cari cari ...

Showing posts with label mu'alaf. Show all posts
Showing posts with label mu'alaf. Show all posts

Tuesday, February 1, 2011

Niat Membela Muslim Antarkan Christina Rountree Memeluk Islam

Saat dua pesawat menabrak gedung WTC pada 11 September silam, Christina Rountree masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Seperti sebagian besar warga Amerika lain, ia mengaku terperangah dan marah.

"Kemudian muncul di berita bahwa itu semua dilakukan oleh Muslim. Saya pun bertanya pada teman-teman Muslim saya, 'mengapa orang-orang ini berbuat atas nama Islam. Itu agama kalian bukan?"

Christina masih ingat, teman-temannya berkata, "Mereka adalah orang-orang gila. Mereka tidak mewakili Muslim. Islam adalah agama damai."

Namun ia tidak puas dengan jawaban itu. Ia pun mulai mencari tahu sendiri tentang keyakinan tersebut. Bahkan di kampus ia bergabung dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim.

Saat mencari tahu itulah mata Christina mulai terbuka. Selama ini rupanya Christina juga tengah mencoba menentukan seperti apa kehidupannya kelak dan ia melihat bahwa informasi tentang Islam selama ini adalah salah.

Ia pun memutuskan untuk membantu warga non Muslim di Amerika untuk memahami Islam. "Mereka mendapat informasi salah dan itu mengkhawatirkan," ungkap Christina. "Saya seorang Afro-Amerika, jadi saya tahu betul rasanya dihakimi karena tampilan anda,"

Namun awalnya Christina juga ragu bila orang-orang akan mendengarkannya. Ia pun membagi keraguan itu kepada temannya, seorang Muslim.

Sang teman berkata padanya. "Well, Christina, apakah tidak lebih keren dengan memberi contoh bagaimana seorang Muslim seharusnya, dan tidak menghabiskan waktu dengan berbicara apa yang bukan Muslim.

Saat mendengar itu, Christina merasa menemukan tombol 'klik. "Entah mengapa saya merinding mendengar itu dan saya terharu. Itu momen yang sangat emosional."

Ia pun kian dalam mempelajari Islam. Hingga akhirnya ia menyatakan meyakini kebenaran Rasul Muhammad dan semua kebaikkan yang ia lakukan. Ia menyukai gagasan terstruktur yang ditawarkan Islam dan juga fakta yang ia jumpai bahwa Al Qur'an menjawab semua yang ia butuhkan.

Pada 17 November 2006, Christina menyatakan keislamannya. Ia berikrar dengan mengucapkan syahadat, bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah.

Ia merasa memeluk Islam merupakan sesuatu yang diinginkan Tuhan terhadapnya. Meski, ia mengaku, itu bukan sesuatu yang diinginkan oleh ibunya.

"Ibu saya sungguh gusar, ia mengira saya melakukan ini demi seorang laki-laki, karena selama ini saya selalu dekat dengan para pria dengan tampila Timur Tengah atau Indian," tutur Christina.

"Padahal saat itu saya tidak memiliki satu teman dekat lelaki satu pun. Jadi ia tidak bisa menggunakan kartunya," katanya. Sementara sang ayah cenderung menghormati keputusannya. "Ayah berkata, lakukan apa yang membuatmu bahagia. Lakukan apa pun yang membuat kamu berpikir telah menemukan Tuhan,"

Christina mengatakan ibunya justru kini kian dekat denganya sejak ia memeluk Islam. Bahkan ibunya juga kerap ikut saat ia pergi ke masjid.

Menjadi Muslim ia pun mengalami masa sulit dan menyakitkan. Salah satunya ketika terjdi upaya pengeboman pada sebuah maskapai di Detroit saat Hari Natal yang berhasil digagalkan. Ia menilai itu kemunduran besar bagi Muslim di mana pun.

"Bukan lagi sekedar dua langkah, itu seperti ribuan langkah mundur," ujar Christina. "Pasalnya kami baru sampai pada titik di mana anda dapat berbicara tentang Islam dalam aura positif dan bukan dianggap pengkhianat ketika anda melakukan itu."

Sebuah pengalaman dalam penerbangan kian memperburuk perasaan Christina. Tak lama setelah upaya serangan oleh seorang Muslim Nigeria, ia berada dalam sebuah pesawat yang hendak lepas landas, ketika seseorang di sebelahnya mengajak berbicara tentang topik tersebut

"Ia dan juga pilot berulang kali mengatakan, 'Para Muslim tidak seharusnya di Amerika. Saya harap mereka semua mati'. Mereka terus mengatakan itu dan itu lagi," kenang Christina.

Saat itu ia langsung paham, bahwa itulah pandangan tentang Muslim yang mungkin dimiliki mayoritas warga AS. Christina pun berharap dapat menjadi penangkal pandangan itu dengan menjadi contoh nyata.

Namun ia mengakui saat itu ia memilih diam dan tidak mengatakan bahwa ia sebenarnya seorang Muslim. Ia merasa terlalu dibebani oleh obrolan tersebut.

Pengalaman itu tak membuat ia kehilangan harapan bahwa suatu saat Amerika akan melakukan seperti yang ia lakukan, mempelajari sendiri bagaimana Islam sesungguhnya.

"Padahal warga Amerika cenderung cepat bertanya tentang segala sesuatu," ujarnya. "Anehnya tidak untuk ini (Islam-red)."

Christina menyatakan ia pun masih harus belajar banyak tentang keyakinan barunya. Saat ini ia memang tidak berjilbab karena itu bukan yang ia peroleh pertama kali. Namun ia berharap dan berdoa suatu saat ia akan mengenakan.

republika.co.id Niat Membela Muslim Antarkan Christina Rountree Memeluk Islam

Tuesday, January 4, 2011

alhamdulillah, sudah 300 orang jadi mualaf di Masjid Sunda Kelapa

alhamdulillah, sudah 300 orang jadi mualaf di Masjid Sunda Kelapa

Jelang tutup tahun 2010, Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta sudah mengislam 300 orang. Bila ditotal semenjak tahun 1993, Masjid Agung Sunda Kelapa sudah mengislamkan 16.000 orang.

Dari 16.000 mualaf sebagian kecil diantaranya merupakan para ekspatriat atau warga asing yang menetap di Indonesia.

"Alhamdulillah, berkat program dakwah yang digiatkan di masjid ini, banyak saudara-saudara baru yang mengucapkan dua kalimat syahadat," papar Kepala Bagian Pembinaan Mualaf dan Layanan Konsultasi, Masjid Agung Sunda Kelapa, Anwar Sujana kepada republika.co.id, Jumat (31/12).

Meski begitu, Anwar menilai proses mengislamkan mualaf tidak berhenti sampai pada pemberian keterangan "telah menjadi Muslim" seperti yang tertulis dalam sertifikat saja.

Lebih dari itu, masih ada tanggung jawab moril dari Masjid Sunda Kelapa untuk memberikan pembinaan kepada mualaf agar yang bersangkutan mampu menjalani dunia barunya dengan arah dan tujuan yang jelas.

"Tentu saja, mengislamkan mualaf memang mudah tapi akan mulai sulit ketika mualaf mulai menapaki hidup barunya," kata dia.

Karena itu, pihaknya senantiasa melakukan bimbingan melalui program pembinaan mualaf yang berlangsung selama 6 hari. Pembinaan dan bimbingan itu dimaksudkan memberikan fondasi yang kokoh dalam diri para mualaf.

"Menjadi mualaf sangatlah berat. Pertama tentu dia harus beradaptasi dengan agama barunya. Perlu dicatat pula, tidak semua keluarga mualaf memberikan dukungan. Belum lagi persoalan lain yang sangat berpengaruh seperti ekonomi, sosial dan budaya yang melatari kehidupan mualaf sebelumnya," kata dia.

Harus diakui, kata Ahmad, membina mualaf itu jauh lebih berat ketimbang membina pribadi yang memang dibesarkan dalam keluarga Muslim. "Di awal saya utarakan, menjadi mualaf tidaklah mudah. Beban mereka sangat berat apalagi ketika faktor minusnya dukungan keluarga atau tekanan lainnya cukup besar," katanya.

Sebagai contoh saja, papar Anwar, sudah ada paguyuban mualaf yang berada dalam pembinaan Masjid Agung Sunda Kelapa. Didirikan 31 Juli 2010, anggota paguyuban ini baru berjumlah lima orang.

Itupun hanya empat orang yang aktif.Meski begitu, Anwar, optimis paguyuban ini bersama program pembinaan yang disiapkan mampu memberikan sumbangsih terhadap peningkatan dakwah di kalangan mualaf.

Ke depan, kata Anwar, meski fokus umat Islam terhadap pembinaan mualaf masih jauh dari harapan. Pada akhirnya, umat Islam tanah air akan menaruh perhatian dalam perkembangan mualaf.

Soal itu , menurut dia, memang membutuhkan peran kesadaran dan kepedulian. "Kelak para mualaf ini akan berperan dalam mewujudkan kemajuan Islam," pungkasnya. republika.co.id

Thursday, November 18, 2010

Dalam 15-20 Tahun Mendatang, Mayoritas Penduduk Brussel adalah Muslim

Jumlah umat Muslim di Belgia pada saat ini lebih dari 600 ribu orang, menurut perkiraan terbaru atas jumlah penduduk di negeri ini, sementara data resmi diperkirakan oleh pemerintah federal hanya empat ratus ribu.


Menurut kantor berita Italia berdasarkan perkiraan, setelah hasil studi populasi yang dilakukan secara mendalam, terungkap bahwa proporsi umat Muslim di Belgia saat ini merupakan 5,8% dari populasi total penduduk Belgia.

Gelombang utama imigran dari negara-negara Muslim ke Belgia dimulai pada awal tahun 1960-an ketika perjanjian migrasi ditandatangani dengan Maroko dan Turki dan kemudian pada akhir 1960-an dengan Aljazair dan Tunisia. Berbeda dengan Belanda, Belgia tidak memiliki hubungan dengan dunia Muslim selama periode kolonial. Pada tahun 1974 Belgia menerapkan kondisi ketat masuknya tenaga kerja asing tapi tetap menjadi salah satu negara yang paling liberal di Eropa untuk kebijakan reuni keluarga.

Saat ini Belgia menempati urutan atas bersama dengan negara-negara Eropa lainnya seperti Perancis dan Swiss yang memiliki pertumbuhan umat Islamnya cukup signifikan dari tahun ketahun.

Pada distribusi geografis umat Islam di negara ini, diperkirakan bahwa proporsi di utara dan selatan Belgia sampai dengan 4% di masing-masing wilayah tersebut, tetapi mengalami peningkatan yang luar biasa di ibukota Brussels, dimana umat Islam sampai 22% dari total penduduk, namun angka yang dipublikasikan oleh beberapa surat kabar lokal menyebutkan bahwa umat Islam Brussel menempati 33% dari total penduduk.

Pengamat menegaskan bahwa estimasi ini membuka pintu kontroversial secara sosial, politik dan juga terkait dengan masalah integrasi, identitas dan kebijakan imigrasi.

Pada tahun 2008, seorang ahli sosiologi Belgia menyebutkan bahwa secara statistik menyatakan bahwa umat Islam bisa menjadi mayoritas penduduk di kota Brussel hanya dalam periode 15 sampai 20 tahun ke depan.

Pada tahun 2007, sosiolog Jan Hertogen menerbitkan statistik yang menunjukkan bahwa imigran Maroko (264.974) telah menggantikan imigran Italia (262.120) sebagai kelompok imigran terbesar di Belgia per 1 Januari 2004. Turki berada di tempat ketiga dengan 159.336 orang. eramuslim.com

Tuesday, October 26, 2010

Adik Ipar Tony Blair Masuk Islam

Adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Lauren Booth telah memeluk Islam. Ia masuk Islam setelah mengunjungi makam Fatima al-Masoumeh di kota Qom, Iran.

"Di hari saya masuk Islam, itu adalah malam Selasa. Saya duduk dan merasa ini seperti suntikan morfin spiritual. Saya merasa mendapatkan kebahagiaan mutlak dan sukacita," ujar Lauren pada The Mail.

Lauren Booth 43 tahun adalah seorang penyiar dan wartawan. Adik dari Cherie Blair (istrinya mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair). Sekarang, setiap kali meninggalkan rumahnya, ia selalu memakai jilbab dan mulai menjaga shalat lima waktu serta mengunjungi masjid setempat.

Lauren mengatakan, sekarang saya tidak makan babi dan saya membaca al-Qur'an setiap hari. Bacaan al-Qur'an saya sudah sampai halaman 60. Saya juga sudah 45 hari tidak minum alkohol, ini adalah periode terpanjang dalam 25 tahun.

Lauren menambahkan, yang aneh adalah sejak saya kuat memutuskan untuk tidak menyentuh alkohol maka sampai sekarang. Alhamdulillah, sedikitpun saya tidak pernah menginginkannya lagi. "Padahal, aku adalah seseorang yang sebelumnya selalu mendambakan segelas anggur setiap dua hari," tandasnya.

Lauren Booth yang bekerja untuk Iran's English Language Press TV News Network, memutuskan memeluk Islam enam minggu lalu setelah kembali ke Inggris. Lauren tidak menolak kemungkinan mengenakan Burqa dan berkata. "Siapa yang bisa tahu perjalanan ruhani saya akan membawa saya ke arah mana?"

Lauren menceritakan pengalamannya di Iran, yang sebelumnya telah menghabiskan banyak waktu, bekerja di Palestina, dan selalu terkesan dengan kekuatan Islam, dan Islam juga selalu memberikannya ketenangan.

Dia pergi ke Gaza pada Agustus 2008 bersama 46 aktivis untuk menyoroti blokade Israel di wilayah itu. Ia ditolak masuk Israel dan Mesir. Dalam sebuah surat yang sudah dipublikasikan, ia menulis pada Tony Blair pengalamannya selama kunjungan ke Iran bulan lalu.

Lauren menyatakan, harapannya bahwa mantan politisi Partai Buruh akan mengubah anggapan tentang Islam. "Pandangan dunia Anda, Muslim adalah orang gila, buruk, berbahaya untuk dipelajari," protesnya.

Ia juga pernah menulis dalam surat, meminta Blair (yang ketika itu masih menjabat Pendana Menteri Inggris) untuk mengakui Hari Quds Internasional. Yaitu, acara tahunan pada hari Jumat terakhir pada bulan suci Ramadhan, hari ketika kaum Muslimin menyatakan solidaritasnya untuk rakyat Palestina dan memprotes pendudukan Israil di al-Quds, Yerusalem. (Daily Jang)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More