung dalam jumlah yang tidak sedikit. Di Indonesia misalnya, investasi AS tidak kurang dari 20 Milyar dolar untuk tambang emas di Papua. Sedangkan industri minyak di Aceh yaitu Exxon dan Mobil.
Bagaimanapun negara-negara Asia Tenggara menggantungkan pertumbuhan ekonomi salah satunya pada investasi asing. Sehingga kesejahteraan ekonomi, sosial, peningkatan pendidikan serta program pengurangan kemiskinan, juga tergantung pada investasi asing. Krisis finansial yang dialami pada dekade sebelumnya menyebabkan stimulasi perpindahan dalam produksi dari tekstil, industri makanan, manjadi obat-obatan, mesin-mesin perlengkapan, dan elektronik. Pada tahun 1999 ke 2000 terjadi penurunan yang cukup kentara, dimana krisis finansial dan situasi keamanan yang tidak kondusif di Asia Tenggara menyebabkan investor AS beralih ke Cina.
Adanya proyek perencanaan pembangunan jaringan pipa untuk saluran gas alam yang akan melintasi negara-negara Asia Tenggara menambah pentingnya kawasan ini untuk investasi AS. Meskipun APEC belum memberikan respon terhadap proposal AS untuk jaringan pipa tersebut, saluran-saluran baru telah direncanakan untuk dibangun diantara negara-negara ASEAN. Contohnya pipa saluran air Indonesia dari pulau Natuna ke Sumatera, pipa saluran Singapura dan Malaysia, dan pipa yang menghubungkan Burma dan Thailand. Kebutuhan gas yang terus meningkat memberikan kecenderungan perkembangan pipa saluran ini akan terus berkembang, bahkan mungkin sampai ke kawasan Cina Selatan.
 
 B. Jalur laut (Sea-lanes) Asia Tenggara yang strategis
Posisi Asia Tenggara terbentang di persimpangan dua jalur laut terbesar di dunia. Yang pertama adalah jalur Timur-Barat, yaitu jalur yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. Kedua adalah jalur Utara-Selatan, yang menghubungkan kawasan Asia Timur dengan Australia dan New Zealand serta pulau disekitarnya.
Tiga “pintu masuk” kawasan Asia Tenggara: Selat Melaka, Selat Sunda dan Selat Lombok merupakan titik penting dalam sistem perdagangan dunia. Menjadi sama pentingnya karena perselisihan politis dan ekonomis mengenai jalur laut yang melintasi kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Selat Malaka sendiri merupakan selat yang menghubungkan samudera Hindia dengan samudera Pasifik, sekaligus seabgai jalur terpendek yang terletak diantara India, Cina dan Indonesia, Oleh karenanya selat ini dianggap sebagai “chokepoints” Asia.
Secara garis besar ada dua kepentingan AS di Asia Tenggara berkaitan dengan letaknya yang strategis:
• Asia Tenggara membuka garis laut, karena sebagian besar perdagangan dunia melewati selat Malaka.
• Asia Tenggara penting sebagai pos untuk pergerakan kehadiran militer AS di Pasifik Barat dan Samudera Hindia.
Asia Tenggara secara geopolitik sanagt krusial tidak hanya untuk kepentingan nasional AS, tetapi juga secara global. Jalur laut yang melintasi kawasan Asia Tenggara mempunyai fungsi yang vital bagi ekonomi Jepang dan Republik Korea, Cina dan termasuk juga AS sendiri.
Selat Malaka, yang melintasi Singapura, Indonesia dan Malaysia merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lebih dari 50.000 kapal per tahunnya transit di selat Malaka, padahal lebar selat ini hanya 1,5 mil dengan kedalaman 19,8 meter. Atase komunikasi Indonesia Yuri Gunadi memperkirakan setiap hari sekitar 10000 kapal masuk ke Singapura yang melintasi selat Malaka, diantaranya 4000 kapal dagang dari Indonesia.
Kapal-kapal yang melintasi selat Malaka ini merupakan 1/3 bagian dari perdagangan dunia. Berdasarkan catatan Energy Information Administration (EIA), minyak bumi yang dibawa kapal-kapal tanker via selat malaka (2003E) adalah 11 juta barel per hari.
Letak Asia Tenggara yang sangat strategis berdasarkan jalur ini, tentu saja menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan yang sangat penting baik ekonomi maupun keamanan. Oleh karena itu, AS memiliki kepentingan-kepentingan untuk akses bebas dan terbuka di jalur di Asia Tenggara, baik untuk kepentingan ekonomi (proseprity) maupun militier (national security)
 
C. Kepentingan Politik
Jumlah penduduk yang besar, kondisi sosial budaya yang beragam, sistem pemerintahan yang cenderung lemah, serta krisis ekonomi yang masih belum pulih, adalah gambaran kondisi aktual yang dialami sebagian besar negara Asia Tenggara, secara tidak langsung mempengaruhi kepentingan-kepentingan AS.
Terdapat beberapa kepentingan AS secara politis di kawasan ini. Terutama terhadap Indonesia, sebagai negara keempat terbesar di dunia, dengan kumunitas muslim yang terbesar di seluruh dunia, negara eksportir minyak dan gas terbesar di kawasannya, serta satu-satunya negara Asia Tenggara yang menjadi anggota Organiziation of Petroleum Exploring Countries (OPEC) dan merupakan titik tumpu ASEAN.
Sebagai negara eksportir minyak dan gas terbesar di Asia Tenggara, AS harus memiliki hubungan yang baik dan stabil dengan Indonesia. Bagaimanapun juga kebutuhan energi AS yang sangat besar dan Indonesia salah satu sumber pemenuhan kebutuhan tersebut. Sementara sebagai satu-satunya anggota OPEC di Asia Tenggara, Indonesia tentu saja memilki peran dalam mengontrol hargaminyak. Setidaknya ikut serta dalam pembuatan kebijakan yang berkenaan dengan minyak. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi AS untuk tidak memperhitungkan Indonesia dalam hal ini.
Selanjutnya dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia menjadi pemain kunci dalam keterikatan AS terhadap dunia Islam. Ketika AS memiliki kepentingan untuk meyakinkan dunia bahwa ”war against terrorism” bukan sebuah perlawanan terhadap Islam, maka dukungan negara yang mayoritas berpenduduk muslim moderat seperti Indonesia menjadi sangat penting.
 
D. Peran Asia Tenggara dalam strategi Amerika Serikat terhadap China
Kebangkitan pengaruh Cina (China) di Asia Tenggara terus menguat baik secara ekonomi, politik, maupun militer. Setelah perang dingin berakhir,kekuatan serta pengaruh AS terus berkurang dan sebaliknya Cina justru semakin memperlihatkan pengaruhnya di Asia Tenggara.
Cina memberikan tantangan yang signifikan secara ekonomi, militer dan politik tidak hanya bagi Asia Tenggara, tetapi secara tidak langsung merupakan ancaman bagi AS. Yang terdekat adalah tantangan ekonomi yang dihadapi ASEAN, dimana tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi Cina membuat Cina terdorong utnuk melakukan investasi di negara-negara berkembang seperti kawasan ASEAN. Hal ini tentu saja menjadi persaingan, dimana AS juga merupakan patner penting perdagangan dan investasi ASEAN.
Kebangkitan Cina sebagai sebuah kekuatan regional selama 10hingga 15 tahun kedepan tentu saja dapat meningkatkan intensitas kompetisi Cina – AS termasuk meningkatkan potensi konflik bersenjata. Masa depan keamanan kawasan Asia Tenggara akan terbentuk oleh beberapa faktor politik danekonomi yang saling mempengaruhi.
Fator-faktor utamanya antara lain: evolusi ekonomi Asia Tenggara, pembangunan ekonomi dan politik Cina dan interaksinya dengan Asia Tenggara, perlawanan dan mempertahankan keutuhan negara, masalah integrasi regional dan kerjasama, aktor-aktor eksternal, terutama AS, Jepang, dan Australia untuk mempengaruhi kawasan.
Tantangan lebih besar yang datang dari Cina adalah munculnya Cina sebagai aktor politik-militer. Cina terus memoderenisasi militernya dan merubah fokusnya ke kawasan Selatan, dimana secara khusus Cina sangat meningkatkan kekuatan Angkatan Lautnya, yang pada akhirnya dalam rangka fokus di Laut Cina Selatan: wilayah yang di klaim Cina sebagai teritorinya.
Bagi AS diplomasi ekonomi-politik Cina telah meningkat menjadi sangat tidak terlihat dan cerdik. Disaat Cina mempertahankan klaimnya atas pulau Spartly dan paracel yang melingkar di Laut Cina Selatan, dan menolak panggilan untuk pembicaraan multilateral mengenai konflik Spartly, Cina justru melakukan negosiasi satu per satu ke masing-masing negara yang terlibat konflik tersebut.
Adanya persaingan eksistensi antara AS dan Cina di kawasan ini, secara tidak langsung membawa Asia Tenggara kedalam politik strategi AS dalam menghadapi Cina. Ada dua ancaman militer Cina terhadap Asia Tenggara yang secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi AS dalam strateginya terhadap Cina. Dua ancaman militer konvensional dari Cina membutuhkan respon AS tersebut adalah:
Pertama, hegemoni Cina yang agresif di Asia Tenggara mengancam kebebasan pelayaran di Laut Cina Selatan, sehingga membuat AS, Jepang, bahkan negara-negara Asia Tenggara masuk dalam politik Cina tersebut. Dengan demikian AS dapat memanfaatkan kondisi tersebut dengan akan menacari dukungan dari negara-negara ASEAN untuk menjada keamanan jalur laut atau justru sebaliknya, ada kemungkinan negara-negara ASEAN sendiri yang akan meminta bantuan Angkatan Laut AS. Jika demikian maka AS dapat membawa serta Angkatan Udaranya dengan dalih untuk melindungi pasukan AL-nya, serta mengamankan fasilitas teritori ASEAN dari serangan militer Cina.
Situasi kedua adalah adalah Cina dapat saja mencoba membangun dan mempertahankan kontrol fisik atas hampir keseluruhan kepulauan Spartly, yang di klaim sebagai wilayahnya. Ketidakpastian di perairan Laut Cina Selatan ini tentu saja menciptakan ketegangan keamanan. Dalam kondisi tertekan seperti ini akan mendorong negara-negara ASEAN untuk mencari dukungan dari kekuatan yang dapat mengimbangi Cina. Sehingga sangat mungkin bagi ASEAN untuk meminta kehadiran militer AS yang lebih tampak dan substansial.
Pada akhirnya, kepentingan-kepentingan AS di Asia Tenggara akan terus meningkat. Mulai dari kepentingan ekonomi: Asia Tenggara sebagai patner ekspor dan impor, pasar produk dan industri jasa, dan investasi. AS juga tidak punya pilihan lain bahwa jalur Asia Tenggara akan menjadi prioritas utama untuk kelancaran perekonomiannya dan juga merupakan kawasan kunci dalam pergerakan militer AS.
Secara politis Asia Tenggara akan memberikan pengaruh yang besar dalam negara-negara kawasan ini terhadap kampanye AS tersebut akan memiliki arti yang sangat penting bagi AS. Pada akhirnya ada keharusan bagi AS untuk menghadirkan militernya di kawasan ini dalam konteks pengamanan terhadap kepentingan tersebut. rimanews.com

Pidato obama di UI akan disambut demo

Presiden Amerika Barack Obama direncanakan hari ini akan menyampaikan pidato di kampus UI, Depok. Namun aksi demo dari 7 elemen mahasiswa juga siap menyambut kedatangan Obama.

"Kampus UI dan Istana Negara kali ini menjadi sasaran utama para pendemo," demikian informasi yang disampaikan situs Traffic Management Centre (TMC) Polda Metro Jaya, Rabu (10/11/2010).

Para demonstran akan melakukan aksinya di kampus UI sejak pukul 09.00 WIB. Sedangkan aksi di depan Istana Negara akan digelar sejak pukul 10.00 WIB.

Kedutaan Besar Amerika di Jl Merdeka Selatan, Jakarta, juga akan menjadi sasaran demonstrasi. Masa akan memulai aksinya pada pukul 10.00 WIB.

Massa aksi juga akan berdemo di depan kantor Balaikota serta di bekas Kantor PDI di Jl Diponegoro, Jakarta Pusat. Selain itu kantor KPK di Jl H.R Rasuna Said, dan kantor Kementrian ESDM di Jl Merdeka Selatan tak luput dari sasaran pendemo.

Selepas pukul 12.00 WIB demonstrasi juga akan digelar di beberapa lokasi antara lain di Kantor Kementrian BUMN, Kantor Ditjen Migas, Kantor PT Freeport (plaza 89), Kantor Kemenhut dan Bundaran Hotel Indonesia. detiknews.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More