cari cari ...

Showing posts with label berita sedih. Show all posts
Showing posts with label berita sedih. Show all posts

Tuesday, October 26, 2010

Mengunjungi Si Penyendiri, Saksi Jasad Hamzah Yang Abadi

Madinah - Jabal Uhud, adalah gunung yang sangat mencintai dan dicintai Nabi Muhammad. Uhud, yang artinya penyendiri, setiap tahun, diziarahi Nabi. Kebiasaan ini kemudian diteruskan para khalifah setelah Nabi wafat. Dan kini Uhud menjadi salah satu tujuan utama ziarah para jamaah haji di Madinah.


Uhud memiliki sejumlah keutamaan, maka wajarlah bila para berziarah selalu menyempatkan diri mengunjunginya. Salah satu keutamaan Uhud, Anas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad memandang ke Uhud sambil berkata, "Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang sangat mencintai kita, dan kita pun mencintainya."

Di kompleks gunung ini, jamaah antara lain ziarah ke makam para syuhada yang di dalamnya ada makam Sayidina Hamzah. Ziarah di sini, jamaah akan mendapatkan kisah bahwa jasad Hamzah tetap utuh abadi dan tidak hancur dimakan tanah. Selain makam syuhada Uhud, tempat bersejarah di kompleks ini adalah masjid al-Fash. Di masjid ini, Nabi pernah salat zuhur setelah Perang Uhud selesai.

Panas sangat terik ketika kami, beberapa wartawan Media Center Haji (MCH), tiba di Jabal Uhud. Gunung ini berjarak 4 kilometer dari Masjid Nabawi. Setelah sekitar 10 menit membelah Jalan Malik Fahd Ibn Abdul Aziz dengan naik bus, kami pun sampai di gunung yang menyimpan banyak sejarah ini.

Meski sangat panas siang itu, ratusan jamaah haji Indonesia dengan semangat mendaki sebuah bukit. Bila anda menduga bukit yang banyak didaki jamaah itu adalah Jabal Uhud, anda salah. Bukit yang tingginya 20 meter itu adalah Gunung Rumat alias gunung pemanah atau juga disebut Jabal Ainain.

Sementara Jabal Uhud, adalah bukit-bukit tinggi menjulang yang jaraknya 1 kilometer di depan Gunung Rumat.Jabal Uhud termasuk gunung terbesar di Madinah. Ia memiliki keliling 19 kilometer dan tinggi 1 kilometer dari permukaan air laut atau 300 meter dari permukaan tanah.

Umat Islam selalu mengingat nama Uhud karena di lembah gunung ini pernah terjadi perang besar antara umat Islam dan tentara Quraisy. Perang yang terjadi pada 15 Syawal 3 Hijrah atau Maret 625 Masehi itu terkenal dengan nama Perang Uhud.

Perang Uhud merupakan perang balas dendam tentara Quraisy setelah kalah dalam Perang Badar. Mereka membakar ladang gandum milik umat Islam di Jabal Uhud yang memancing kemarahan penduduk Madinah.

Dalam perang ini, Nabi mengerahkan 1.000 pasukan. Namun 300 dari pasukan itu dipimpin Abdullah ibn Abi al-Munafik membelot, sehingga pasukan Rasullah tinggal 700 orang termasuk 50 pasukan berkuda. Sementara tentara Quraisy yang dipimpin Bani Abdud Dar berjumlah 3.000 dan 200 pasukan kuda.

Dengan jumlah pasukan yang hanya sepertiga dari musuh, Nabi mengatur strategi dengan menempatkan pasukan di atas Jabal Uhud, sementara regu pemanah jitu disiagakan di Gunung Rumat. Kepada 50 pemanah jitu yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Jabir, Nabi Muhammad berkata,

"Lindungilah pasukan kuda. Jangan sampai mereka menerobos kita dan tetaplah di tempatmu, kalah atau menang, jangan sampai mereka masuk dari belakangmu,".

Dengan strategi tersebut, Nabi memperoleh kemenangan. Namun sayangnya setelah kemenangan itu, para pemanah jitu itu lupa pesan Nabi. Mereka tergoda untuk mengambil rampasan perang yang ada di bawah kaki jabal rumat. Maka saat pasukan muslim sibuk dengan rampasan, pasukan musyrikin pun menyerang balik mereka.

Perang berakhir dengan gugurnya 70 orang tentara muslim dan 22 orang kafir Quraisy. Salah satu yang gugur dari pasukan muslim adalah Hamzah, paman Nabi. Sedangkan Nabi pun terluka parah, rahangnya sampai patah. Nabi kemudian memerintahkan agar para tentara yang mati sahid atau syuhada dimakamkan di lapangan tempat terjadinya perang Uhud.

Biasanya para peziarah, akan mendatangi makam para syuhada terlebih dulu. Di sini mereka akan mendapat cerita kisah Perang Uhud. Setelah itu, para peziarah kemudian mendaki Jabal Rumat.

Ahmad Salimin, Ketua Dewan Dakwah Islam (DDI) Bekasi yang memimpin rombongan jamaah haji kloter 09 JKS berziarah ke Jabal Uhud salah satunya adalah untuk mengingat keperkasaan Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib. "Hamzah merupakan paman Rasul yang paling peduli dengan dakwah Rasullah," kata Ahmad Salimin.

Saking hormatnya kepada Hamzah, Nabi menjuluki sang paman itu sebagai Sayyid Al Syuhada atau pemimpinnya para syuhada. Nabi pun sangat berduka atas kematian Hamzah. Jenazah Hamzah disalatkan sebanyak 70 kali sebelum dimakamkan. Ia dikubur menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsyi (sepupu Nabi) di lokasi yang terpisah dengan lokasi para syuhada lainnya.

Jasad Hamzah dan para syuhada ini mendapatkan keistimewaan dibanding jenazah lainnya. Jasad mereka tetap utuh dan tidak hancur dimakan tanah meskipun telah dikuburkan. Robeh bin Maid Alhasbi, salah seorang penjaga Makam Para Syuhada, mengisahkan jasad Hamzah tetap utuh ketika ditemukan 43 tahun setelah kematiannya.

Dikisahkan, pada tahun 46 Hijriah atau 667 Masehi atau 43 tahun setelah Perang Uhud, terjadi banjir besar di sekitar Uhud. Setelah banjir itu ditemukan dua jasad yang dipercayai kuat sebagai jasad Hamzah dan Abdullah. "Dari ahli sejarah menyebutkan kedua mayat tersebut masih utuh dan segar. Bahkan ada darah segar yang menetes dari luka di tubuh Hamzah," kata Robeh.

Meski dilimpahi mukjizat, umat Islam dilarang meminta doa kepada para syuhada Uhud termasuk Sayidina Hamzah. Di Jabal Uhud dipasang papan penggumuman dalam berbagai bahasa yang salah satunya mengingatkan peziarah agar berdoa langsung kepada Allah SWT dan tidak minta safaat kepada para syuhada. Menziarahi Jabal Uhud ataupun ziarah kubur diperbolehkan untuk memperingatkan umat Islam akan kematian. www.detiknews.com

Sunday, September 26, 2010

Astaghfirullah! Densus 88 Biadab Habisi Jamaah Sedang Shalat, Dua Tewas

Medan (Arrahmah.com) - Tindakan yang dilakukan Densus 88 terhadap Khairul Ghozali bersama 4 orang jemaahnya saat shalat maghrib di Jalan Besar Medan-Tanjung Balai Asahan, dinilai sebagai tindakan yang biadab tidak berperikemanusiaan.

Pernyataan tersebut ditegaskan Adil Akhyar Al Medani, didampingi putri kandung ustadz Ghozali, Rabbaniyah (17) kepada Sumut Pos (grup Padang-Today.Com) Jumat (24/9) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Jalan Hindu Medan.


"Biadab. Saat orang shalat dihabisi, seolah-olah negera ini bukan Negara hukum. Dalam penyerangan biadab itu, dua orang jemaah itu tewas di tempat akibat ditembaki Densus 88, sedangkan seorang lagi dapat melarikan diri. Sementara itu abang saya, ustadz Ghozali itu terus dianiaya diinjak-injak densus, namun abang saya itu tetap terus shalatnya," tegas pemilik Pondok Pesantren Dakwah Daarul Syifaa.
Atas penyerangan yang tidak berprikemanusiaan itu, sambung Akhyar, diharapkan agar presiden segera meninjau dan membubarkan Densus 88 karena telah melanggar dan bertindak diluar hukum.

"Saya minta agar presiden SBY agar memperhatikan konfrensi pers ini. Jangan presiden hanya mendengarkan laporan sepihak dari Kapolri BHD. Kami juga meminta pada komisi III DPR-RI, untuk segera mngusut tuntsa kasus ini, dan segera meninjau kembali densus 88, karena sudah tidak berprikemanusiaan," tegas Akhyar.
Akhyar sendiri sudah mengetahui keberadaan abang kandungnya tersebut, ustadz Ghozali yang saat ini info yang dia terima berada di Mebes Polri.Sementara itu langkah hukum yang akan ditempuh keluarga besar Ghozali yakni sudah melamporkan kasus ini ke Amnesty Internasional.
"Saat ini kami sudah memberikan keterangan pada Amnesty Internasional, laporan tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, nah untuk keponakan saya yang masih berumur beberapa bulan yang ditahan Polres Tanjung Balai, bersama ibunya Kartini Panggabean, kami juga sudah melaporkan ke Komisi Perli Anak Indonesia," beber pria berjubah putih ini.

Akhyar juga menceritakan selamatnya Kartini Panggabean istri dari ustadz Ghozali, karena Cici (Kartini Panggabean red) berada di ruangan lain. "Namun usai penyerangan tersebut tidak berapa lama datang Polres Tanjung Balai, ke kediaman abang saya seolah-olah tidak mengetahui penyerangan tersebut.Saat itulah Kartini Panggabean bersama anaknya yang masih berumur beberapa bulan diboyong ke Polres, dengan alasan polisi untuk diminta keterangannya," terangnya.

Sementara itu salah seorang putri ustadz Ghozali, yakni Rabbaniyah, pelajar Kelas 2 SMA Kelas Muhammdiyah 18 Kampung Lalang yang turut mendampingi pamannya Adil Akhyar Al Medani, di LBH Medan Jalan Hindu Medan, berharap orangnya tuanya tersebut segera pulang kerumah untuk berkumpul bersama keluarganya.

"Saya berhaharap buya (ayah) pulang secepatnya untuk berkumpul bersama keluarga lagi.Saya yakin buya tidak bersalah untuk itu saya hanya hanya bisa menyerahkan dan berdoa pada Allah SWT," beber gadis manis berkerudung hijau ini. Walaupun, ayahnya dicap teroris oleh Densus 88, namun Rabbaniyah tetap percaya pada orang tuanya dan tetap bersemangat untuk bersekolah.

"Saya berharap kasus penganiayaan buya saya dilakukan Densus 88, saat menjalankan ibadah shalat maghrib, dapat menjadi perhatian serius dari bapak Presiden SBY, agar polisi-polisi itu segera ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku," tegas Rabbaniyah. (padang-today/arrahmah.com)

Thursday, September 16, 2010

AS di Balik Ide Pembakaran Alquran

DAMASKUS -Pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei menuduh pemerintah AS sebagai dalang di balik rencana pembakaran Alquran oleh organisasi Kristen sayap kanan pimpinan Tery Jones akhir pekan lalu. Tuduhan itu disampaikan Khamenei dalam sebuah pidato yang dilansir kantor berita Iran, IRNA.  Pidato tersebut sekaligus menjadi sikap keras Iran atas sejumlah insiden pembakaran Alquran yang berlangsung di sejumlah tempat di AS.


Dalam pidatonya, Khamenei mengatakan sebagai pemimpin dunia yang
arogan, AS telah mendalangi rencana itu. Khamenei juga sempat menyinggung keterlibatan zionis Israel yang juga mempengaruhi pemerintah AS. Dia pun meminta masyarakat tidak mudah percaya dengan tindakan pemerintah AS yang mengatakan bahwa Terry Jones telah diisolasi.

“Insiden ini dan sebelumnya secara jelas menggambarkan bahwa arogansi global yang ditunjukan AS melalui rencana menyerang fondasi utama Islam dan Alquran,” kata dia seperti dikutip dari Harian New York Post edisi online, Selasa (14/9). Di Iran, kemarahan terhadap rencana pembakaran Alquran mengundang 1.000 demonstran yang meneriakan ‘Kematian AS’ dan ‘Pastor AS harus dibunuh’.

Aksi protes yang berlangsung di depan kedutaan Besar Swiss untuk Iran sempat memicu bentrokan dengan polisi. Kedutaan Swiss merupakan sasaran empuk demonstran karena menjadi perwakilan kepentingan AS di Iran paska pemutusan hubungan diplomatik kedua negara paska revolusi Iran yang berlangsung tahun 1979.
Aksi protes bahkan membuat pemerintah India memblokir operator yang menyiarkan tayangan televisi Iran tentang rencana pembakaran Alquran. Pemblokiran itu dilakukan dengan alasan menjaga gerakan anti AS yang kini meluas dalam beberapa hari terakhir. (republika.co.id, 14/9/2010)

Pembakaran Alquran juga Terjadi di Chicago

CHICAGO- Aksi pembakaran Alquran kembali terjadi. Kali ini berlangsung di Chicago. Pihak kepolisian setempat tengah melakukan investigasi guna mengetahui pelaku aksi pembakaran Alquran yang terjadi tak jauh dari Islamic Center Chicago.


Aksi pembakaran itu diketahui setelah sejumlah remaja menemukan buku terbakar ketika berjalan menuju gedung Islamic Center. Saat mengetahui Alquran tergeletak dalam kondisi
hangus, remaja itu segera membawanya ke dalam gedung. “Kami telah menjadi korban, itu sudah pasti,” ungkap Direktur Islamic Center Chicago, Kaiseruddin seperti dikutip dari stltoday.com, Kamis (16/9).

Dia menyayangkan aksi pembakaran itu. Menurut dia, pembakaran Alquran merupakan penanda ketiadaan rasa penghargaan terhadap muslim. “Kami tidak pernah menaruh Alquran di lantai,” imbuhnya. Kaiserudin mengatakan sedari awal pihaknya selalu mengatakan kepada anak-anak untuk senantiasa menghormati Alquran dan membacanya. Setiap kali selesai membaca, cerita dia, anak-anak selalu mencium dan menaruh ditempat yang seharusnya.

Kaiserudduin, yang telah bekerja di Islamic Center selama 30 tahun mengaku salinan Quran yang dibakar bukan berasal dari Islamic Center. Dia juga tidak ingat ada seseorang yang berusaha menodai salian Alquran. Namun dia percaya, aksi pembakaran ini merupakan bentuk pemenuhan ajakan Pastor Terry Jones. (republika.co.id, 16/9/2010)

Al Quran Jadi Dibakar, pemimpin negeri yang mayoritas muslim pun terdiam

Jakarta - Al Quran jadi dibakar oleh dua pendukung Pendeta Terry Jones di Amerika Serikat, hingga detik ini Presiden SBY masih belum bersikap.

Sebagai presiden dari sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, seharusnya SBY cepat mengeluarkan sikap resmi Republik Indonesia terhadap pemerintah Amerika Serikat.
“Sebagai kepala negara Presiden SBY harusnya cepat bersikap dong, nyatakan mengutuk aksi itu dan menyampaikan protes kepada
Amerika Serikat,” ujar Wasekjen Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Syahganda Nainggolan kepada INILAH.COM, Kamis (16/9).

Aksi pembakaran Al Quran sangatlah sensitif dan menyinggung perasaan mayoritas rakyat Indonesia yang beragama Islam. Sudah sepantasnya, Presiden SBY melakukan berbagai langkah diplomatik.
“Misalnya melobi OKI (Organisasi Konferensi Islam), Vatikan, Dewan Gereja Protestan Internasional untuk mengutuk aksi tersebut dan bersatu menjaga perdamaian dunia,” ucap Syahganda.

Sebagaimana diberitakan tennessean.com dua pengikut terry Jones yaitu Pendeta Bob Old dan Pendeta Danny Allen membakar Al Quran pada Sabtu (11/9) di Springfield, Amerika Serikat di hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan awak media.

Kedua pendeta itu menyiram dua buah Al Quran dan sebuah teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, lalu menyulutnya dengan api. Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat Islam itu menjadi abu.(inilah.com, 16/9/2010)

Monday, September 13, 2010

Astaghfirullah, Usai Perobekan, Terjadi Pembakaran Alquran di Nashville

Di Nashville, negara bagian Tennessee Amerika, terjadi pembakaran Qur’an Sabtu (11/9) lalu. Dua penginjil evangelis menuang minyak dan membakar kitab suci umat Islam tersebut. Salah satu dari mereka, pengkhotbah Bob Old menyebut Islam agama palsu. Polisi tidak mengeluarkan perintah penahanan atas mereka.

Sebelumnya, sekelompok kristen konservatif Amerika melancarkan aksi merobek al-Quran di depan Gedung Putih. Satu-satunya alasan mengapa mereka tidak membakar al-Quran karena di tempat itu tak diizinkan menyalakan api, kata salah seorang dari enam aktivis kelompok itu.

Menurut mereka, serangan 11 September 2001 itu dilakukan berdasarkan
al-Quran. Kelompok itu ingin mengakhiri “cerita  bahwa Islam adalah agama yang cinta damai”. Polisi mencatat nama para aktivis namun tidak melakukan tindakan. Kelompok tersebut sengaja memasukkan potongan al-Quran ke kantung plastik “untuk tidak meninggalkan sampah”.

Sementara di Gainesville Florida, yang beberapa hari lalu menjadi terkenal akibat seruan seorang pengkhotbah konservatif Terry Jones yang menetapkan 11 September sebagai Hari Bakar Qur’an Massal, tidak terjadi apapun.

Polisi dikerahkan untuk menjaga kawasan terutama di gereja Terry Jones. Jones sudah mengatakan menyusul permintaan pemerintah Amerika, tidak jadi menjalankan rencananya membakar 200 Qur’an. (republika.co.id, 12/9/2010)

Pengacara di Australia Jadikan Halaman Quran dan Injil sebagai Kertas Rokok

 TEMPO Interaktif, Seorang pengacara di Australia, Alex Stewart melakukan tindakan provokasi. Dia menjadikan halaman Al-Quran dan Injil sebagai pengganti kertas rokok untuk dibakar kemudian dihisap. Alex merekam kelakuannya dan mempostingnya di YouTube.

Dalam video berdurasi 12 menit itu, Stewart memberi judul "Injil atau Quran, mana yang lebih baik?" Stewart yang bekerja di Queensland University of Technology terlihat memegang dua kitab suci tersebut sebelum merobeknya. Dia kemudian
melinting sobekan halaman Quran dan Injil seperti rokok.

Setelah membakar "rokok" itu dia menghirup dalam-dalam dan menghembuskan asapnya seraya mengatakan "holy".

Video ini sekarang telah dihapus dari laman YouTube, hampir sepanjang akhir pekan lalu, video ini bisa dilihat. Tindakan Stewart ini tak jauh dengan rencana pendeta Terry Jones yang menyita dunia dengan rencananya membakar Al-Quran. Belakangan, rencana Jones batal.

"Dengan segala hormat terhadap Injil dan Quran, tak perlu marah," kata Stewart. "Video ini hanyalah bercandaan, jangan anggap terlalu serius," ujarnya.

Selain berprofesi sebagai pengacara, Stewart adalah anggota kelompok ateis di Brisbane, Australia. Akibat perbuatannya ini dia dipecat dari tempatnya bekerja. Dia menyangkal tuduhan bahwa yang dia hisap adalah ganja.

"Pihak universitas sangat, sangat tidak senang dan kecewa perbuatan Stewart," kata wakil rektor Queensland University of Tehcnology, Peter Coaldrake.

Sejumlah kelompok muslik juga bereaksi. "Sebuah perbuatan yang tidak perlu, hanya menciptakan ketidakharmonisan antar agama di Australia," kata Sheik Muhammad Wahid, presiden Asosiasi Islam Australia.

Sunday, September 12, 2010

Kelompok Nasrani Konservatif Robek Al-Quran

TEMPO Interaktif Washington - Setelah pendeta Terry Jones membatalkan rencananya membakar Al-Quran, sekelompok kecil nasrani konservatif merobek beberapa lembar Al-Quran di luar Gedung Putih, Sabtu (11/9). Mereka melakukan tindakan ini sebagai bentuk protes "perayaan Islam" dalam peringatan tragedi 9/11.

"Kami melakukan ini untuk menghentikan propaganda bahwa Islam adalah agama damai, hal ini harus harus segera diakhiri," kata Randall Terry, pemimpin kelompok ini yang juga aktivis kampanye anti aborsi.

Aktivis lainnya, Andrew Beacham, membacakan beberapa lembar Al-Quran yang berisi
kebencian terhadap Nasrani dan Yahudi, kemudia dia merobek halaman dari Al-Quran berbahasa Inggris tersebut.
Setelah merobek, dia menaruh sobekan kertas itu ke dalam kantong plastik, agar tidak dituduh membuang sampah sembarangan. "Satu-satunya alasan aku tidak akan membakarnya di depan Gedung Putih karena membakar apa pun adalah tindak pidana," kata Beacham

Beacham, yang menggambarkan dirinya sebagai pemimpin Partai sayap kanan konservatif (Tea Party) dari Indiana, menambahkan: "The Twin Towers (menara WTC) dihancurkan karena Al-Quran.

Beberapa turis berhenti untuk melihat kerumunan di luar Gedung Putih ini, sementara polisi mengambil nama-nama peserta namun mereka tidak menangkap para aktivis ini.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More