cari cari ...

Showing posts with label internasional. Show all posts
Showing posts with label internasional. Show all posts

Wednesday, November 16, 2011

Hanya Fokus Ekstremis Islam, Jerman Dikejutkan Sel Rasis Neo-Nazi Pembunuh Imigran

Hanya Fokus Ekstremis Islam, Jerman Dikejutkan Sel Rasis Neo-Nazi Pembunuh Imigran Jerman dikejutkan dalam beberpa hari terakhir dengan keberadaan sel teror ultra-kanan yang seolah-olah muncul dari tengah kabut. Sejumlah pengamat di media menyatakan otoritas terlalu lama sibuk dengan ancaman kekerasan kelompok kiri dan terorisme Islam sebagai satu-satunya sumber bahaya. Kondisi itu membuat mereka rentan dipermainkan oleh serangan ultra kanan.

Kegagalan otoritas keamanan Jerman untuk mengusut sejumlah pembunuhan rasis yang dilakukan oleh grup neo-Nazi sejak 2000 memunculkan tuduhan bahwa mereka selama ini meremehkan ancaman ultra kanan karena menganggap ekstremisme Islam dan sayap kiri lebih berbahaya.

Kanselor Jerman, Angela Merkel, Senin (14/11) mengatakan kasus itu 'sungguh memalukan Jerman'. Ia pun bukan satu-satunya yang memiliki pandangan itu. Beberapa pengamat, anggota parlemen dan pejabat pemerintah telah menuntut dan mendesak dilakukan investigasi segera bagaimana tiga neo-Nazi Uwe Böhnhardt, Uwe Mundlos dan Beate Zschäpe dari kawasan timur Jerman, yang kemungkinan dibantu dana luar, bisa tak terdeteksi dalam waktu lama.

Para komentator media di Jerman mengatakan kasus itu adalah biang utama pencoreng wajah dan pembuat malu kepolisian, badan intelijen Jerman dan kejaksaan. Serangan rasis terhadap imigran dan properti mereka di tempat-tempat yang dulu bekas kawasan komunis di bagian timur, sejak era Jerman bersatu, mencuat setelah kesenjangan ekonomi dan dislokasi sosial. Kejadian itu kerap diabaikan dan dianggap insiden dilakukan oleh sejumlah preman.

Salah satu insiden terkenal adalah pembunuhan berantai terhadap sembilan orang Turki pada 2000 hingga 2006. Kasus tersebut begitu fenomenal hingga disebut sebagai 'Donner Killing' (mengacu pada istilah Donner sebagai merek dagang makanan khas Turki)

Namun kini, bukti yang terungkap menunjukkan bahwa insiden itu dilakukan dengan rapi, terorganisir oleh jaringan pembunuh, pengebom dan perampok bank dengan persenjataan canggih, yang selama ini menjadi bahan olok-olok bila dikaitkan upaya meminimalkan kekerasan ultra-kanan. Salah satu bukti ditemukan adalah sejata yang digunakan untuk menembak beberapa korban serta sebuah pistol yang mereka gunakan untuk menembak mati seorang polwan Jerman.

Dua dari tiga trio, Böhnhardt dan Mundlos bunuh diri menembak kepala mereka saat dikepung polisi ketika berada dalam mobil. Mereka mencoba melarikan diri seusai merampok bank dan telah menjadi buron selama 14 tahun serta tidak terdeteksi di Jerman.

Berikut sejumlah komentar editorial media terkemuka di Jerman

Süddeutsche Zeitung berhalauan Kiri Tengah:

"Sungguh sangat dan luarbiasa mengganggu: selama bertahun-tahun, sebuah geng rasis teroris mampu melakukan kekejian di Jerman dan membunuh para imigran. Mereka dapat tenang merencanakan serangan, merakit dan melempar bom. Mereka mampu melakukan itu semua karena polisi, dan otoritas intelijen serta kejaksaan secara umum menafikkan motif rasis. Otoritas bilang kejahatan bukan karen aksi terorisme, mereka mengisolasi kasus dan tak mengaitkan satu sama lain serta membantah ada motif politik.

"Kejahatan Xenofobia (kebencian terhadap orang asing) sudah kerap dan terlalu lama diremehkan--mereka digambarkan sebagai kecelakaan murni dan perkelahian. Mungkin itu menjadi kesimpulan menyedihkan saat mencoba menjawab pertanyaan bagaimana mungkin terorisme Nazi bisa tak terdeteksi--dan mungkin tidak akan terdeteksi jika pelaku kejahatannya tidak membunuh dirinya sendiri."

"Apakah ini adalah bentuk imajinasi era Faksi Tentara Merah (mengacu pada grup teror ekstremis kiri yang mengobarkan semangat pembunuhan, pengeboman dan penculikan pada 1970-an dan 1980-an). Pada hari-hari itu, terdapat banyak poster digantung di setiap kantor pos. Kira-kira mungkinkah perakit bom Muslim bisa tinggal di Jerman tak terdeteksi selama seperti terorisme neo-Nazi? Ada perbedaan kebijakan yang aneh. Ini bisa jadi mengungkap skandal melibatkan otoritas intelijen dalam negeri--tak ada profesionalisme dalam tingkat mengerikan terkait sikap 'baiklah' yang kerap berkata "Ekstremis ultra-kanan bukanlah teroris, benarkah?"

"Selama berdekade, ekstremis ultra-kiri di Jerman dilihat sebagai berbahaya sekaligus cerdas, ultra-kanan dilihat sebagai sekumpulan orang bodoh karena itu tak berbahaya. Neo-Nazi kerap hingga kini diabaikan dan dianggap idiot dan ketika mereka membakar rumah orang asing, menendang orang hingga tewas, mereka dipandang sebagai pelaku kejahatan individu. Namun kejahatan terorisme tetaplah kejahatan terorisme meski tak ada klaim siapa yang bertanggung jawab dikirim ke kantor polisi keesokan hari.

"Namun pemerintah pertama-tama harus berhenti menganggap ekstremis kiri dan terorisme Islam lebih berbahaya dari ekstremis ultra-kanan. Bila itu terus dilakukan, maka negara sungguh dalam status bodoh yang tidak bertanggung jawab."

Conservative Frankfurter Allgemeine Zeitung menulis:

"Sejumlah pertanyaan penting harus disampaikan kepada badan intelijen dalam negeri, polisi dan kejaksaan yang bertugasi di Thuringia, Saxony dan manapun, di mana jaringan tersembunyi kelompok neo-Nazi dan Kameradschaften (grup ultra-kanan) tak lebih penting dari memecahkan kejahatan?

Apakah para negara bagian--dan ada satu negara di mana trio rasis tak meninggalkan jejak satu pun lebih dari 10 tahun--memiliki sistem efektif dalam pertukaran informasi? Apakah itu bukankah kesahalan fatal untuk menanggap kekerasan ekstremis ultra-kanan sebagai murni kejahatan lokal, yang ironisnya menjadi fenomena regional, propinsional, bentuk penangkisan idiot terhadap antisipasi berlebihan terhadap teror Islami?"

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Der Spiegel
http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/11/15/luo7fe-hanya-fokus-ekstremis-islam-jerman-dikejutkan-sel-rasis-neonazi-pembunuh-imigran Hanya Fokus Ekstremis Islam, Jerman Dikejutkan Sel Rasis Neo-Nazi Pembunuh Imigran

Monday, October 31, 2011

AS Diduga Punya Hubungan dengan Kelompok Teroris

AS Diduga Punya Hubungan dengan Kelompok Teroris. Seorang pemimpin partai keagamaan terkemuka Pakistan pada Ahad (30/10) mengatakan bahwa Amerka Serikat (AS) diduga memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok teroris dan mendukung mereka untuk mengacaukan dunia muslim.

Berbicara dengan IRNA, Dr Fareed Ahmad Piracha dari Jamaat-e-Islami mengatakan, bahwa AS pasti memiliki hubungan dengan Taliban Pakistan dan menggunakan mereka untuk mengacaukan negara itu.

Piracha mengatakan, mungkin tidak akan ada hubungan langsung, tetapi beberapa individu dari Taliban mengejar agenda Amerika.

Menjelaskan pandangannya tentang Jundullah, Piracha mengatakan, kelompok itu menciptakan kesalahpahaman antara Iran dan Pakistan sehingga bisa ada kemungkinan AS berada di balik Jundullah.

Aktivis agama itu berpendapat, AS membuat upaya-upaya itu habis-hanisan untuk mendestabilisasikan Iran.

Tujuan dasar AS, menurut Piracha, adalah untuk mengacaukan Dunia Muslim dan dalam mencapai agenda mereka, mereka dapat melakukannya dengan kelompok ekstrem. "Ya jelas mereka mempromosikan terorisme," kata aktivis keagamaan itu dalam menjawab pertanyaan.

Piracha juga mendesak semua negara Muslim untuk menghindari perbedaan mereka dan bersatu untuk stabilitas umat. "Kita harus tetap waspada terhadap plot barat," kata Piracha menyarankan.

Piracha memperingatkan, AS berada di balik setiap plot terhadap umat Islam. http://www.gatra.com 31 Oktober 2011 AS Diduga Punya Hubungan dengan Kelompok Teroris

Sunday, October 30, 2011

Kebijakan Jerman Tentang Kurikulum Islam Menggelisahkan Rakyat

Kebijakan Jerman Tentang Kurikulum Islam Menggelisahkan Rakyat Masyarakat Jerman mengkritik kebijakan pemerintah Jerman terkait masuknya pelajaran agama Islam dalam kurikulum sekolah. Menurut mereka, kebijakan ini mempunyai efek dalam menyebarkan kebencian terhadap agama lain. Menanggapi kritik itu, Menteri Pendidikan Jerman mengatakan tidak ada satupun ajaran Islam yang menganjurkan kekerasan pada umat agama lain, katanya seperti dikutip dari rt.com.

Kritik itu bermula ketika ada oknum guru yang mengajarkan kebencian kepada siswanya. Guru itu mengatakan, “Orang Kristen gemar ke disko, minum alkohol dan berbuat zinah. Percayalah pada Alquran,” demikian katanya seperti yang diklaim oleh masyarakat Jerman. Mereka kuatir pemuda Muslim berusaha untuk memberlakukan hukum syariat di Jerman, menurut Kepala Dewan Islam Jerman, Burhan Kesici.

Salah seorang tokoh Gerakan Pax Europa Citizens, Karl Schmidt, mengatakan bahwa guru tersebut mengajarkan kepada muridnya bahwa mereka adalah umat unggul. Ia mengajarkan pula bahwa hukum syariah lebih tinggi daripada hukum Jerman.

Menanggapi hal ini, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan agar Muslim di negaranya mentaati undang-undang dan bukan hukum syariah. “Sekarang dengan jelas bahwa di Jerman juga ada kaum Muslim. Tetapi yang terpenting adalah untuk memberikan perhatian kepada Islam bahwa nilai yang diajarkan Islam terwakili di dalam UU Jerman,” ujar Merkel. Merkel juga mengatakan bahwa Jerman saat ini membutuhkan imam dengan pendidikan Jerman dan memiliki akar sosial Jerman.

Bagaimanapun juga, harus ada keseimbangan antara hukum tradisi atau agama atau hukum di luar negara dengan hukum negara. Selain itu, dimanapun ada keragaman agama di suatu negara, harus ada toleransi yang besar sesama umat agar tidak terjadi bentrokan. Dasar-dasar itu semua harus dimulai dari pendidikan, karena di situlah suatu ajaran ditanamkan.

Sumber : republika/lh3 Kebijakan Jerman Tentang Kurikulum Islam Menggelisahkan Rakyat

Wednesday, October 26, 2011

Trend Pelarangan Burqa Merambah Eropa, Muslim Inggris ikut Cemas

Sejumlah negara di Eropa mulai melarang penggunaan burqa di muka umum. Prancis adalah negara pelopornya di Eropa. Dalam waktu dekat menyusul sejumlah negara Eropa barat lainnya, Belgia salah satunya. Bagaimana dengan Inggris?

Tokoh Muslim Inggris, Yousiff Meah, mengakui isu burqa menjadi satu hal yang paling dikhawatirkan di kalangan Muslimah Inggris. Meski isu ini belum sampai ke permukaan masyarakat.

"Mereka memperhatikan apa yang terjadi di negara Eropa lainnya. Apakah akan terjadi hal yang sama di Inggris? Mereka was-was soal ini," kata Meah dalam diskusi 'Muslim Life in UK' yang diselenggarakan Pusat Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, Rabu (26/10).

Akankah Inggris melarang burqa? Meah tidak menjawab dengan tegas. Tapi ia tetap melihat kemungkinan itu tetap terbuka karena masih ada ketakutan pada Islam di berbagai level masyarakat.

Tokoh Muslimah Inggris, Julie Siddiqie, menambahkan isu burqa harus dilihat secara kontekstual. Pasalnya, tak semua Muslimah di Inggris mengenakan burqa. Direktur Eksekutif Islamic Society of Britain cenderung menyebut burqa sebagai bagian dari budaya Arab.

Bagi masyarakat Inggris yang tak mengerti Islam, Julie menilai, penilaian negatif tentang Islam karena burqa kerap terjadi. Karena itu, ia mengajak komunitas Muslim di Inggris untuk lebih terbuka pada masyarakat mayoritas.

"Menjadi Islam itu harus bangga, percaya diri, dan berkontribusi ke masyarakat. Jangan mau Islam itu seolah-olah jadi 'korban' atas sesuatu. Jangan mau Islam justru mengisolasi diri sendiri. Berkacalah pada contoh yang kerap ditunjukan Nabi Muhammad SAW," kata Julie.

Saat ini ada sekitar dua juta Muslim di Inggris, dari total penduduk Inggris yang berjumlah 60 juta jiwa. Sementara jumlah masjid di Inggris ada sekitar 500. republika.co.id Trend Pelarangan Burqa Merambah Eropa, Muslim Inggris ikut Cemas

Libya Akan Gunakan Hukum Islam sebagai Sumber Legislasi

PARA pemimpin baru Libya menyatakan niat untuk menjadikan hukum syariat Islam sebagai sumber utama legislasi dan akan membatalkan semua hukum yang bertentangan dengan prinsip-prinsipnya, sehingga membmeri negara itu suatu ciri khas lebih Islamis dalam era pasca Muammar Khadafi.
Hukum Islam atau Syariat, dijadikan dasar konstitusi di sejumlah negara Timur Tengah yang berpenduduk mayoritas Muslim. Sebagian besar konstitusi di negara-negara Teluk menyatakan Syariat merupakan merupakan sumber utama legislasi, sementara Mesir menyatakan syariat merupakan "sumbernya."

Menggunakan Syariat sebagai dasar legislasi akan menempatkan Libya sejalan dengan negara-negara Arab seperti Mesir dan Irak yang memastikan tidak ada hukum bertentangan dengan ajaran Islam, namun tidak berarti menerapkan semua ketentuan Syariat. Undang-undang Mesir umumnya sekuler sebab Syariat tidak mengatur semua aspek kehidupan modern.

Namun Libya tidak akan menempuh jalan seperti Arab Saudi dan Iran, yang menjalankan Syariat lebih ketat -- memotong tangan pencuri, memenggal kepala pembunuh dan merajam para penzinah. Mereka yang menenggak minuman keras dicambuk di depan umum.

Peranan hukum Syariat di masyarakat Muslim bervariasi menurut penafsiran yang kerap bergantung pada landskap politik, norma-norma budaya, susunan keagamaan.

Legalisasi

Pemimpin transisi Libya Mustafa Abdul-Jalil yang berbicara dalam sebuah acara pada Minggu malam menyatakan negara itu terbebaskan dari Khadafi, mengatakan dia berniat melegalisasi poligami, yang dilarang semasa Khadafi.

Pemimpin Dewan Transisi Nasional (NTC) itu dan para pejabat inti NTC menyatakan Minggu bahwa hukum Syariat Islam akan berlaku di Libya.

Namun sikap penguasa baru negara itu diyakini tidak akan membuat senang negara-negara Barat pendukungnya.

Penegasan para pemimpin itu dikemukakan pada saat berlangsung upacara penuh suka cita yang secara resmi menandai berakhirnya 42 tahun kekuasaan Muammar Khadafi. Tapi seremoni itu diwarnai tekanan makin besar dari para pemimpin kampanye NATO yang membantu memastikan kemenangan itu agar mengusut apakah Khadafi, yang diseret-seret saat terluka namun masih hidup dari sebuah drainase pekan lalu, kemudian dieksekusi mati oleh orang-orang yang menangkapnya.

"Sebagai sebuah negara Islam, kami menggunakan syariat sebagai sumber hukum utama," tegas Abdel Jalil dalam upacara sangat meriah di kota timur Benghazi, Minggu, saat mana Libya dinyatakan sebagai sebuah negara bebas dan merdeka.

"Setiap hukum yang melanggar syariat adalah batal dan tidak berlaku secara legal," ucapnya.

Dia menyebutkan sebuah contoh hukum mengenai perkawinan yang semasa mendiang Khadafi melarang poligami, yang dibenarkan ajaran Islam. "Sebagai suatu contoh adalah hukum perceraian dan perkawinan... Hukum ini adalah bertentangan dengan syariat dan kini harus dihentikan," tandas Abdel Jalil.

Perbankan

Dia juga mengumumkan pengadopsian perbankan Islam di Libya sesuai syariat yang melarang pendapatan dari bunga, atau riba, karena hal itu dianggap sebagai suatu jenis riba. "Ada niat-niat baik untuk mengatur semua hukum perbankan. Kami menjajaki langkah untuk mendirikan bank-bank Islam yang tak menggunakan riba dan menghapuskan sebuah riba perbankan pada masa mendatang sesuai ajaran Islam," ujarnya.

"Riba menciptakan penyakit dan kebencian di antara rakyat," imbuhnya.

Abdel Jalil, seorang Muslim yang taat dan mantan menteri kehakiman, memulai pidatonya dengan memuji Tuhan. "Alhamdulillah, alhamdulillah," ujarnya, sebelum melakukan sujud syukur.

Dia juga melarang peletusan tembakan perayaan seperti yang dilarang hukum Islam. "Alhamdulillah tidak berarti pelepasan tembakan. Itu dilarang oleh syariat karena perbuatan demikian bisa menyelakai orang sipil," papar Abdel Jalil.

Sebagian pejabat NTC dan pemimpin pemberontakan lainnya yang berdiri di atas pentas juga menegaskan bahwa Libya pasca Khadafi akan merupakan sebuah negara Islam.

Abdel-Jalil juga menyatakan terima kasih kepada mereka yang berjuang dan gugur dalam perang, dengan mengatakan mereka "ada di suatu tempat yang lebih baik daripada di sini, bersama Allah."

Sikap sangat kental dengan ajaran Islam tersebut diperkirakan para pengamat akan bikin gerah para negara Barat yang mendukung pemberontakan hingga tamatnya rejim dan pemimpin lama yang kematiannya kini disorot tajam para pemimpin NATO karena Khadafi terlihat dalam video yang tersiar di seluruh dunia tampak terluka tapi masih hidup ketika dia ditangkap sebelum dia tewas diduga karena tembakan. Dan penistaan juga terjadi pada jenazah Khadafi yang dipajangkan dalam ruang pendingin di sebuah pasar di Sirte. (ap/afp-bh)

www.analisadaily.com Libya Akan Gunakan Hukum Islam sebagai Sumber Legislasi

FIFA Berpeluang Tinjau Larangan Berjilbab

Wakil Presiden FIFA, Pangeran Ali Bin Al Hussein, dari Jordania berencana mengusulkan penghapusan larangan penggunaan jilbab dalam sepakbola pada rapat Komite Eksekutif FIFA pada Desember mendatang.

Larangan FIFA ini memang dianggap putra Raja Hussein ini sangat tidak menghormati tradisi umat Islam. FIFA sendiri telah melarang penggunaan jilbab bagi pebola wanita sejak tahun 2007 silam.

Dalam proposalnya, Pangeran Ali juga akan menyertakan keamanan penggunaan jilbab dalam pertandingan serta alasan kuat demi menghormati budaya negara-negara Islam.

Seperti dilansir yahoosport, guna meloloskan usulannya itu, Pangeran Ali juga mengaku telah mendapat dukungan dari Federasi Sepakbola Asia yang juga banyak menaungi negara muslim.

Sebenarnya kritikan terhadap larangan FIFA ini telah lama bermunculan terutama dari negara-negara Islam. Bahkan, kebijakan ini dituding telah menghambat hak perempuan bermain sepakbola.

Pada bulan Juni lalu, tim sepakbola Iran untuk Olimpiade 2012 membatalkan laga kualifikasi melawan Yordania karena larangan mengenakan jilbab dalam sebuah pertandingan.

vivanews.com FIFA Berpeluang Tinjau Larangan Berjilbab

Tuesday, October 25, 2011

Waspadai Konfrontasi di Afrika dan Timteng

Kamis pekan lalu, dunia internasional dihentakkan dengan berita kematian pemimpin Libya, Moammar Khadafi. Khadafi tewas di tangan bangsanya sendiri, yang tergabung dalam Front Pembebasan Rakyat Libya (NTC) yang dibantu oleh NATO. Menjadi buronan di negaranya sendiri, Khadafi pun tewas di kampung halamannya di Sirte.

Sontak dunia Barat bersorak menyambut tewasnya sang 'diktator', yang oleh mantan Presiden AS Ronald Reagan sempat dijuluki sebagai 'anjing gila' dari Afrika. Mereka, terutama AS, adalah yang paling berkepentingan, karena setelah tewasnya Khadafi, tak akan ada lagi penghalangan mereka untuk merambah negara kaya minyak itu. Sudah terbayang, apa yang akan terjadi di negara ini pasca tewasnya Khadafi.

Sangat mungkin, Libya akan bernasib tak jauh berbeda dengan Irak. Di mana, setelah pimpinan diktatornya Saddam Hussein dijatuhkan, negara itu membara bak medan laga tak bertuan. Irak, dengan Baghdadnya yang terkenal sebagai Negara Seribu Satu Malam pun hancur. Simbol sejarah di Timteng itu pun musnah sudah. Tinggalah di sana bercokol AS dengan sekutu-sekutunya. Di sisi lain, sisa-sisa kekuatan Saddam yang menjadi pemberontak masih bergerilya. Hancurlah, entah berapa generasi di sana.

Saat ini, negara-negara Timteng lainnya pun terus bergolak. Pemimpin-pemimpin mereka yang telah bercokol lama di tumpuk kekuasaan pun digoncang. Suriah, Yaman, dan yang lainnya pun menghadapi kejamnya peperangan di depan mata. Kekakuan pemerintahan di sana, kini tengah diterjang masuk gelombang keharusan demokrasi dari negara-negara Barat.

Seolah berlaku hukum, barang siapa tak sejalan dengan AS, Eropa dan sekutu-sekutunya, maka negara itu akan dikeroposi dari dalam. Bukan oleh mereka, melainkan oleh bangsanya sendiri. Cukup difasilitasi dengan dana Barat, dicekoki dengan idealisme dan ideolagi Barat, maka habislah negara negara Timteng dan Afrika diadu domba AS dan sekutunya.

Melihat gejala ini, kita di Indonesia pun harus mulai berhati-hati. Negara kita jauh lebih besar daripada negara negara Afrika dan Timteng itu. Meski kita juga bukan negara Islam, tetapi kita adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Kekayaam alam kita jauh lebih lengkap daripada negara-negara Timteng dan Afrika itu, meski kita bukanlah tambang emas hitam seperti mereka.

Adalah sebuah kepentingan yang sangat besar, jika negara-negara besar yang terus mencari sumber kekayaan alam itu mulai bergerak ke Asia. Merusak moral dan idiologi adalah cara termudah untuk titik awal penetrasi Barat ke Indonesia. Serangan militer, adu domba, dan cara lain yang digunakan di Timteng dan Afrika mungkin tak mempan di sini. Namun, kita harus tetap waspada dan bersatu menerjang berbagai kekuatan yang bisa menghancurkan negara ini. suarakarya-online.com Waspadai Konfrontasi di Afrika dan Timteng

Partai Islam Menangkan Pemilu Tunisia

Partai Islam moderat, Partai Ennahda, mengklaim memenangkan pemilihan umum Tunisia pada Senin, 24 Oktober 2011, setelah hasil penghitungan pendahuluan menunjukkan partai itu memenangkan bagian suara terbesar.

Keberhasilan Partai Ennahda diperkirakan akan memperkuat partai-partai Islam lainnya di Afrika Utara dan Timur Tengah, meskipun Ennahda bersikeras pendekatannya terhadap syariah atau hukum Islam adalah konsisten dengan tradisi progresif Tunisia, terutama mengenai hak-hak perempuan.

Pejabat Partai Ennahda memperkirakan partainya memperoleh paling sedikit 30 persen dari 217 kursi dalam konstitusi baru. Perkiraan lainnya menempatkan suara partai itu mendekati 50 persen. Hasil resmi diharapkan dirilis pada hari Selasa.

Pengamat internasional memuji pemilihan tersebut sebagai pemilihan yang bebas dan adil. Mereka menekankan partai-partai dalam pemerintahan baru harus bekerja sama dan menjaga hak-hak perempuan.

Tidak ada pengumuman resmi tentang hasil pemilu domestik pada hari Senin, tapi media Tunisia menampilkan hasil dari lembaga poling individu. Hasilnya menunjukkan Ennahda atau Partai Renaisans menjadi kekuatan politik dominan di negara itu, dengan menempati posisi pertama di hampir setiap konstituen.

Ennahda mengambil setengah dari 18 kursi yang dicadangkan bagi warga Tunisia yang tinggal di luar negeri dalam hasil awal resmi yang dirilis Senin. Dua partai kiri-tengah mengambil tujuh kursi lainnya. Distribusi kursi itu diperkirakan juga terjadi di dalam negeri.

"Ennahda telah mengambil tempat pertama pada tingkat nasional dan pada tingkat konstituen," kata Abdel Hamid Jelassi, manajer kampanye partai, pada konferensi pers di luar kantor pusatnya di tengah pendukungnya.

Dalam setengah abad sejak kemerdekaannya dari Prancis tahun 1956, Tunisia praktis menjadi negara satu partai hingga rakyat Tunisia mengusir Presiden Zine El Abidine Ben Ali pada Januari setelah sebulan pemberontakan rakyat. Sembilan bulan dilanda kerusuhan, demonstrasi, dan perdebatan politik di negara berpenduduk 10 juta itu, mendahului pemilu hari Minggu.

Anggota dewan terpilih akan memiliki peran sangat penting dalam membangun demokrasi yang baru di Tunisia. Mereka tidak hanya akan menunjuk pemerintah sementara yang baru, tapi juga menulis konstitusi yang akan menentukan bagaimana negara itu akan berjalan.

tempointeraktif.com Partai Islam Menangkan Pemilu Tunisia

Monday, March 14, 2011

Krisis Timur Tengah dan Afrika Utara Momen Kembali Pada Syariah Islam

Krisis Timur Tengah dan Afrika Utara Momen Kembali Pada Syariah Islam. Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Jakarta , Ferry Wadjid menilai krisis politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara merupakan wujud opini umum yang didasarkan kesadaran untuk melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud tidak hanya menyangkut pergantian rezim melainkan pergantian system yang menjadi pangkal persoalan. Karena itu solusi kongkrit dari penyelesaian krisis di kawasan itu adalah kembali kepada syariah Islam dan pemerintahan berbasis Islam.

Menurut dia, wacana penegakan syariah Islam dan khilafah tentu dirasa realistis meski sangat tergantung dari maneuver politik yang dilakukan negara-negara barat dibawah komando AS untuk segera menggantikan rezim sebelumnya dengan rezim yang lebih menurut kepada barat. Sebabnya, penting bagi umat Islam untuk segera bertindak guna menangkal terulangnya kembali rezim serupa di masa depan. Caranya, umat Islam harus menjalankan sosialisasi tentang syariah Islam dan Khilafah sehingga memunculkan kesadaran umat (al wa’yu al ‘ami) yang akan memengaruhi opini umum (ar ra’yu al ‘ami). “Mendirikan khilafah bukanlah mimpi melainkan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam. Jelas tertuang dalam Quran dan Hadist serta fakta sejarah terkait dengan keberadaan Daulah Al-islamiyah,” papar dia.

Dia menjelaskan perubahan macam itu pernah dilakukan Rasullah SAW ketika daulah Islam tegak di Madinah. Meskipun perubahan yang dibawa Rasulullah SAW sifatnya mendasar (asasiyah) dan menyeluruh (inqilabiyah), nyaris tak ada pertumbahan darah. Fakat itu tidak terlepas dari kesadaran masyarakat Madinah yang merindukan sistem yang baru yakni Islam dan pemimpin baru Rasulullah SAW. Di samping itu, dia melanjutkan, ahlunnushrah yaitu para pemimpin kabilah utama di Madinah –Aus dan Khazraj- juga telah memberikan dukungan dan bai’at mereka kepada sang pemimpin politik baru dengan dasar iman dan cinta

Pengamat Politik asal Belanda, Idris De Vries menuturkan situasi yang terjadi di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah merupakan hal yang lumrah terjadi, terutama pada masyarakat yang menginginkan perubahan. Menurut dia, masyarakat di kawasan itu mulai menyadari pentingnya kembali pada ajaran Islam yang diawali dengan mempertanyakan keberadaan rezim dan mewacanakan kembali Islam sebagai sistem rujukan berlangsungnya pemerintahan.

Mengkomentari ihwal kemungkinan berdirinya Kekhalifahan seperti era kejayaan Islam, De Vries menyatakan, sistem khalifah merupakan jalan yang terbaik dan telah dibuktikan dimasa lalu. Menurutnya, menuju Khalifah merupakan hal yang sulit. Namun, kesulitan itu juga dialami Nabi Muhammad SAW ketika menerapkan sistem perpolitikan yang menyatukan segala macam elemen yang masing-masing memiliki kekuasaan.

republika.co.id Krisis Timur Tengah dan Afrika Utara Momen Kembali Pada Syariah Islam

Demokrasi Bukan Budaya "Arab"

Demokrasi Bukan Budaya "Arab". Ganti rezim atau ganti sistem adalah pilihan yang selalu ditawarkan dalam setiap pergolakan politik di suatu negara.

Agaknya, tawaran yang seringkali muncul adalah pergantian rezim sekaligus pergantian sistem, namun sistem yang seringkali disodorkan oleh negara-negara Barat adalah sistem demokrasi.

Tawaran dari Amerika, Eropa, dan negara-negara Barat itu agaknya juga berlaku untuk negara-negara Timur Tengah yang saat ini bergolak, seperti Mesir, Tunisia, Libya, dan seterusnya.

Namun, pengamat politik internasional dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya A Safril Mubah SIP meragukan sistem demokrasi yang ditawarkan untuk negara-negara Arab itu.

"Masalahnya, demokrasi yang khas Barat itu tidak klop dengan budaya Arab yang terdiri dari kafilah (kesukuan), sehingga kalau ada pemilihan umum (pemilu) di Arab itu hanya semu dan pemenangnya adalah boneka," katanya dalam sebuah halaqah/seminar di Surabaya (6/3/2011).

Ia mengemukakan hal itu dalam halaqah ke-15 yang digelar rutin (bulanan) oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jatim dengan pembicara antara lain, M Sya’roni (Unisma), Ustadz Muhammad Wahiduddin (pengamat Timur Tengah yang alumnus Mesir) dan Ustadz Muh Taufiq NIQ (DPD I HTI Jatim).

Menurut dia, negara-negara di Timur Tengah menganut "monarkhi absolut" yang berbeda dengan sistem "monarkhi" di Inggris, Jepang, dan Thailand, karena raja bukan hanya simbol, melainkan juga kepala pemerintahan dengan kekuasaan absolut.

"Bahkan, Mesir yang merupakan negara republik pun menganut sistem mirip monarkhi absolut, sehingga sistem absolut itu akhirnya membuat rakyat jenuh dan berikutnya akan melahirkan revolusi," katanya.

Tentang merebaknya revolusi secara beruntun di Mesir, Tunisia, Libya, dan negara-negara Arab lainnya, ia menyatakan hal itu merupakan konsekuensi dari globalisasi melalui "facebook" (FB), "twitter", dan sejenisnya.

"Masalahnya, revolusi itu akan menjadi benturan kepentingan antara kepentingan Barat melalui demokrasi dan budaya negara Arab sendiri yang tidak familier dengan demokrasi," katanya.

Bahkan demokrasi di Indonesia juga masih mencari bentuk yang pas, karena demokrasi itu bertentangan dengan Pancasila yang mengutamakan "musyawarah untuk mufakat", bukan sistem pemilihan langsung seperti ditawarkan dalam sistem demokrasi.

"Tidak hanya itu, sistem demokrasi juga menawarkan sistem ekonomi yang bersifat kapitalisme, padahal kapitalisme itu bertentangan dengan UUD 1945 yang mengepankan asas kekeluargaaan, gotong royong, dan penguasaan negara atas aset yang menyangkut hajat hidup khalayak/publik," ujarnya.

Kepentingan minyak

Masalah lainnya, kata pengamat dari Unair Safril Mubah itu, sistem demokrasi yang ditawarkan negara-negara Barat seperti Amerika, Inggris, Prancis, dan sebagainya itu kadangkala berbenturan dengan konsep demokrasi itu sendiri (antidemokrasi).

"Bukti dari dukungan antidemokrasi adalah lahirnya rezim Hosni Mubarok selama 30 tahun, Ghadafi selama 41 tahun, atau kalau di Indonesia adalah Soeharto selama 32 tahun. Siapa pun tahu bahwa rezim yang berkuasa sangat lama akan cenderung diktator," ujarnya.

Demokrasi yang diterapkan secara antidemokrasi itu membuktikan bahwa dukungan Amerika terhadap penguasa di Timur Tengah itu bukan murni untuk demokrasi.

"Banyak kalangan menilai dukungan yang diberikan Amerika itu karena negara adikuasa itu membutuhkan minyak yang ada di Irak, Libya, dan lainnya. Intinya, Amerika membutuhkan sumberdaya alam dan sumberdaya alam yang dibutuhkan dari negara-negara Arab adalah minyak," katanya.

Senada dengan itu, penasihat Jaringan Islam Kaffah (JIK) M Sya’roni yang juga dosen FIA Universitas Islam Malang (Unisma) menilai para penguasa Timur Tengah itu memiliki karakter sama yakni represif, boneka atau kaki tangan asing, dan cenderung pada kapitalisme.

"Itu mirip pemodal di balik pemilihan kepala daerah di Indonesia, seperti pemilihan gubernur (pilgub) atau pemilihan bupati (pilbup). Jadi, mereka menjadi ’boneka’ dari Barat, sehingga boneka itu akan selalu mengikuti apa kata tuannya, padahal kalau sang tuan runtuh, maka boneka itu mirip ayam kehilangan induknya," katanya.

Bahkan, para penguasa ’boneka’ itu pun menjadikan Islam mirip tesis Marxis tentang religiusitas sebagai candu. "Artinya, Islam hanya menjadi ketakwaan spiritual, bukan ketakwaan sosial, apalagi ketakwaan politik, sehingga Islam hanya ada di Al Azhar atau pesantren, tapi negaranya mengebiri rakyat," katanya.

Pandangan serupa juga datang dari koordinator Lajnah Pengusaha DPD I HTI Jatim Ustadz Muh Taufiq NIQ. Ia mengaku tidak kaget dengan tumbangnya pemerintahan diktator oleh "people power" di Arab, karena hal itu sebenarnya sudah lama terjadi sejak Revolusi Prancis.

"Tapi, revolusi itu umumnya hanya lepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau, karena revolusi hanya berganti rezim dan bukan berganti sistem. Artinya, rezim berganti, tapi sistem demokrasi ala Barat tetap diterapkan," katanya.

Hal itu sama halnya dengan revolusi yang melepaskan mereka dari kaum feodalis seperti Spanyol atau Belanda berganti ke "cengkeraman" kaum kapitalis seperti Amerika atau Eropa, bahkan kapitalis lebih kejam karena merampok semuanya, mulai dari subsidi sumberdaya alam, film, antivirus, sepakbola, dan seterusnya," katanya.

"Kalau hanya berganti rezim, maka penguasa yang muncul adalah boneka-boneka kapitalis, tapi kalau berganti sistem dari kapitalis ke khilafah atau dari demokrasi ke syariah, maka akan lahir kemandirian," katanya.

Agaknya, revolusi di Arab seperti di Mesir, Tunisia, Libya, dan sebagainya itu hendaknya bukan hanya ganti rezim, namun harus ganti sistem, dan ganti sistem itu tentunya sistem yang sesuai dengan budaya Arab.

kompas.com Demokrasi Bukan Budaya "Arab"

Thursday, March 10, 2011

Khadafy Diultimatum agar Mundur dalam 72 Jam

Khadafy Diultimatum agar Mundur dalam 72 Jam. Kelompok oposisi dan pemberontak memberi batas waktu 3 x 24 jam kepada pemimpin Libia Moamar Khadafy untuk mundur dan meninggalkan Libia. Jika tidak, mereka akan memaksanya lengser serta mengancam akan menyeret Khadafy ke dalam banyak kasus kriminal, penganiayaan, dan pembantaian.

"Rakyat Libia akan mengejar ke mana pun Khadafy bersembunyi, kecuali dia secepatnya pergi dari Libia. Kami memberinya batas waktu 72 jam kepada Khadafy untuk segera menghentikan serangan. Kami, rakyat Libia, akan mengejarnya atas kasus penindasan, kelaparan, penganiayaan, serta pembantaian," kata Ketua Oposisi Dewan Nasional Mustafa Abdel Jalil, seperti dikutip Al Jazerra, kemarin.

Mustafa Jalil menambahkan, bagi Khadafy, lebih terhormat jika mundur daripada rakyat Libia melengserkannya. Ultimatum waktu dari pemberontak tidak akan diperpanjang. "Kami akan menunggu dan melihat apa tanggapan rezim."

Selasa lalu, stasiun televisi Libia membantah laporan bahwa pemimpin yang berkuasa selama 41 tahun itu mencoba membuat kesepakatan dengan pemberontak terkait pengunduran dirinya. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Libia menggambarkan laporan itu sebagai "omong kosong".

Namun, juru bicara oposisi Dewan Nasional di kubu pemberontak timur, yang bermarkas di Benghazi, menegaskan bahwa Khadafy benar-benar telah mengirimkan wakilnya Minggu malam lalu guna membicarakan opsi pengunduran dirinya.

Khadafy dikabarkan bersedia mundur asal diberi kekebalan hukum bagi dirinya dan keluarganya, serta jaminan atas hak memiliki harta kekayaan yang selama ini dimilikinya bersama keluarga.

Namun, jika benar itu yang diinginkan Khadafy, Amerika Serikat menolak mentah-mentah apa pun bentuk amnesti untuknya. "Pergi dari Libia tak akan membuat Khadafy dan keluarganya lepas dari tanggung jawab atas apa yang terjadi," kata PJ Crowley, Juru Bicara Gedung Putih, Rabu.

Sementara itu, pasukan loyalis Khadafy dilaporkan mendekati Kota Zawiyah yang dikuasai pemberontak. Mereka mengepung kota itu dengan tank dan penembak jitu di taman utama.

"Kami melihat tank di mana-mana," kata seorang pemberontak melalui telepon dari Zawiyah, kota yang dikuasai pemberontak dan paling dekat (40 km arah barat) ke ibu kota Tripoli.

"Mereka mengepung taman itu dengan para penembak jitu dan tank. Situasi tidak terlalu baik. Sangat mencekam. Banyak penembak jitu," kata seorang penduduk.

Sikap ragu dari masyarakat internasional terhadap krisis Libia dimanfaatkan kelompok loyalis menghentikan gerak maju pemberontak di timur dan daerah lain, seperti di Kota Zawiyah dan Misrata di barat.

Anggota pemberontak di Zawiyah, Ibrahim, mengatakan, pasukan loyalis menguasai jalan utama dan daerah pinggiran kota, sementara pasukan pemberontk masih menguasai taman itu berhadapan dengan musuh sekitar 1.500 meter. Ibrahim mengatakan, para penembak jitu berada di atap sebagian besar gedung-gedung, menembak siapa pun yang berani meninggalkan rumah mereka.

"Banyak yang mati dan mereka tidak segera dikuburkan. Zawiyah lengang. Tidak ada seorang pun di jalan. Tidak ada binatang bahkan burung di langit," katanya.

Seorang juru bicara kelompok oposisi mengatakan, pasukan loyalis menguasai sebagian besar Zawiyah, tetapi masih ada kelompok-kelompok kecil pemberontak. "Mungkin 30-40 orang yang bersembunyi di pinggir jalan-jalan dan di lokasi pekuburan. Mereka putus asa," katanya di Tripoli.

Wartawan asing dilarang memasuki Zawiyah, kota-kota lainnya dekat ibu kota itu tanpa satu pengawalan resmi. Jumlah korban yang meningkat, ancaman kelaparan, dan masalah pengungsi, meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan di sejumlah negara. Presiden AS Barack Obama menghadapi banyak kecaman karena terlalu hati-hati.

"Kami ingin melihat masyarakat internasional mendukung zona larangan terbang," kata Hillary kepada stasiun televisi Sky News. "Saya kira itu sangat penting bahwa ini bukan satu usaha yang dipimpin AS."

Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang berbicara dengan Obama melalui telepon tentang zona larangan terbang itu, mengemukakan kepada radio Inggris, BBC, bahwa rencana itu penting apabila Khadafy menolak mundur dalam menghadapi pemberontakan rakyat.

Sementara itu, sebuah laporan menyebutkan, sekitar 30.000 pengungsi dari Libia ke Tunisia hilang. Diduga, mereka dihadang tentara bayaran Khadafy dan dipaksa kembali ke Tripoli untuk bekerja.

Menurut Ibrahim Osman dari organisasi bantuan kemanusiaan Bulan Sabit Merah, sekitar 30.000 orang berkumpul di perbatasan antara Libia dan Tunisia di Ras Ajdir, Ahad lalu. Mereka adalah para pekerja migran asal Bangladesh, Mesir, dan negara Afrika lainnya. (AP/BBC/CNN/Adi)

suarakarya-online.com Khadafy Diultimatum agar Mundur dalam 72 Jam

Monday, March 7, 2011

ini dia produk demokrasi US | 30 Persen Perempuan Pernah Melakukan Seks Anal

Hubungan seks melalui dubur atau seks anal tidak hanya populer di kalangan kaum gay, tetapi juga pada pasangan heteroseks. Penelitian terbaru menunjukkan, 1 dari 3 perempuan masa kini pernah melakukan seks anal dengan pasangan prianya.

Data terbaru ini menunjukkan bahwa hubungan seks konvensional yang hanya melibatkan penis dan vagina mulai dianggap membosankan. Pasangan heteroseks mulai mencari alternatif yang biasanya hanya dilakukan kaum gay alias laki-laki homoseks, yakni seks anal.

Selain seks anal, seks oral yang melibatkan kontak antara mulut dengan alat kelamin juga makin populer di kalangan heteroseks. Dari 13 ribu lebih responden usia dewasa, 90 persen laki-laki dan 89 persen perempuan pernah melakukan kontak seksual melalui mulut.

"Tidak mengherankan, sebab seks oral sejak lama dilakukan pasangan heteroseks sebelum melakukan hubungan seks yang sesungguhnya yakni antara penis dengan vagina," ungkap Debra Lynne Herbenick, ahli reproduksi dari Indiana University seperti dikutip dari MensHealth.com, Senin (7/3/2011).

Mengenai hubungan seks sesama jenis atau homoseks, penelitian mengungkap bahwa perempuan 2 kali lebih sering melakukannya. Sekitar 12,5 persen responden perempuan adalah lesbian, 5,2 persen laki-laki adalah gay, sementara 3,5 persen perempuan dan 1,1 persen laki-laki adalah biseksual.

Temuan ini terungkap dalam hasil penelitian terbaru yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) baru-baru ini. Data diolah dari survei terhadap 13.500 responden laki-laki dan perempuan berusia 15-44 tahun di Amerika Serikat, antara tahun 2006-2008.

vivanews.com 30 Persen Perempuan Pernah Melakukan Seks Anal

Tuesday, February 1, 2011

Ikhwanul Muslimin Terus Menyodok Mubarak

Ikhwanul Muslimin Terus Menyodok Mubarak. Ikhwanul Muslimin (IM) memimpin oposisi publik terhadap Partai Demokratik Nasional berkuasa pimpinan Presiden Hosni Mubarak, yang telah berkuasa sejak 1981. Mampukah IM menaklukan Mubarak sekaligus AS dan Barat?

Sejak awal gerakan reformasi Kairo, Ikhwanul Muslimin telah menuntut Presiden Mesir Hosni Mubarak mengundurkan diri. IM meyakinkan puluhan ribu pengunjuk rasa di seluruh negeri Mesir turun ke jalan dalam sepekan terakhir ini.

Kelompok Ikhwanul Muslimin yang sebelumnya enggan menampakkan diri, mulai unjuk gigi dan mencari kolaborasi dengan tokoh oposisi Mohammed Elbaradei. "Seluruh elemen pemerintahan termasuk presiden, partai dan anggota parlemennya harus membubarkan diri," demikian pernyataan Ikhwanul Muslimin, kemarin.

Sejak protes dimulai pekan lalu di Mesir, tercatat 140 orang tewas. Umumnya korban tewas akibat bentrokan antara pengunjuk rasa dan pihak kepolisian. Aksi kekerasan sebelumnya juga sempat berlangsung di Suez, Alexandria dan kota-kota besar lainnya.

Pihak berwenang Mesir menutup internet dan layanan ponsel di negara itu sejak pekan lalu dan memberlakukan jam malam di kota-kota besar. Para aktivis IM dari kalangan mahasiswa dan kelas menengah umumnya mahir menggunakan internet dan media elektronik lainnya.

IM mengajukan kandidat Mohamed ElBaradei sebagai calon pengganti Mubarak. Mantan kepala International Atomic Energy Agency (IAEA) berusia 68 tahun ini kembali ke Mesir pada 2010 setelah perjalanan karirnya berhasil membuat ElBaradei mendapatkan Hadiah Nobel bidang perdamaian pada 2005.

Sebagai seorang pengacara, ia memilih terjun ke dunia politik karena menganggap Mesir membutuhkan perubahan total. Pria ini juga dengan tegas meminta Presiden Hosni Mubarak turun untuk mengakhiri otoritas militer. Elbaradei memperoleh dukungan IM karena dianggap paling kredibel dan kapabel.

Ikhwanul Muslimin, atau al-Ikhwan al-Muslimun, Mesir adalah organisasi Islam tertua dan terbesar di negara itu. Didirikan oleh Hassan al-Banna pada 1920, kelompok ini telah mempengaruhi gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia dengan modelnya aktivisme dan intelektualisme politik yang dikombinasikan dengan kegiatan amal saleh Islam.

Gerakan ini awalnya ditujukan hanya untuk menyebarkan moral Islam dan kebajikan serta kesalehan, tetapi kemudian terlibat dalam politik, khususnya berjuang untuk menyingkirkan kontrol kolonial Inggris di Mesir dan membersihkan semua pengaruh Barat di negeri firaun itu.

Ikhwanul Muslimin menyatakan bahwa mereka mendukung prinsip-prinsip demokratis. Slogan mereka yang paling terkenal, digunakan di seluruh dunia, adalah: "Islam adalah solusi".

Pada akhir 1940-an, grup ini diyakini memiliki sebanyak dua juta pengikut di Mesir. Dan pada periode yang sama ide-ide yang telah menyebar di seluruh dunia Arab. Al Banna juga menciptakan sayap paramiliter, Special Apparatus, yang bergabung dengan perang melawan pemerintahan Inggris.

Pemerintah Mesir membubarkan kelompok tersebut pada tahun 1948-an karena dianggap menyerang kepentingan Inggris dan Yahudi. Segera setelah itu, kelompok itu dituduh membunuh Perdana Menteri Mahmoud al-Nuqrashi.

Kali ini IM yang tak dikehendaki AS/Barat itu, mampu mendesakkan perubahan di Mesir, yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan Israel maupun AS/Barat. Menlu AS Hillary Clinton terang-terangan menegaskan AS tak menghendaki IM dan Islam radikal lainnya berkuasa di Mesir.

Karena itu, diperlukan kecerdasan dan kecakapan politik IM untuk meyakinkan AS/Barat dan Israel bahwa jika kelak mereka berkuasa pasca Mubarak atau menang dalam pemilu mendatang, hal itu sah dan harus dihormati AS/Barat dan Israel sebagai konsekuensi logis dari demokrasi itu sendiri.

Bukankah menang kalah dalam demokrasi itu biasa saja? Ataukah memang AS/Barat dan Israel paranoid dan phobia terhadap Islam politik yang diusung Ikhwanul Muslimin? Mungkin proses perubahan di Mesir kelak menyediakan jawabannya.

inilah.com Ikhwanul Muslimin Terus Menyodok Mubarak

Saturday, January 8, 2011

Pengakuan Palestina Merdeka oleh Cile Bikin Israel Marah

Pengakuan Palestina Merdeka oleh Cile Bikin Israel Marah. JERUSALEM--Pengakuan Cile terhadap kemerdekaan Palestina dipandang "tidak berguna" dan tidak akan membantu proses perdamaian, kata seorang pejabat senior Israel kepada AFP pada Sabtu. "Hal itu merupakan langkah sia-sia dan tidak penting karena tidak akan mengubah apapun," kata pejabat itu sehari setelah Cile mengumumkan pengakuannya atas kemerdekaan negara Palestina, mengikuti jejak yang dibuat oleh beberapa negara Amerika Latin lainnya.

Pemerintah Cile pada Jumat mengumumkan sebuah resolusi pengakuan terhadap keberadaan Palestina sebagai negara bebas, merdeka, dan berdaulat, kata Menteri Luar Negeri Alfredo Moreno di Santiago. Akhir tahun lalu, Brazil, Argentina, Bolivia dan Ekuador mengakui Palestina sebagai sebuah negara merdeka dengan batas wilayah menurut perbatasan yang ditetapkan pada 1967.

Ketentuan perbatasan tersebut dibuat sebelum Israel menduduki Tepi Barat, termasuk Jerusalem timur dan Jalur Gaza pasca Perang Enam Hari pada Juni 1967. Dalam pidato menyambut Tahun Baru, Presiden Palestina Mahmud Abbas mendesak komunitas internasional untuk menggagas rencana jalan damai yang baru menyusul serangkaian langkah diplomatik AS yang gagal melobi Israel untuk membekukan pembangunan permukiman warga Yahudi di wilayah yang menjadi tuntutan Palestina.

"Pengakuan Cile, seperti halnya beberapa negara Amerika Latin lain, tidak akan mendorong Palestina untuk bernegosiasi," kata pejabat Israel itu. "Sedikitpun hal itu tidak akan membantu proses perdamaian," kata pejabat yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Namun ia menekankan bahwa Cile memang tidak menyinggung masalah rumit tentang perbatasan negara Palestina dan meminta agar pembicaraan damai Palestina - Israel dimulai kembali.
"Santiago telah menunjukkan realita dan rasa tanggung jawab dengan menyampaikan posisi yang dekat dengan kami," katanya.

Batas-batas wilayah negara Palestina adalah masalah yang paling rumit dalam negosiasi damai kedua pihak. Pembicaraan langsung antara kedua pihak, yang pertama dilakukan dalam dua tahun terakhir, dimulai pada 2 September namun terhenti setelah habisnya masa pembekuan pemukiman Yahudi tiga pekan kemudian.

republika.com Pengakuan Palestina Merdeka oleh Cile Bikin Israel Marah

Tuesday, January 4, 2011

Wow.. Inggris Negara Pemimpin Perkembangan Pasar Ekonomi Syariah

Inggris tidak hanya dikenal dengan kompetisi Liga Primer-nya yang mendunia. Negeri David Beckham itu ternyata juga merupakan salah satu negara pemimpin dalam perkembangan pasar ekonomi syariah.

Seperti dikutip Guardian, sejumlah kebijakan yang melenggangkan pajak dan ketentuan yang terkait dengan aturan Islam merupakan aturan biasa di London. Bahkan 2010 lalu, sebuah perusahaan berbasis teknologi inovatif di negara tersebut menjadi perusahaan pertama di Inggris yang tumbuh dengan aturan ekonomi dalam Islam yakni melalui sukuk.

Inggris juga yang pertama membuka bursa saham syariah. Langkah mereka diikuti Bursa Saham Bombay yang kini telah membuka indeks perusahaan baru yang sesuai dengan hukum legal dalam Islam. Hal ini terkait banyaknya komunitas Muslim di negara tersebut yang mencoba peruntungan di bursa saham. Jumlahnya mencapai 140 juta jiwa.

Meski begitu, jumlah bank syariah dan produk ekonomi retail lainnya belum bernasib mujur di Inggris. Bahkan, sejumlah pendiri bank syariah menggambarkan pasar sebagi sebuah kegagalan besar. republika.co.id

Wednesday, December 1, 2010

Pimpinan Rabi Internasional Panik: Islam Mulai Menguasai Eropa

JERUSALEM - Salah satu tokoh  dari komunitas Yahudi internasional, Rabi David Rosen, telah memperingatkan bahwa Eropa dalam risiko besar: "dikuasai" oleh Islam. Satu-satunya cara untuk melepaskannya, kata dia, "Eropa harus menenemukan kembali akar Kristen."

Berbicara kepada wartawan pada pertemuan di Yerusalem, Rabi Rosen, direktur urusan antar-agama di organisasi Yahudi Amerika yang berbasis di Washington, American Jewish Congress, ia mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat sekuler dan liberal Eropa Barat berada di bawah ancaman oleh cepatnya pertumbuhan masyarakat Islam yang tidak ingin mengintegrasikan dengan tetangga mereka.

"Saya menentang dinding pembatas. Kemanusiaan adalah komponen saya yang paling penting. Tapi masyarakat Barat sangat jelas tidak memiliki identitas yang kuat. Saya ingin orang-orang Kristen di Eropa untuk menjadi lebih Kristen ... mereka yang tidak memiliki identitas yang kuat mudah dikuasai oleh orang-orang yang melakukannya," kata rabbi.

"Saya rasa ada kesempatan cukup baik bahwa cucu Anda, jika mereka bukan Muslim, harus kembali memiliki iman Katholik yang kuat," katanya kepada seorang reporter Italia. "Saya tidak berpikir identitas semacam ini cukup kuat untuk menantang."

Pandangan Rabi Rosen didukung oleh sejumlah komentator Yahudi, yang melihat pertumbuhan demografi Muslim di Eropasejalan dengan pertumbuhan demografi Arab di Israel.

"Anda memiliki masalah yang Anda tidak melihat. Anda cinta dengan ide multibudaya, tapi Anda tidak memahami Arab. Dalam era liberalisme, bagaimana Anda melindungi diri ANda dari kontrak (dengan Islam)?" kata Moti Cristal, negosiator Israel dan konsultan penyelesaian konflik sektor swasta di Nest Consulting.

Nachman Shai, seorang anggota parlemen partai Kadima di Israel, mencatat bahwa identitas Eropa Barat terancam oleh kelompok-kelompok Islam radikal.

"Jika Anda mengikuti arus utama di dunia Arab, dan Anda semua memiliki komunitas Muslim di negara Anda sendiri sekarang ini dan Anda membaca tentang perkembangan terkini, Anda dapat melihat bahwa Muslim kini berjalan ke arah ekstrem, tidak ke ke arah kompromi. Mereka memperjuangkan tradisi mereka sendiri. Mereka menjaga cara mereka sendiri dan mereka menjadi lebih religius dan lebih radikal," katanya.

Ia menjelaskan bahwa Israel dikelilingi oleh militan Islam, membentang dari Iranhingga Suriah, dari Hizbullah di Libanon hingga Hamas di Gaza.

Ia juga meminta Eropa mencermati Turki yang kini "bergerak ke kanan". Ia mengingatkan pada ambisi Perdana Menteri Recep Tayip Erdogan untuk menjadi pemimpin baru dunia Muslim.

"Suriah adalah link lain poros kejahatan, yang dimulai di Iran, berjalan melalui Lebanon dan kemudian sayangnya, suatu hari, Turki juga," tambah  Shai. republika.co.id

Saturday, November 27, 2010

Ketakutan Terhadap Islam Embrio Lahirnya Sentimen atas Warga Muslim Prancis

Tragedi 11 September turut mempengaruhi perspektif masyarakat Prancis terhadap keberadaan komunitas Muslim negara itu. Perspektif yang cenderung negatif itu sejatinya telah muncul bahkan jauh sebelum tragedi berlangsung. Seperti halnya negara Eropa lain seperti Jerman misalnya, Perancis banyak didatangi imigran asal negeri Muslim. Persoalan ekonomi segera memunculkan rasa takut terhadap orang asing. Ketakutan itu segera melahirkan embrio lahirnya sentimen terhadap komunitas Muslim Perancis.

Sentimen tersebut semakin menguat saat tragedi 11 September berlangsung. Di samping itu, kondisi politik dalam negeri Perancis yang didominasi kelompok kanan garis keras menambah carut marut persepktif warga Perancis. Komunitas Muslim negara itu segera menjadi kambing hitam kekalutan yang dialami sebagian masyarakat Perancis. Aturan bernada bernada diskriminasi pun bermunculan. Salah satu yang sangat memberatkan komunitas Muslim Perancis adalah aturan untuk tidak mengenakan simbol-simbol agama.

Namun, bagi Pakar Sejarah Kontemporer sekaligus peneliti agama Universitas Strasbrough, Oissila Saaida, ketakutan terhadap islam atau Islamophobia hanya dirasakan sedikit masyarakat Perancis. Menurut dia, ketakutan yang luar biasa terhadap Islam dari masyarakat Perancis berkaitan erat dengan siklus, monumental dan kebijakan politik dalam negeri. republika.co.id

Thursday, November 18, 2010

Mesir Kembali Tangkap 600 Anggota Ikhwan Jelang Pemilu

Seorang pejabat senior Ikhwanul Muslim mengatakan pasukan keamanan Mesir telah menangkap lebih dari 600 anggotanya menjelang pemilihan parlemen bulan ini.

Muhamad Mursi mengatakan polisi melancarkan tindakan keras terhadap anggota kelompok Ikhwan setelah Ikhwan mengumumkan rencana untuk maju dalam pemilu.

Dia menambahkan bahwa sekitar 250 anggota Ikhwan masih ditahan."Penangkapan masih dilakukan. Seseorang pergi keluar untuk berkampanye, ia mendapat pelecehkan dan ditangkap dan kemudian dibebaskan dalam beberapa hari," kata Mursi, yang memimpin kampanye pemilihan kelompok Ikhwan.

Ikhwanul Muslimin - gerakan oposisi terbesar di negara itu - mengusung 134 kandidat untuk pemilihan pada 28 November mendatang.

Gerakan ini mendaftarkan mereka sebagai calon independen untuk maju dalam pemilu setelah partai-partai keagamaan dilarang maju.

Kelompok oposisi terbesar Mesir saat ini memegang seperlima dari kursi di parlemen.

Pemerintah menuduh kelompok tersebut berusaha mengambil alih negara dan pemerintah telah melewati serangkaian perubahan konstitusi dalam upaya untuk mengurangi kemampuan Ikhwan untuk berpartisipasi dalam politik.

Organisasi keagamaan-politik ini (Ikhwan) dilarang pada tahun 1954 - 26 tahun setelah berdirinya - namun terus memainkan peran penting dalam arena politik Mesir.

Dalam reaksi terhadap perkembangan terakhir di negara, tokoh oposisi terkemuka Mesir dan mantan kepala nuklir PBB Mohamed ElBaradei mengatakan bahwa Kairo tidak akan mampu mempertahankan aturan 'otoriter' nya.

"Rezim ini menjadi semakin tidak populer, semakin menyadari betapa banyak hal yang dibenci, yang paling otoriter menjadi dibenci," dikutip AFP ElBaradei mengatakan pada 30 Oktober 2010 lalu.

"Hal itu tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang, perubahan akan datang," tambahnya.

Pihak-pihak oposisi mengatakan mereka ingin reformasi demokrasi di Mesir, di mana Presiden Husni Mubarak telah menjabat selama seperempat abad pemerintahan otoriter.

Sebuah koalisi kelompok hak asasi di Mesir mengatakan tindakan keras pemerintah terhadap calon oposisi akan mencegah pemungutan suara yang adil. eramuslim.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More